Dalam Penyelenggaraan Kegiatan Outbound, AELI Minta Instansi Pemerintah Taat Aturan

Dalam Penyelenggaraan Kegiatan Outbound, AELI Minta Instansi Pemerintah Taat Aturan

233

gnews.online |  Instansi pemerintah di Sumatera Utara diminta menggunakan provider yang memiliki fasilitator bersertifikasi dari Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) dalam berbagai bentuk kegiatan outbound. Selain untuk menjaga standar pelayanan dan hasil kegiatan, hal ini sekaligus sebagai bentuk ketaatan terhadap peraturan yang dibuat oleh pemerintah sendiri.

“Pemerintah melalui SK Menteri Pariwisata No.11 Tahun 2015 dan Peraturan Menteri Pariwisata RI No.19 Tahun 2016 mengamanahkan bahwa pemandu outbound atau fasilitator experiential learning (Fasel) harus bersertifikasi kompetensi lewat BNSP. Kita sudah menaatinya. Maka sejatinyalah setiap instansi pemerintah juga taat akan aturan itu,” kata Ali Wardhana Ginting, Ketua Dewan Pengurus Daerah Asosiasi Experiential Learning Indonesia (DPD AELI) Sumatera Utara di Medan, Minggu (28/4).

Ali menyebutkan, sebelumnya banyak instansi pemerintah yang menggunakan fasilitator belum bersertifikasi dalam kegiatan outbound. Hal itu dapat dimaklumi mengingat aturan jelas tentang sertifikasi fasilitator kepemanduan outbound ini baru dikeluarkan tahun 2016.

“Nah, saat ini sudah ada 27 fasilitator yang dinyatakan kompeten di Sumut terdiri dari level fasilitator level muda, madya dan utama. Mereka dinyatakan kompeten setelah melewati uji kompetensi yang dilaksanakan di Medan Edufun Tuntungan 26-27 April kemarin,” terang Ali yang didampingi Sekretaris AELI Sumut Lukman Nurhakim (Bumi Outdoors) dan Bendahara Juned Iskandar (Medan Adventure).

Selain instansi pemerintah, Ali yang juga pemilik Toba Caldera Outbound ini mengimbau perusahaan swasta dan kelompok-kelompok masyarakat lainnya juga menggunakan jasa fasilitator bersertifikasi dalam memandu kegiatan outbound.

Disebutkannya, AELI selama ini sangat memperhatikan kualitas sumber daya anggotanya antara lain dengan terus melakukan pelatihan-pelatihan dan workshop agar nilai-nilai yang diinginkan customer dari kegiatan outbound, baik yang lebih bersifat recreation, maupun education, development hingga redirection bisa berhasil.

Fasel yang telah dinyatakan kompeten oleh BNSP, kata Ali, tentu saja sudah memahami standar minimal dalam menjalankan keempat program tersebut, termasuk analisa resiko bagi setiap kegiatan.

“Workshop dan Ukom yang diselenggarakan DPD AELI Sumut ini, bekerjasama dengan Lembaga Sertifikasi Profesi (LSP) Pramindo dan BNSP dengan 9 kompetensi untuk fasilitator utama, 7 kompetensi untuk fasilitator madya dan 6 kompetensi untuk fasilitator muda,” jelas Ali seraya mengungkapkan uji kompetensi ini menghadirkan asesor BNSP dari latar belakang pelaku experiential learning yakni Robby Seahan, Jepih Nurhadi dan Widhie Soekarnen.

Ali menjelaskan, pihaknya mengajak seluruh penggiat outbound di Sumatera Utara untuk bergabung bersama AELI. Termasuk para pelaku kegiatan yang mengadopsi metode experiential learning (EL).

“AELI itu bukan cuma beranggotakan kawan-kawan penggiat outbound dan outdoor, tapi juga kalangan pendidikan, kepanduan dan lainnya. Sebab AELI mengedepankan konsep EL dalam setiap kegiatannya,” ujarnya.

Sementara Lukman Nurhakim menjelaskan, sebelumnya AELI Sumut telah mengadakan workshop selama 3 hari (23-25 April 2019) di Medan Edufun yang diikuti sebanyak 50 peserta dari berbagai provider outbound Sumatera Utara, Aceh dan Sumatera Barat. Kegiatan ini dilakukan untuk menambah pemahaman para penggiat EL termasuk outbound, tentang standar kompetensi kerja nasional kepemanduan outbound.

Workshop yang sekaligus sebagai pengantar untuk kegiatan uji kompetensi tersebut mendatangkan pemateri dari DPP AELI yang juga telah bersertifikasi asesor dari BNSP yakni Kartiko Adi Pramono (Direktur Better Habit Institute) dan Yuniga Fernando (PT Pancawati).

“Alhamdulillah kawan-kawan terutama dari Sumut sangat antusias mengikuti kegiatan tersebut,” katanya seraya mengatakan bahwa kegiatan seperti ini akan diagendakan kembali mengingat masih banyaknya para pelaku outbound yang belum mendapatkan kesempatan untuk ikut serta. (koh)