Korban Meninggal Awan Panas Sinabung Bertambah, 7 Meninggal, 2 Kritis

Korban Meninggal Awan Panas Sinabung Bertambah, 7 Meninggal, 2 Kritis

523

MDAN-GNews |

Luncuran awan panas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang terjadi Sabtu (21/5/2016) pukul 16.48 WIB kemarin, terus menambah korban jiwa. Informasi terakhir yang diterima di lapangan, 7 orang dikabarkan meninggal dunia, sedangkan dua lainnya mengalami kritis dan sedang dirawat di Rumah Sakit.

Berdasarkan perkembangan situasi terkini, Minggu (22/5), tentang terjadinya Bencana Alam Awan Panas Gunung Sinabung di Desa Gamber Kec. Simpang Empat Kab. Karo tersebut dilaporkan mengambil korban 9 orang, yakni tujuh di antaranya meninggal dunia, dan 2 lainnya mengalami luka bakar.

Identitas yang meninggal dunia yakni KARMAN MELIALA (60), IRWANSYAH SEMBIRING (17), NANIN BR SITEPU (50), LEO PERANGIN-ANGIN (25), MULIP GINTING (45), ERSADA GINTING (55) meninggal setelah beberapa saat dirawat di RSU Adam Malik Medan, dan Ibrahim Sembiring (51) dikabarkan meninggal setelah mendapat perawatan di RS Efarina Etaham Berastagi. Sedangkan yang mengalami luka bakar dan dirujuk ke Rs. Efarina Etaham Berastagi sebanyak 2 orang dengan identitas CAHAYA SEMBIRING (57), CAHAYA BR TARIGAN (45).

Sebelumnya, Kabid Darurat BPBD Kabupaten Karo, Nata Nail mengatakan, korban saat itu sedang melakukan aktivitas berkebun di ladangnya di Desa Gember yang berada dalam radius 4 km dari puncak kawah Gunung Sinabung. Harusnya daerah ini kosong karena merupakan zona merah yang semua warganya tidak boleh melakukan aktivitas.

“Padahal Desa Gember ini termasuk zona merah dan kita juga sudah pasang portal di jalur utama. Tetapi tetap saja mereka masuk. Kami menduga, warga masuk melalui jalur tikus,” ucapnya.

Menurut Nata Nail sebagian besar warga Desa Gamber telah mengungsi sejak lama dan rencana akan direlokasi mandiri. Masyarakat Gamber telah diberikan bantuan sewa lahan pertanian dan sewa rumah oleh Pemerintah agar tidak melakukan aktivitas di zona merah.

“Namun demikian ada sebagian masyarakat yang tetap nekat melakukan aktivitas pertanian di kebunnya meskipun telah dilarang aparat,” jelasnya.

Dalam peristiwa itu, beberapa rumah warga ikut terbakar akibat terkena awan panas. Ditambahkan Nata Nail, tim gabungan dibantu warga masih menyeser lokasi Desa Gamber meski erupsi masih terjadi. Mereka melakukan penyisiran karena menduga masih ada korban.

“Tim lagi sesewr wilayah, walau termasuk zona merah, kami tetap masuk ke dalam karena alasan kemanusiaan. Sekarang ini saja masih terjadi erupsi.

Aktivitas Gunung Sinabung masih tetap tinggi. Pada Sabtu (21/5/2016) telah terjadi awan panas guguran yang terjadi secara menerus pada pukul 14.28, 15.08, 16,39, dan 16.48 WIB. Awan panas guguran mencapai 4,5 km di mana mencapai Sungai Lao Borus ke arah Barat. Tinggi kolom abu vulkanik mencapai 3.000 meter. Status Awas. Potensi letusan masih tetap tinggi dan dapat terjadi kapan saja.

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan masyarakat dalam jarak 7 km untuk sektor selatan-tenggara, dalam jarak 6 km untuk sektor tenggara-timur, serta dalam jarak 4 km untuk sektor utara – timurlaut Gunung Sinabung agar dievakuasi ke lokasi yang aman. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar. (man)

Upaya yang dilakukan oleh Polres Tanah Karo bekerjasama dengan TNI dan Instansi Pemerintah (BPBD) masih melakukan Evakuasi terhadap korban dan masyarakat yang masih berada di desa Gamber untuk dibawa keluar dari Zona Merah (Zona Larangan) serta memberikan imbauan kepada masyarakat desa yang tinggal di sekitar Zona Merah/Zona Larangan untuk tidak melakukan aktivitas/memasuki Zona Larangan.(man)