Pasca Gempa Banjarnegara, Ada Trauma Di Balik Runtuhan Rumah

Pasca Gempa Banjarnegara, Ada Trauma Di Balik Runtuhan Rumah

110

BANJARNEGARA – gnews.online |

PASCA gempa berkekuatan 4,4 SR mengguncang Kabupaten Banjarnegara, Jawa Tengah pada hari Rabu (18/4) lalu, menyisahkan trauma bagi masyarakat yang terdampak gempa tersebut. Kalau malam datang, yang terasa hanya gelap, kumuh, dan lembab. Dalam satu tenda terpal – berwarna dasar oranye, atau biru itu – berjejal belasan keluarga.

Si nenek atau ibu berselimut kain jarik, si bapak berkemul dengan kain sarung. Semua berkumpul dalam tenda pengungsian yang sama, menghabiskan malam sembari menahan rasa takut kalau-kalau gempa datang kembali.

Hingga hari kelima pascagempa, Senin (23/4), rasa takut dan trauma masih sangat kentara di balik tenda-tenda terpal pengungsian. Jumlah pengungsi yang tercatat oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Banjarnegara, mencapai 3.506 jiwa dari 908 kepala keluarga. Dari jumlah tersebut, sebagian besar pengungsi belum mau untuk kembali ke rumah masing-masing.

korban gempa

Alasannya sederhana, gempa  Banjarnegara Rabu (18/4) lalu masih menyisakan rasa takut. Takut karena runtuhan rumah bisa saja ambruk lagi kalau gempa susulan datang.

“Ratusan rumah kondisinya mengkhawatirkan. Kebanyakan hampir rubuh karena fondasi atapnya tak kuat menahan guncangan gempa,” ujar Lukman Solehudin, Koordinator Tim Emergency Response Aksi Cepat Tanggap (ACT), mengabarkan dari Desa Kasinoman, Kecamatan Kalibening, Banjarnegara.

Empat desa, ratusan rumah rusak

Hingga Senin atau hari kelima pascagempa, pendataan kerusakan infrastruktur rumah dan bangunan umum lain masih terus dilakukan. Paling banyak dilaporkan, rumah mengalami keretakan di dinding, sampai kerusakan parah berupa ambruknya seluruh bagian atap. Selain itu, gempa Banjarnegara pun meninggalkan kerusakan di masjid dan sekolah.

Dari Posko Kemanusiaan ACT di Desa Kasinoman, Tim Emergency ResponseACT ikut turun tangan melakukan pendataan kerusakan rumah. Data terakhir hingga Jumat (20/4) kemarin, kerusakan rumah paling banyak berada di Desa Kasinoman.

“Pendataan kami, kerusakan bangunan rumah paling banyak ada di Desa Kasinoman dengan total 94 rumah rusak. Kemudian di Desa Plorengan 52 rumah rusak, lalu di Desa Kertosari 44 rumah rusak, dan terakhir di Desa Sidakangen 11 rumah dilaporkan rusak,” jelas Lukman.

Selain rumah, pendataan pun dilakukan untuk menghitung berapa musala dan masjid yang terdampak pascagempa. Lukman mengatakan, data sementara yang ia pegang mencatat ada 4 (empat) masjid di empat desa yang perlu direnovasi.

“Masjid dengan kerusakan paling parah sampai atapnya ambruk ada di Kasinoman. Temboknya sudah tidak ada, tinggal runtuhan,” ujar Lukman.

Sementara itu, Lukman mendata sejumlah sekolah di Kecamatan Kalibening juga harus memulai proses belajar mengajar di balik tenda-tenda darurat. “Kami menemukan, ada dua sekolah yang perlu direnovasi. Salah satunya, SDN 1 Kasinoman, puluhan siswa memulai sekolah Senin menggunakan tenda darurat,” pungkasnya. (rel/art)