Seminar Inovasi FTIK UNPRI: Bisnis Pasar Digital Miliki Tantangan Besar

Seminar Inovasi FTIK UNPRI: Bisnis Pasar Digital Miliki Tantangan Besar

41

gnews.online |

Pengguna internet di Indonesia sudah mencapai 143,26 juta jiwa dari total 260 juta jiwa penduduk yang bisa mengembangkan 5 sektor kunci ekonomi internet, seperti Online travel, Online media, Ride Hailing, E-Commerce dan Digital Financial Services.

Namun sayangnya, problem utama yang dihadapi juga sangat besar terutama sumber daya manusia (SDM), fasilitas, pasar (market), regulasi dan undang-undang serta modal.

Demikian guru besar Institut Teknologi Sepuluh November (ITS) Prof Dr Ir Budi Santoso ME pada Seminar Nasional Inovasi yang diadakan Fakultas Teknologi dan Ilmu Komputer Universitas Prima Indonesia (FTIK UNPRI) di Istana Koki Medan Jalan T Cik Di Tiro Medan, kemarin.

Hadir pada acara itu, Rektor UNPRI Dr. Chrismis Novalinda Ginting, SSiT M.Kes, Dekan FTIK UNPRI Abdi Dharma S.Kom, Staf FTIK UNPRI Winda Nia Purba dan para staf pengajar TTIK UNPRI. Seminar juga menghadirkan, Rektor Universitas Bina Sarana Informatika Dr Mochammad Wahyudi MM.M.Kom, MPd dan CEO Pak Tani Digital Yosephine Natalitha Sembiring SE.

Prof Budi Santoso menjelaskan, di era industri 4.0 ditandai dengan perkembangan Bisnis Startup di Indonesia. Sedangkan dalam revolusi industri ada 5 tantangan besar yang dihadapi saat ini antara lain, lemahnya talenta, aturan yang terlalu birokratis dan rumit, konsumen yang tidak mengetahui apa yang sebenarnya dibutuhkan, konsumen yang latah dan jaringan logistik yang tidak handal.

Sementara CEO Pak Tani Digital Yosephine Natalitha mengaku, pasar digital pertanian Indonesia masalah umum yang dihadapi sekira 26 juta petani yang didominansi oleh para petani senior berumur 35 tahun ke atas (petani tua 87,14% lebih sesuai data BPS 2015).

Ironisnya, generasi muda sudah tidak mau lagi menjadi petani muda penerus bangsa. Artinya, regenerasi petani berkisar 2% per tahun. Mereka hanyalah petani kecil dengan lahan di bawah 0,5 hektar. Sedangkan petani guram 50% lebih dan besarnya pendapatan yang didapat oleh petani sering kali tidak sanggup mencukupi untuk kebutuhan tabungan.

Menurut dia, penyebab utama rendahnya harga komoditi petani tidak mampu memberikan harga penawaran yang terbaik dari komoditinya sendiri. Rendahnya posisi tawar sering tidak mampu untuk mendapatkan supplier akan alat, bahan pertanian yang diperlukannya.

“Minimnya akses supplier naik, turunnya harga suatu komoditas tidak dapat diprediksi dengan tepat, fluktuasi harga komoditi, keterbatasan akses informasi, permodalan dan kolaborasi serta minimnya akses transporter,” jelasnya.

Dia menambahkan, kondisi penetrasi digital sudah 50% tidak dapat dipungkiri lagi bahwa teknologi dan internet menjadi kebutuhan, sehingga menciptakan peluang untuk membangun startup pertanian. Karenanya, pertumbuhan berbagai startup pertanian di Indonesia menjadi bukti bahwa pertanian sangat layak untuk diinvestasikan di masa depan.

Dekan FTIK UNPRI Abdi Dharma S.Kom mengatakaan, transformasi digital yang setiap hari makin maju dan canggih memang memiliki banyak sekali manfaat untuk perkembangan dunia bisnis saat ini. Namun, transformasi ini bisa menjadi sebuah tantangan yang cukup berarti.

“Melihat tantangan tersebut, FTIK UNPRI mempersiapkan SDM para dosen untuk menghasilkan lulusan FTIK yang handal. Karena itu, kami selalu menggelar berbagai seminar,” kata Abdi menjawab wartawan, Kamis (31/10).

Sementara itu, Rektor UNPRI Dr. Chrismis Novalinda Ginting, SSiT M.Kes menyampaikan apresiasi kepada Dekan FTIK UNPRI dan seluruh Panitia Seminar Inovasi, karena dinilai sukses dan meriah.

“Saya menyampaikan penghargaan setinggi-tingginya atas diselenggarakannya Seminar Inovasi oleh FTIK khususnya dalam mengemas acara. Saya berharap melalui acara seperti ini, nama FTIK UNPRI lebih dekat di hati masyarakat,”kata Crismis.

Ketua BPH UNPRI Dr Tommy Leonard SH MKn mengatakan, pihaknya bangga dengan kegiatan yang diselenggarakan FTIK UNPRI, untuk menghasilkan lulusan yang handal di bidangnya.

Dikatakan Tommy, UNPRI, harus mampu menghasilkan lulusan FTIK yang memiliki nilai tambah sesuai kebutuhan pasar kerja. “Artinya lulusan FTIK UNPRI yang berkarakter, kompeten, dan inovatif,” ujarnya.

Tommy berharap, melalui kajian kegiatan seminar Inovasi FTIK UNPR ini, baik dosen maupun mahasiswa, mendapatkan pencerahan dan peningkatan pemahaman, serta pengetahuan yang cukup luas dalam hal Bisnis Pasar Digital. (dev)