BI Komit Kembangkan Bawang Merah di Sumut

BI Komit Kembangkan Bawang Merah di Sumut

213

Dairi-GNews: Bank Indonesia (BI) Provinsi Sumut komit untuk mengembangkan komoditas bawang merah di Sumut demi menjaga target Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) menjaga inflasi di level 4,5±1%. Karena selama ini komoditas tersebut selalu menjadi peyumbang inflasi di Sumut.

Sebagai upaya untuk menekan inflasi dari bawang merah, BI Sumut membina kelompok tani bawang merah yang produksinya diharapkan bisa menambah stok di Sumut.

“Bawang merah memang selalu mengerek inflasi karena harganya kerap bergejolak. Hal itu karena stok di pasar sering menipis. Selain menambah supply ke pasar, komitmen BI untuk membina petani bawang merah karena Sumut punya potensi besar untuk mengembangkannya. Jadi diharapkan akan mengembalikan kejayaan petani bawang merah sekaligis memenuhi stok Sumut,” kata Kepala BI Provinsi Sumut Difi A Johansyah, pada Panen Pemurnian Bawang Merah dan Penyerahan Sertifikat Kompetensi Penangkar Benih Bawang Merah, di Desa Silalahi Kecamatan Silalahisabungan Kabupaten Dairi, Selasa (17/5).

Pada panen tersebut, Kelompok Tani Tunas Muda yang merupakan binaan BI melakukan panen perdana dari lahan 1,3 hektare. Dari lahan tersebut, produksi diperkirakan sebanyak 2 ton.

Difi mengatakan, harga bawang merah saat ini sedang bagus. Karena itu, selama tidak impor, harga petaninya akan bisa terjaga karena stoknya tidak akan berlebihan di pasar. Dikatakan Difi, selama bisa mengendalikan harga bawang merah yang merupakan volatile food, maka akan bisa menjaga inflasi Sumut bahkan nasional.

Difi mengatakan, meski potensi untuk bawang merah sangat tinggi, namun tantangannya adalah belum tersedianya benih. Sebab jaminan akan benih hingga saat ini belum ada.

“Petani masih mengandalkan bibit dari luar Sumut. Padahal dulunya, Desa Silalahi ini salah satu penghasil bawang merah yang produksinya bisa dinikmati Sumut. Namun, tidak ada kata terlambat. Kami akan terus mendukung petani agar pengembangan bawang merah tidak terhenti. Apalagi ke depan ada pengembangan Kawasan Danau Toba sehingga pasar bawang merah semakin tinggi,” kata Difi.

Dia menekankan, mengembalikan bawang samosir menjadi misi besar BI di samping menekan inflasi. Karena itu, kata Difi, pengembangan bawang merah juga bekerjasama dengan pemerintah daerah (pemda). Pengembangan bawang merah memang perlu kerjakeras jika ingin berhasil. BI tentu mendukung petani karena merupakan komitmen.

Bantuan yang diberikan BI pun bukan dalam bentuk uang namun berupa benih, pupuk hingga perawatan.

Selain itu, juga didatangkan ahli bawang merah dari Jawa Tengah sehingga petani bisa membandingkan bagaimana pertanian di daerah tersebut dan dapat mengambil poin-poin penting yang bisa diterapkan di lahan pertanian bawangnya.

Bupati Dairi Johnny Sitohang Adinegoro yang diwakili Kabag Perekonomian P Gurning mengatakan, panen Kelompok Tani Tunas Muda diharapkan menjadi perangsang untuk mengembalikan kejayaan bawang merah di Desa Silalahi yang dulunya terkenal sebagai sentra bawang merah.

“Tentu sangat didukung upaya pengembangannya karena bawang merah selalu memberikan kontribusi besar pada inflasi. Selain itu, ini juga diharapkan bisa meningkatkan taraf hidup masyarakat. Karena di Dairi sendiri, sekitar 27% dari masyarakatnya masuk dalam golongan miskin,” katanya.

Dia menambahkan, petani juga didorong bagaimana mengembangkan bibit bawang merah. Sampai kemudian bisa memenuhi bibit untuk petani di Desa Silalahi dan menjadi pelopor di Dairi.

Ketua Kelompok Tani Tunas Muda Desa Silalahi Tomi Silalahi mengatakan, bantuan bibit, pupuk organik dan kimia serta tenaga ahli dari BI sangat bermanfaat bagi mereka dalam mengembangkan bawang merah di Desa Silalahi.

“Kami akan terus komit agar produksi semakin meningkat. Karena kami juga ingin berkontribusi memenuhi stok untuk Sumut,” katanya. (ayb)