Hipertensi dan Diabetes Faktor terbesar Penyebab Kerusakan Ginjal

Hipertensi dan Diabetes Faktor terbesar Penyebab Kerusakan Ginjal

303

gnews.online | Tingginya perilaku masyarakat dalam mengkonsumsi makanan cepat saji, serta malas berolahraga telah memicu tingginya penyakit Hipertensi dan Diabetes Mellitus (DM). Karenanya, Ketua Perhimpunan Nefrologi Indonesia (Pernefri) Sumut – Aceh Prof Harun Rasyid menilai, hal ini harus diwaspadai, sebab kedua penyakit tersebut merupakan penyebab terbesar dalam memicu gagal ginjal kronik.

“Penyebab gagal ginjal tertinggi di Indonesia itu dikarenakan hipertensi, sekitar 50 persen, kedua karena diabetes sekitar 27 persen. Kalau gagal ginjal karena betul-betul yang bermasalah dari ginjal itu sendiri malah hanya sekitar 13 – 15 persen saja,” ungkapnya.

Oleh karena itu, Harun memperkirakan, pada tahun 2030 mendatang, jumlah penderita ginjal bakal mencapai 21,3 juta penduduk. Padahal, di tahun 2000 lalu, jumlah penderita gagal ginjal hanya mencapai sebesar 8,4 juta penduduk saja.

“Artinya, setiap satu tahun jumlah penderita gagal ginjal naik 10 persen, atau setiap 10 tahun naik 100 persen. Inilah alasan setiap Maret pada Kamis kedua, dilaksanakan peringatan Hari Ginjal Sedunia. Tujuannya adalah menyampaikan ke masyarakat bahwa ginjal manusia saat ini terancam,” jelasn.ya.

Terus meningkatnya jumlah penderita ginjal, lanjut Harun, maka biaya pengobatan atau terapi gagal ginjal (hemodialisa) di dunia mencapai 1 triliun dolar. Sementara, BPJS Kesehatan harus mengeluarkan biaya hingga Rp 1,7 triliun hanya untuk pasien gagal ginjal yang cuci darah.

Karena itu, ia menjelaskan, agar dapat mengantisipasi atau mengenali lebih dini faktor risiko penyebab gagal ginjal, dengan cara setiap orang secara teratur memeriksakan diri dengan screening test. Hal ini berupa pemeriksaan urin lengkap dan pemeriksaan tekanan darah serta gula darah secara periodik.

“Semua ini dapat dilakukan di Puskesmas secara gratis,” sebutnya.

Prof Harun menuturkan 5 persen hingga 10 persen penyakit ginjal dimulai dari penyakit akut. Jika ditangani secara benar, penyakit ginjal akut ini bisa disembuhkan. Lain kiranya dengan penyakit ginjal kronik.

“Artinya, belum tentu orang yang sakit ginjal langsung cuci darah, hanya saja kalau dibiarkan tanpa ditanggulangi maka harus cuci darah. Ada lima tahapan atau stadium ginjal, kalau sudah stadium lima baru cuci darah,” jelasnya.

Penyakit ginjal kronis ini, sambungnya, dapat mengenai semua usia, walaupun risiko makin besar bila usianya lebih dari 50 tahun. Sebab, semakin tinggi usia, maka fungsi ginjal semakin tidak baik.

Untuk itu, agar dapat menghindari penyakit ginjal sejak dini, disarankan untuk menghindari makanan siap saji yang mengandung kalori tinggi, rajin berolahraga dan hindari kegemukan. Ia sendiri mengaku, pihaknya sudah membagikan brosur tentang menjaga ginjal di 10 titik persimpangan di kota Medan dalam memperingati Hari Ginjal Sedunia.

“Tolong atur gulamu, hipertensi dan hindari kegemukan jika mau menyelamatkan ginjalmu,” pungkasnya. (koh)