Rektor Unimed: Bulan Ramadhan Momentum Evaluasi Diri

Rektor Unimed: Bulan Ramadhan Momentum Evaluasi Diri

209

gnews.online |

Rektor Universitas Negeri Medan (Unimed) Prof Dr Syawal Gultom MPd dalam sambutannya pada acara buka bersama di kampus tersebut, Rabu (22/6),  mengingatkan agar memanfaatkan momentum bulan Ramadhan untuk mengevaluasi diri dan meningkatkan keimanan serta ketakwaan kepada Allah SWT.

Dalam kesempatan tersebut rektor juga mengajak umat Islam khususnya segenap civitas akademika Kampus Unimed untuk mengevaluasi diri dalam melaksanakan ibadah puasa yang sudah 16 hari dilaksanakan. Pihaknya juga berharap hendaknya kedepan puasa yang dilaksanakan lebih ditingkatkan lagi, baik itu ibadah-ibadah wajib maupun ibadah sunatnya.

“Hendaknya Ramadhan tahun 1437 Hijriyah ini lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya. Apabila masih sama dengan tahun 1436 H, maka belum ada peningkatan. Untuk itu masih tersisa 13 hari lagi, kami mengajak umat Islam berlomba-lomba memperbanyak amal ibadah di Ramadhan tahun ini,” ujarnya.

Sementara itu Al Ustadz Amhar Nasution MA, dalam tausyiahnya menyampaikan, ada 3 manfaat puasa dalam kehidupan sehari-hari salah satu diantaranya adalah membangun tali silaturrahmi di antara umat Islam.

Silaturrahmi, sebutnya berasal dari kata shilah ar-rahim dibentuk dari kata shilah dan ar-rahim. Kata shilah berasal dari washala-yashilu-wasl(an)wa shilat(an), artinya adalah hubungan. Adapun ar-rahim atau ar-rahm, jamaknya arhâm, yakni rahim atau kerabat. Asalnya dari ar-rahmah (kasih sayang); ia digunakan untuk menyebut rahim atau kerabat karena orang-orang saling berkasih sayang, karena hubungan rahim atau kekerabatan itu.

Di dalam Alquran, kata al-arhâm terdapat dalam tujuh ayat, semuanya bermakna rahim atau kerabat. Dengan demikian, secara bahasa shilah ar-rahim (silaturahmi) artinya adalah hubungan kekerabatan.

Disebutkannya, banyak nash syariat yang memuat kata atau yang berkaitan dengan shilah ar-rahim. Maknanya bersesuaian dengan makna bahasanya, yaitu hubungan kekerabatan. Syariat memerintahkan agar kita senantiasa menyambung dan menjaga hubungan kerabat (shilah ar-rahim).

Sebaliknya, syariat melarang untuk memutuskan silaturahim. Abu Ayub al-Anshari menuturkan, “Pernah ada seorang laki-laki bertanya kepada Nabi SAW, “Ya Rasulullah, beritahukan kepadaku perbuatan yang akan memasukkan aku ke dalam surga.” Lalu Rasulullah SAW menjawab: “Engkau menyembah Allah dan tidak menyekutukannya dengan sesuatu pun, mendirikan shalat, menunaikan zakat, dan menyambung silaturahmi”. (HR al-Bukhari).

Hadist ini, meskipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah perintah. Pemberitahuan bahwa perbuatan itu akan mengantarkan pelakunya masuk surga, merupakan qarînah jâzim (indikasi yang tegas).

Oleh karena itu, menyambung dan menjaga shilaturahmi hukumnya wajib, dan memutuskannya adalah haram.

Rasul SAW pernah bersabda: “Tidak akan masuk surga orang yang memutus hubungan kekerabatan (ar-rahim)”. (HR al-Bukhari dan Muslim). Sekalipun menggunakan redaksi berita, maknanya adalah larangan; ungkapan ‘tidak masuk surga’ juga merupakan qarînah jâzim, yang menunjukkan bahwa memutus hubungan kekerabatan (shilah ar-rahim) hukumnya haram.

Para ahlul-‘ilmi telah berkata, setiap orang yang mempunyai hubungan waris dengan orang lain, maka ia wajib untuk memberi nafkah kepada mereka apabila orang lain itu membutuhkan atau lemah dalam mencari penghasilan, sedangkan ia dalam keadaan mampu. Yaitu sebagaimana yang dilakukan seorang ayah untuk memberikan nafkah. Maka barang siapa yang bakhil maka ia berdosa dan akan dihisab pada hari Kiamat.

Oleh karena itu, tetap sambungkanlah tali silaturahmi. Berhati-hatilah dari memutuskannya. Masing-masing kita akan datang menghadap Allah dengan membawa pahala bagi orang yang menyambung tali silaturahmi. Atau ia menghadap dengan membawa dosa bagi orang yang memutus tali silaturahmi. Marilah kita memohon ampun kepada Allah Ta’ala, karena sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.(dev)