RSU Royal Prima Gelar Simposium dan Workshop Osteoporosis

RSU Royal Prima Gelar Simposium dan Workshop Osteoporosis

70

MEDAN – gnews.online |

Rumah Sakit Umum (RSU) Royal Prima Jalan Ayahanda Medan menggelar Simposium dan Workshop dengan topik ‘New Perspective in Osteoporosis Diagnosis Update 2019’.

Acara tersebut menghadirkan para pembicara di antaranya Prof. Dr. dr Errol Hutagalung Sp.B Sp.OT(K) dari Universitas Indonesia (UI), Prof. Dr. dr. Idrus A. Patrusi,Sp.B, Sp.OT(K) FICS dari Universitas Hasanuddin, dr Ottoman Siregar Sp.OT(K) Spine dari Universitas Sumatera Utara (USU), dr. Gunawan Tirtarahardja CCD CCT dari Faculty in InternationalSociety for Clinical Densitometry, Prof.Sharaf Ibrahim MD dari Universitas Kebangsaan Malaysia dan Dr. dr Adrian Khu Sp.OT FICS  AIFO-K dari Universitas Prima Indonesia (UNPRI).

Hadir pada acara itu, pendiri UNPRI Dr. dr. I.NyomanEhrich Lister, M.Kes, AIFM., Ketua BPH UNPRI Dr Tommy Leonard SH MKn, Rektor UNPRI Dr. Chrismis NovalindaGinting, M.Kes, Wakil Rektor II Dr. Ermi Girsang, SKM, MKes, Wakil Rektor IV dr Ali Napiah Nasution MKT, Dekan FK UNPRI dr. Linda Chiuman MKM AIFO-K, Ketua Panitia Dr. dr. Adrian Khu, Sp.OT, FICS, AIFO-K, para dokter umum dan dokter spesialis.

Dekan FK UNPRI dr. Linda Chiuman MKM AIFO-K dalam sambutannya berharap, dengan diadakannya kegiatan ini, masyarakat semakin mengenal penyakit yang dijuluki silent killer ini, serta lebih paham cara untuk mencegah dan mengobati komplikasinya.

Dikatakannya, Osteoporosis adalah penyakit tulang dimana terjadi penurunan kekuatan tulang sedemikian, hingga meningkatkan resiko patah tulang.

Dijelaskan dr Linda, kekuatan tulang dapat dinilai dari dua aspek yakni densitas tulang (kwantitas) dan kwalitas tulang. Secara umum, penyakit ini dipengaruhi oleh 80% genetik dan 20% gaya hidup dan nutrisi.

Faktor-faktor yang meingkatkan risiko untuk mengidap penyakit ini, katanya antara lain usia lanjut dengan umurlebih dari 60 tahun, wanita post-menopause, badan kurus dengan indeks massa tubuh kurang dari 19kg/m2, kurang bergerak, mengkonsumsi kopi lebih dari 3 gelas per hari, kurang terpapar sinar matahari secara langsung, kurangnya asupan kalsium dan vitamin D dalam diet sehari-hari, orang dengan kelainan fungsi ginjal dan mengkonsumsi obat-obat yang mengganggu metabolisme kalsium dan vitamin D seperti kortikosteroid dalam jangka waktu yang lama.

Penelitian menyatakan bahwa, saat ini 30% wanita berusia lebih dari 50 tahun menderita osteoporosis. Hal ini banyak membuat orang-orang salah kaprah mengenai penyakit ini.

Kaum pria katanya, juga bisa menderita penyakit ini dengan rata-rata diderita oleh pria dengan usia lebih dari60 tahun. Alasan wanita lebih gampang menderita oseteoporosis adalah karena sejak usia 45 tahun, kepadatan tulang akan berkurang 1 – 3% setiap tahunnya.

Hal ini disebabkan oleh karena hormon estrogen mulaiberkurang Estrogen berfungsi untuk menekan aktivitas dari osteoclast (sel yang menyerapsel tulang).

Meskipun demikian, hormone replacement therapy (terapi pengganti hormon) tidak dianjurkan sebagai terapi untuk osteoporosis karena terapi ini bisa meningkatkan resiko kanker payudara.

Menurunnya kepadatan tulang bukan hanya terjadi pada kaum lansia, tetapi bisa juga terjadi pada kaum muda dengan puncak kepadatan tulang berkisar pada usia 30–40 tahun.

Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor diantaranya pemakaian kronik obat glukokortikosteroid, prematureovarian failure, meningkatnya aktivitas kelenjar parathyroid, defisiensi vitamin D, osteomalacia, osteopetrosis. Anak-anak pun bisa mengalami penurunan kepadatan tulang seperti pada kondisi rikets dan osteogenesis imperfecta.

Pasien dengan osteoporosis umumnya memiliki keluhan seperti nyeri. Nyeri ini disebabkan oleh mikrofraktur yang terjadi dalam tulang. Kumpulan mikrofraktur bisa menjadikan tulang semakin rapuh dan nantinya fraktur yang lebih parah dapat terjadi.

Beberapa tulang yang mudah fraktur pada kasus osteoporosis diantaranya tulang punggung, tulang panggul dan tulang lengan. Fraktur kompresi tulang punggung bisa menyebabkan penderitanya menjadi bungkuk karena bentuk tulang punggung yang menjadi pipih.

Fraktur pada panggul merupakan fraktur dengan beban ekonomi yang tinggi karena bisa berujung pada disabilitas, membutuhkan asuhan khusus bahkan kematian. Sedangkan fraktur pada tulang lengan dapat dijadikan tanda bahwa kemungkinan di bagian tubuhyang lain telah terjadi fraktur. Seiring  dengan perkembangan teknologi, saat ini telah tersedia banyak cara untuk menunjang diagnosa osteoporosis.

Sementara itu Dr. dr. Adrian Khu  Sp.OT, FICS, AIFO-K memperkenalkan alat Echolight yang menggunakan teknologi Radiofrequency Echographic Multi Spectometry (REMS).

Menurut dr Adrian Khu, salah satu keunggulan dari alat ini adalah bebas radiasi yang menjadikan alat ini aman digunakan untuk screening, dan follow-up terapi osteoporosis jangka pendek.

Alat ini katanya, digunakan untuk mendeteksi kepadatan tulang pada tulang belakang bagian lumbar serta bagian kepala dan leher tulang femur.

Dia juga menyebutkan, penurunan kepadatan tulang adalah suatu hal yang tidak bisa dielakkan oleh orang sehat sekalipun karena seiring dengan bertambahnya usia, semakin tinggi pula risiko osteoporosis.

Banyak hal yang dapat kita lakukan untuk mencegah fraktur yang disebabkan oleh osteoporosis yaitu dengan cara memenuhi kebutuhan kalsium dan vitamin D harian, diet yang seimbang, terpapar sinar matahari langsung 15 menit setiap hari dengan minimal 40% permukaan tubuh terekspos, meningkatkan aktifitas fisik yang dapat berupa jalan cepat 100 langkah per menit selama 30 menit setiap hari, tidak merokok dan tidak mengkonsumsi alkohol, mencegah risiko jatuh contohnya dengan tidak malu menggunakan alat bantu jalan dan memastikan kamar mandi dalam keadaan kondusif untuk digunakan tanpa asistensi orang lain.

“Bagi mereka yang telah didiagnosa osteoporosis, selain melakukan pencegahan, dianjurkan untuk memulai pengobatan anti-resorptive agent untuk mengurangi risiko fraktur,” katanya.

Kegiatan yang berlangsung selama dua hari ini, ditutup dengan kegiatan workshop yang bertempat di Poli Orthopedic RSU. Royal Prima dimana peserta dapat menyaksikan secara langsung cara penggunaan alat Echolight dan para peserta berkesempatan melakukan screening osteoporosis. (dev)