Sugi Prawansyah, Berbagi Walau Tanpa Materi

Sugi Prawansyah, Berbagi Walau Tanpa Materi

395

gnews.online | Fitrah manusia memiliki jiwa sosial. Besar atau kecil, jiwa sosial itu pasti ada di diri seseorang. Namun tak sedikit yang beranggapan, untuk berlaku sosial harus memiliki harta atau kemampuan finansial yang cukup atau berlebih, padahal tanpa materi itu pun kita bisa berbagi kepada orang lain.

Hal itu bisa dibuktikan oleh sekelompok pemuda di Kota Medan, yang bergabung dalam Komunitas Relawan Nusantara.  Mereka yang terdiri dari mahasiswa, guru, karyawan, bahkan profesional seperti PNS dan dokter, menyadari betapa pentingnya berbagi kepada sesama manusia meskipun yang dibagi itu bukan berupa materi.

Satu di antara yang punya filosofi sosial seperti itu adalah Sugi Prawansyah, dia adalah Koordinator Relawan Nusantara Medan – satu komunitas anak muda yang berafiliasi ke Rumah Zakat.

“Relawan tidak harus berbagi dengan materi, tapi juga dengan tenaga, pikiran, ide dan kontribusi lain,” demikian katanya, dalam satu perbincangan baru-baru ini.

“Bagi saya, menjadi relawan sangat berarti. Saya berminat menjadi relawan, karena ingin membantu meringankan duka orang yang mengalami kesusahan, misalnya para korban bencana,” ucapnya.

Sugi memaparkan soal komunitas yang dikoordinirnya. Relawan Nusantara merupakan organisasi yang fokus terhadap siaga bencana, lingkungan dan aksi sosial kemasyarakatan. Anggotanya ditempa untuk siaga bencana, membantu sesama, dan kegiatan-kegiatan sosial lain.

“Kami memiliki empat program unggulan yaitu Kampus Relawan, Pelajar Siaga Bencana, Masyarakat Siaga Bencana, dan Program Kreatif,” paparnya.

Lelaki kelahiran Sialang Pamoran, Silangkitang, Kabupaten Labuhanbatu Selatan pada 6 Desember 1993 ini mengungkapkan, dari empat program unggulan tersebut, yang paling mendapat perhatian adalah Pelajar Siaga Bencana. Dalam program ini, sasarannya adalah pelajar-pelajar SD, SMP, dan SMA.

“Setiap pekan, mkmi memberikan pelatihan kepada adik-adik pelajar di satu sekolah secara berkelanjutan, sehingga siaga bencana menjadi ekstrakurikuler di sekolah tersebut,” ungkap anak bungsu dari lima bersaudara, putra pasangan Saiman dan Mesyati ini.

Dikatakan, melalui program tersebut, para pelajar bisa memiliki bekal ilmu kebencanaan dan pencegahan. Pelajar juga bisa memberikan pemahaman tindakan yang dilakukan saat bencana.

Tak hanya itu, ketika para pelajar diberikan pengetahuan siaga bencana, mereka juga akan menyampaikan juga ke keluarganya sehingga risiko akibat bencana bisa diminimalisasi.

“Sasaran kami pelajar, karena korban terbesar saat bencana adalah saat di sekolah atau ketika proses kegiatan belajar-mengajar berlangsung,” ungkapnya.

Sugi juga bercerita tentang program Kampus Relawan, yang merupakan wadah relawan untuk berlatih seperti latihan siaga bencana dan latihan pengembangan potensi diri. Fokusnya adalah siaga bencana agar setiap relawan mempunyai pengetahuan saat diterjunkan ke lokasi bencana.

“Kami latihan sebulan dua kali,” tuturnya.

Relawan Nusantara juga bergerak aktif di wilayah-wilayah dengan potensi bencana besar melalui program Masyarakat Siaga Bencana.

Di sini, relawan memberikan pelatihan siaga bencana kepada masyarakat agar tangguh terhadap bencana. Misalnya, permukiman padat penduduk yang kerap terjadi kebakaran, maka diberikan pengetahuan tentang pencegahan dan penanganan kebakaran.

Program unggulan terakhir adalah Program Kreatif, yakni kombinasi dari kegiatan-kegiatan sosial seperti kegiatan Jumat MeNaBung (Menebar Nasi Bungkus). Sedekah nasi bungkus untuk sarapan bagi warga kurang mampu ini diberikan kepada para pemulung, gelandangan, penjual koran, dan para penyapu jalan.

Ada juga kegiatan Borong Berbagi, yaitu membantu penjual makanan keliling dan pedagang lain yang sudah tua namun semangat untuk menyambung hidup.

“Jualannya kami borong dan kami bagikan kepada masyarakat. Kami juga memberikan donasi berupa uang tambahan sebagai modal jualan,” ungkap warga Jalan Sei Bekala No. 2 Babura Medan Baru ini.

Sugi Prawansyah 2

Menurut Sugi, program-program ini dihadirkan Relawan Nusantara untuk membantu masyarakat. Sebab bencana itu bisa datang kapan saja, tanpa bisa diprediksi, seperti yang dialaminya saat mendaki Gunung Sinabung di tahun 2013.

Karena tidak membuat persiapan memadai, Sugi menderita kedinginan saat berada di puncak gunung.

“Itu perlunya mengutamakan keselamatan daripada nafsu. Pengetahuan yang kurang membuat kita bertindak tidak sesuai prosedur,” ujar mahasiswa Fakultas Ekonomi Jurusan Akuntansi Universitas Medan Area (UMA) ini.

Begitu juga saat berwisata ke Air Terjun Dwi Warna beberapa tahun yang lalu. Dalam perjalanan bersama rombongan, tiba-tiba hujan deras turun. Akibatnya, meski belum sampai ke lokasi air terjun, rombongannya terpaksa balik kanan karena hujan tidak juga berhenti.

Ternyata aliran sungai debit airnya kecil dan berubah menjadi banjir bah. Kondisi itu membuat banyak wisatawan mengalami kedinginan dan pingsan. Saat itu, ranger dan para wisatawan lain tidak ada yang bisa bertindak sehingga semua orang panik.

“Saya dan teman-teman pun mengambil tindakan dengan membuat tandu darurat dari batang pohon kecil dan sarung, untuk mengangkat korban sampai ke pos keberangkatan,” paparnya.

Dari pengalaman tersebut, Sugi pun menyampaikan betapa perlunya pengetahuan akan pentingnya ilmu kebencanaan. Karena sebagai manusia, hanya bisa mempersiapkan pengetahuan untuk tanggap bencana.

“Jika hanya membantu korban saat bencana terjadi, sudah biasa dilakukan setiap orang. Namun dengan fokus untuk pemberdayaaan kemampuan yang dimiliki, maka pengurangan risiko bencana bisa dilakukan. Untuk itu, pengetahuan tentang siaga bencana perlu dipelajari sejak dini,” pungkasnya. (koh)