Cegah Penyakit dengan Imunisasi

Cegah Penyakit dengan Imunisasi

293

GNews : Perlindungan terhadap berbagai macam penyakit diperlukan sepanjang hidup. Tidak hanya setelah anak menjelang remaja, namun juga ketika menginjak masa dewasa, bahkan usia lanjut. Imunisasi sedini mungkin pada bayi dan anak dapat mencegah penyakit tertentu menjadi berat sehingga anak terhindar dari kecacatan dan kematian.

Ada beberapa Penyakit yang Dapat Dicegah Dengan Imunisasi (PD3I), di antaranya adalah tuberkolosis, hepatitis B, polio, difteri, tetanus, pertusis, campak, diare akibat rotavirus, radang selaput otak akibat HiB atau pnemokokus, dan masih banyak lagi.

Untuk melindungi anak dari kecacatan dan kematian PD3I ini diperlukan cakupan imunisasi yang terus menerus. Artinya, jumlah anak yang diimunisasi terhadap suatu penyakit dan dampak beratnya akan bertambah. Apa-bila cakupan imunisasi menurun, akan terjadi kesenjangan dalam kekebalan komunitas.

Ketua Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) Dr dr Aman Bhakti Pulungan SpA(K) menjelaskan, untuk imunisasi, sejauh ini pihaknya terkendala beberapa masalah. Di antaranya persoalan data yang dihasilkan sejumlah lembaga menunjukkan angka yang berbeda-beda.

Selain itu, masalah keterlibatan masyarakat dalam edukasi imunisasi ini pun relatif minim. Semua usaha yang kita lakukan ini sesuai dengan rencana aksi Global Vaccine Action Plan. “Komitmen Majelis Kesehatan Dunia ini menargetkan pada 2020 mendatang tak ada seorang pun di dunia ini yang tidak divaksinasi,” ungkap dia, dalam siaran pers, belum lama ini.

Ketua Satuan Tugas Imunisasi IDAI Prof dr Cissy B Kartasasmita Msc SpA (K) PhD mengatakan, kematian balita karena penyakit sebenarnya dapat dicegah. Imunisasi diperlukan sebagai tindakan pencegahan yang dapat menjadi salah satu pilihan dalam melakukan langkah pencegahan seperti halnya imunisasi terhadap pneumonia seperti DPT, HIB, campak, dan pneumokokus.

Data lembar fakta World Health Organization (WHO) 2013 menunjukkan fakta yang sama, yakni pneumonia atau radang paru akut dinyatakan menjadi penyebab kematian terhadap sekitar 1,2 juta anak setiap tahunnya. Hal itu diartikan setiap jam-nya ada 230 anak meninggal karena pneumonia. Jumlah ini adalah 18% dari jumlah kematian anak balita di seluruh dunia.

“Angka ini melebihi angka kematian yang disebabkan oleh AIDS, malaria dan tuberkulosis,” jelas dia.

Lebih lanjut Cissy memaparkan, vaksin pneumokokus saat ini memang belum terlalu familiar. Padahal vaksin ini sangat penting khususnya bagi anak berusia di bawah dua tahun. Penyakit akibat infeksi pneumokokus merupakan masalah kesehatan masyarakat di banyak negara di dunia.

Streptococcus pneumonia ini merupakan penyebab utama penyakit pneumonia, invasive pneumococcal disease(IPD) termasuk sepsis, meningitis serta pneumonia, dan ototis media akut. Hasil penelitian mengenai IPD dan efikasi vaksin menunjukkan terjadinya 814 ribu kematian akibat pneumokokus setiap tahun pada balita di negara sedang berkembang, terutama di Asia dan Afrika.

“Untuk itu, pencegahan penyakit melalui imunisasi perlu terus ditingkatkan untuk mengurangi tingkat kejadian (morbiditas) dan kematian (mortalitas) akibat penyakit, salah satunya penyakit pneumonia,” ujar Prof Cissy.

Sementara itu, Ketua Tim Penggerak PKK Jawa Barat Netty Prasetiyani Heryawan menegaskan, imunisasi ini merupakan hak dasar anak yang harus dipenuhi. Ini bermanfaat untuk proses tumbuh-kembang anak. Selain itu, imunisasi ini pun diatur dalam UU Perlindungan Anak. rol/G04