Pembangunan Perumahan Kota Mandiri Bekala Dimulai Juli, Minat Generasi Milineal Miliki Rumah Tinggi

Pembangunan Perumahan Kota Mandiri Bekala Dimulai Juli, Minat Generasi Milineal Miliki Rumah Tinggi

68

Kota Mandiri Bekala hadirkan konsep Integrated New Township yang didukung sarana transportasi massal dan dilengkapi berbagai fasilitas di antaranya fasilitas ibadah, ekonomi, pendidikan, olahraga dan rekreasi.

gnews.online |  Sinergi PTPN II dengan Perum Perumnas melalui dua anak usahanya PT Propernas Nusa Dua (PT PND) dan PT Nusa Dua Bekala (PT NDB) yang mengembangkan konsep integrated new township “Kota Mandiri Bekala” di Deli Serdang, Sumatera Utara pada Juli 2020 segera dimulai pembangunan perumahan di kawasan tersebut seiring segera terbitnya izin mendirikan bangunan (IMB). Hingga kini minat masyarakat milik rumah yang diperuntukan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) termasuk generasi milineal cukup tinggi.

“Kota Mandiri Bekala” merupakan bukti sumbangsih dari BUMN, termasuk PTPN II kepada masyarakat yang diharapkan bisa mendorong pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejaterahan masyarakat khususnya bagi MBR miliki rumah yang layak dan memberikan harapan yang besar bagi generasi milenial membeli rumah,” kata Sekretaris Perusahaan PTPN II, Irwan SE dalam keterangannya di Medan, Sabtu (20/6/2020).

Irwan menjelaskan pada akhir tahun 2019 telah dilaksanakan launching ceremony sebagai tanda dimulainya pengembangan kawasan Kota Mandiri Bekala. Selanjutnya, pihak developer membuka nomor urut pemesanan (NUP) kepada masyarakat yang ingin membeli rumah dengan membayar sebesar Rp 1 juta di kantor marketing PT PND dengan alamat Kantor Perumnas Jalan Matahari Raya No. 313 Helvetia Medan.

Hal ini ternyata animo masyarakat cukup besar miliki rumah tersebut yang terbukti data developer perumahan Kota Mandiri Bekala menunjukkan sudah mendekati 1.500 NUP.

“Dan selanjutnya proses pembangunan diharapkan dapat dilaksanakan pada bulan Juli 2020 seiring dengan terbitnya IMB yang saat ini sedang berproses di Pemkab Deli Serdang,” imbuhnya.

Irwan menambahkan lahan yang dikembangkan untuk perumahan itu seluas kurang lebih 854 Ha terletak di Desa Simalingkar A, Desa Durin Tonggal dan Desa Namo Bintang, Kecamatan Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang – Sumut, diharapkan dapat membangun rumah sekitar 35.000 unit dengan sebagian besar diperuntukkan bagi masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) termasuk golongan milennial.

Melihat data backlog perumahan di Kota Medan dan Deli Serdang yang sebesar 340.000 unit rumah, dan dengan upah minimum kota di atas Rp 3 juta, sangat tepat menghadirkan hunian dengan harga mulai dari Rp 125 juta.

Sementara itu terkait faktor kepastian hukum, dijelaskan Irwan, lokasi pengembangan adalah milik PTPN II sesuai surat rekomendasi DPRD Sumut No. 1295/18/Sekr tanggal 25 Mei 2018 yang di antaranya menyebutkan: bahwa tanah yang diklaim masyarakat di Laucih masih termasuk HGU aktif PTPN II sebagaimana tercatat di dalam sertifikat HGU No. 171/2009; PTPN II memberikan tali asih atas pembongkaran bangunan maupun tanaman sesuai dengan ketentuan yang berlaku di lingkungan PTPN II; Proses peralihan dari HGU ke HGB di Kebun Bekala sesuai dengan fakta yang berlaku.
Sejalan dengan itu telah keluar putusan Kasasi Mahkamah Agung RI No. 5 K/TUN/2020 yang menyatakan menolak permohonan kasasi masyarakat Forum Kaum Tani Laucih atas klaim sepihak atas tanah HGU No. 171/2009 di lokasi Kwala Bekala.

“Selain itu Kementerian ATR/BPN juga telah menerbitkan HGB dengan Nomor 1938/2020 dan 1939/2020 dengan total luas kurang lebih 241 Ha sebagai dasar pengembangan di tahap pertama,” ujarnya.

 

Minat Generasi Milineal
Irwan menjelaskan dengan penawaran harga rumah yang relatif murah dengan fasilitas yang lengkap memberikan harapan yang besar bagi para generasi milenial untuk bisa mendapatkan rumah. Pasalnya, tingginya harga rumah membuat banyak generasi milenial patah arang memiliki rumah sendiri sehingga banyak fenomena sebagian besar generasi anak muda ini tidak bisa punya rumah.

Dengan laju perkembangan bisnis properti, tingginya kenaikan harga tanah di kota-kota besar seperti di Jakarta, Bandung, Surabaya dan termasuk Kota Medan membuat harga rumah yang diidamkan jadi fantastis. Apalagi, penghasilan sebagai fresh graduate yang pas-pasan, jangankan membeli properti untuk tujuan investasi, untuk keperluan hunian saja terasa mimpi.

Pada sisi lain Bank Indonesia (BI) mencatat debitur usia muda berusia 26-35 tahun saat ini lebih mendominasi pengajuan kredit pemilikan rumah (KPR) untuk tipe rumah tapak berukuran 22-70 meter persegi.

Pertimbangan paling utama millenial membeli suatu rumah adalah fasilitas di sekitar hunian yang lengkap dengan konsep one stop living. Akses yang mudah juga menjadi kunci utama bagi milenial membeli hunian.

Menurutnya, dari berbagai riset mereka tidak peduli lagi di mana lokasinya, selama akses ke transportasi publik mudah, pasti akan menarik bagi milenial.

Selain itu, millennial sudah sangat paham akan aturan sehingga faktor keamanan legal baik tanah maupun bangunan juga menjadi pertimbangan bagi mereka untuk membeli rumah.

Dan yang terakhir adalah reputasi pengembang yang terpercaya memberikan jaminan bahwa rumah yang dibeli akan dibangun dan diserah terimakan tepat waktu.
Menjawab tantangan di atas, jelas Irwan, kehadiran Kota Mandiri Bekala dengan menawarkan konsep “Integrated New Township” yang didukung oleh sarana transportasi massal dan dilengkapi berbagai fasilitas di antaranya fasilitas ibadah, ekonomi, pendidikan, olahraga dan rekreasi akan menarik minat generasi milenal untuk membeli rumah untuk tempat tinggal ataupun investasi mereka di masa mendatang. (Dev)