Lanjutan Kasus Dana Bansos Dan Hibah Pemprovsu Lembaga Penerima Hibah Bubar Usai Terima Rp50 Juta

Lanjutan Kasus Dana Bansos Dan Hibah Pemprovsu Lembaga Penerima Hibah Bubar Usai Terima Rp50 Juta

    193

    MEDAN – GNews : Sidang dugaan korupsi dana bantuan sosial (bansos) dan hibah tahun 2012-2013 yang merugikan negara Rp1,1 miliar kembali digelar di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi (Tipikor) Medan, Rabu (20/4).

    Dalam sidang itu, Jaksa Penuntut Umum menghadirkan lima saksi yang merupakan perwakilan lembaga penerima dana hibah tahun 2012 dan 2013. Kelimanya yakni Aditya Wicaksana selaku Ketua Lembaga Ketahanan Keluarga Harapan, Ketua Pimpinan Wilayah Aisyiyah Sumatera Utara, Elnyta, Ketua Umum Pimpinan Wilayah Muslimat Al Wasliyah Sumatera Utara, Nurliati, Sekretaris Persis, Awin dan Akhyar dari Laskar Melayu Hang Tuah.

    Mereka bersaksi untuk terdakwa Edy Sofyan yang merupakan mantan Kepala Badan Kesbangpol Linmas Sumut. Dalam keterangannya, Aditya Wicaksana mengatakan jika lembaganya mendapatkan dana hibah dari Kesbangpol Linmas sebesar Rp50 juta. Dana itu ia terima pada tahun 2013 berdasarkan proposal yang diajukan lembaganya.

    “Dana itu kita buat untuk kegiatan sosial di Kelurahan Tegal Sari Mandala I Kecamatan Medan Denai. Proposalnya yang buat Juli. Ketua sebelumnya. Lembaga kami sendiri ada pada tahun 2010,” ujarnya.

    Saat ini lembaga yang pernah dinaunginya sudah bubar, tak lama setelah menerima dana hibah dan kegiatan dilakukan. Bahkan Sekretariat lembaga tersebut juga sudah tidak ada lagi. “Sekarang saya kurang tahu lagi, Buk,” ujarnya kepada JPU.

    JPU juga sempat marah karena keterangan Aditya sering berbelit dan sering melontarkan kata lupa. JPU juga bertanya rincian dana yang dibuatnya untuk mengajukan dana hibah. Menurut JPU ada keganjalan perincian dana yang tertuang dalam proposal mereka.

    “Apa wajar ada harga ember kecil Rp40 ribu?. Kami juga ingin kamu bawa lurah yang kalian sewa tempatnya sebesar Rp1juta per hari. Kalau tidak saya minta majelis mengeluarkan penetapan terhadap kamu karena memberikan keterangan bohong,” ujarnya.

    Awalnya Aditya mengaku jika dia sebagai ketua yang membuat proposal. Padahal proposal itu dibuat oleh Juli yang merupakan ketua sebelumnya.

    Saksi lainnya, Elnyta mengatakan, jika Aisyiyah Sumatera Utara pada tahun 2013 mendapat dana hibah Rp200 juta. Dana itu cair usai kegiatan dilaksanakan.

    “Kita dapat dana tapi setelah kegiatannya kita lakukan. Orang Kesbang sebelumnya ada telepon untuk menyuruh merevisi proposal, kemudian mengecek ke kantor dan akhirnya cair. Mereka tidak ada melakukan verifikasi kembali setelah dana cair,” ujarnya.

    Hal yang sama juga dikatakan Nurliati, Awin dan Akhyar. Masing-masing lembaga mereka menerima dana hibah Rp200 juta. Saat menerima dana, tim Kesbang juga tidak melakukan verifikasi kembali. “Tidak ada majelis. Mereka hanya datang sekali untuk memastikan kantor saja,” ujarnya. G03