Monday, November 19, 2018
Tags Posts tagged with "Dosen"

Dosen

559

MEDAN-GNews: Rektor dan Civitas Akademika Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menyatakan rasa duka yang mendalam atas berpulang ke rahmatullah seorang dosen FKIP, Nur’ain Lubis, 57 tahun, Senin (2/5).

Atas musibah ini, keluarga besar UMSU juga menetapkan libur khusus dan berkabung dua hari dengan memasang bendera setengah tiang di tiga kampus Jalan Mukhtar Basri, Kampus Pascasarjana Jalan Denai, Kampus Fakultas Kedokteran Jalan Gedung Arca mulai Selasa dan Rabu (3-4/5).

“Pimpinan dan seluruh civitas akademika UMSU menyatakan rasa duka mendalam atas musibah ini. Sebagai bentuk rasa duka, segala aktivitas perkuliahan dan administrasi di tigas kampus ditiadakan selama dua hari sebagai hari berkabung bagi keluarga besar UMSU atas jasa dan pengabdian almarhumah di UMSU,” kata Rektor UMSU Dr Agussani, MAP melalui Kabag Humas Ribut Priadi seusai rapat rektorat bersama pimpinan fakultas se- UMSU di Kampus Jalan Mukhtar Basri, Senin (2/5).

Ribut Priadi menyatakan, sivitas akademika UMSU akan melakukan takziah bersama-sama ke rumah duka di Jalan Lama, Pancur Batu, Deli Serdang dan turut bersama-sama mengantar jenazah ke pemakaman di dekat rumah duka yang rencananya dilakukan pada hari ini, Selasa (3/5), yang langsung dipimpin oleh rektor UMSU.

Menurutnya, dua hari libur dan berkabung ini ditetapkan selain dari dua hari libur nasional. Untuk itu UMSU akan mengadakan proses belajar mengajar pada hari Senin (9/5). Hingga kemarin malam kampus UMSU Jalan Mukhtar Basri berangsur normal.

Sedangkan mengenai penanganan tindak kriminal yang dilakukan terhadap almarhumah, sepenuhnya diserahkan kepada aparat kepolisian sekaligus untuk mengusut tuntas kasus tersebut.

“UMSU sejauh ini terus berkoordinasi dengan pihak kepolisian untuk mengusut tuntas dan menggali motif pelaku sehingga ke depan tidak lagi terjadi peristiwa serupa,” kata Ribut Priadi.

Dalam kesempatan itu, Ribut Priadi juga mengklarifikasi soal adanya kesalahpahaman antara mahasiswa dengan polisi. Dalam peristiwa tersebut, mahasiswa yang emosi melihat salah seorang dosen menjadi korban penganiayaan berusaha menghakimi pelaku.

“Namun tindakan tersebut dihalangi pihak keamanan kampus sampai petugas polisi melakukan evakuasi karena tidak ingin pelaku menjadi korban mahasiswa yang marah dengan tindakan pelaku,” katanya.G01

346

MEDAN-GNews: Ratusan Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) menggelar aksi keprihatinan menyusul tewasnya dosen senior, Nur Ain, yang digorok oleh mahasiswanya sendiri, Roy Mandosa. Aksi ini digelar di parkiran depan kampus utama Jalan Muhtar Basri Medan, Senin (2/5) malam.

Selain menggelar aksi keprihatinan, mahasiswa juga menunggu kembalinya tiga orang mahasiswa UMSU yang diamankan petugas kepolisian, saat terjadi bentrokan antara mahasiswa dengan pihak polisi saat mengamankan tersangka penggorok dosennya.

“Kami malam ini berkumpul disini untuk menggelar aksi keprihatinan terhadap ibu Nurain Lubis sekaligus menunggu kembalinya rekan kami yang sudah dijemput oleh Presiden Mahasiswa Ari Wahyudi bersama Wakil Rektor 3,” salah seorang mahasiswa.

Paska bentrok yang terjadi antara Mahasiswa dengan personel Kepolisian Polresta Medan sore tadi, 3 mahasiswa diamankan pihak kepolisian. Bentrok pecah setelah mahasiswa berupaya menerobos barikade polisi yang hendak mengamankan pelaku. Dalam bentrok itu polisi menembakkan gas air mata. Kondisi itu semakin memicu kemarahan mahasiswa. G02

494

MEDAN-GNews: Diduga sakit hati dan bermotif dendam seorang mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Roy Mando Sah Siregar (21) nekat menghabisi nyawa dosennya di kamar mandi kampus tersebut, saat hendak mengambil wudhu, Senin (2/5) siang.

Dengan pisau terhunus tersangka langsung menggorok leher Nur’ain Lubis (55), dosen yang juga mantan Dekan FKIP Universitas Muhamadiyah Sumatera Utara (UMSU) itu.

Disebutkan, RM merupakan mahasiswa FKIP UMSU stambuk 2013. Dari informasi yang diperoleh, pelaku beralamat Jalan Merdeka Gg Madrasah Kelurahan Ombun Kecamatan Padangsidimpuan Utara, Kota Sidimpuan.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, awalnya korban mengajar mata pelajaran mikro teaching yang tersangka juga ikut dalam mata pelajaran tersebut. Setelah selesai, korban pun kembali ke ruang dosen.

Sampai di ruang dosen, korban sempat meminta ditemani pada rekannya sesama dosen ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu guna menjalankan shalat Ashar.

“Saat ke kamar mandi, ternyata korban tak ditemani. Pelaku yang diduga sudah menunggu korban pun langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menghabisi korban,” sebut salah seorang mahasiswa yang tak ingin disebutkan namanya.

Aksi tersebut terdengar oleh salah seorang mahasiswa yang pada saat itu juga berada di kamar mandi. Sontak hal itu mengundang perhatian dari mahasiswa lain. Setelah mengetahui ada seorang dosen yang digorok oleh pelaku, mahasiswa lain langsung mengepung tersangka di kamar mandi tersebut dan menghakiminya.

Hal tersebut sempat membuat Pihak Polresta Medan kesulitan mengamankan dan mengeluarkan pelaku pengorokan mantan dekan FKIP UMSU dari kamar mandi. Kondisi ini terjadi karena mahasiswa ingin melihat pelaku. Bahkan, sebagian mahasiwa berteriak mengajak sesama mahasiswa untuk membakar pelaku pengorokan.

“Bakar saja. Nggak ada otak kau ya. Dasar setan ko,” ucap salah satu mahasiswa yang berdesak-desakan, sore ini.

Mahasiswa lainnya juga menyambut ajakan rekannya. Sebagian mahasiswa bahkan melemparkan botol air mineral ke tempat pelaku diamankan. “Woiii.. Kasih kami jalan. Niar kami benam anak itu, anak durhaka ko ya,” tegasnya.

Pelaku diamankan pihak kepolisian di dalam kamar mandi Fakultas Ekonomi UMSU. Pelaku baru bisa dikeluarkan setelah pihak kepolisian membubarkan massa dengan gas air mata.G02

1464

MEDAN-GNews: Koordinator Perguruan Tinggi Swasta (Kopertis) Wilayah I Prof Dr Dian Armanto MPd MSc PSd mengatakan, Universitas Prima Indonesia (UNPRI) saat ini sudah mengalami perkembangan yang pesat dan memiliki dosen yang rajin melakukan penelitian dan pengabdian kepada masyarakat.

“Hal ini menunjukan bahwa UNPRI sudah melaksanakan tri dharma perguruan tinggi,” kata Dian Armanto di hadapan wisudawan UNPRI, Kamis (28/4) di Gedung Medan Internasional Convention Center, Jalan Gagak Hitam (Ring-Road) Medan.

Acara tersebut dihadiri Wakil Bupati Kabupaten Nias Selatan, Pendiri UNPRI dr I Nyoman Ehrich Lister MKes AIFM, Ketua BPH UNPRI Dr Tommy Leonard SH MKn, Rektor UNPRI Prof dr Djakobus Tarigan  AAI DAAK, Wakil Rektor I UNPRI Seno Aji SPd MEng Prac, Wakil Rektor II Ermi Girsang SKM MKes, Dekan Fakultas Kebidanan dan Keperawatan Chrismis Novalinda Br Ginting MKes, Wakil Dekan Fakultas Ekonomi Henry SE MM dan  Ketua Lembaga Perencanaan dan Pengembangan Unpri yang juga Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Garda Keadilan Indonesia Yusriando SH MH.

Prof. Dian juga berharap, UNPRI harus terus memacu, memotivasi dosen-dosennya untuk meningkatkan kualitasnya.

Sebab, kata Dian Armanto, kunci meningkatkan perguruan tinggi adalah meningkatkan sumberdaya manusia yang disiplin, ramah, rajin dan meningkatkan kualitas manajemen tata kelola. Demikian juga dengan kualitas kegiatan mahasiswa yang harus menulis jurnal, kualitas penelitian dan publikasi ilmiah.

Khusus kepada wisudawan/i, Dian berharap, agar dapat memanfaatkan dan menerapkan ilmu yang telah diperoleh, serta dapat menyelesaikan masalah dan bertanggung jawab atau bisa diberi tanggung jawab.

Pada kesempatan yang sama, Rektor UNPRI Prof dr Djakobus Tarigan  AAI DAAK menyatakan, pihaknya terus melakukan pembenahan dan berusaha meningkatkan kualitas, sehingga alumni UNPRI tidak kalah bersaing dengan universitas yang ada.

“UNPRI sudah berupaya untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi sesuai bidang ilmunya,” kata rektor. G01

297

MEDAN-GNews:Kebijakan Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) yang mengizinkan masuknya dosen asing untuk mengajar dan meneliti di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) ataupun Perguruan Tinggi Swasta (PTS) mulai tahun ini, mendapat tanggapan dari sejumlah kalangan yang konsen di dunia pendidikan.

Sebab, keberadaan dosen asing di Indonesia nantinya diyakini dapat memperbaiki kualitas pendidikan khususnya di perguruan tinggi. Namun juga, keberadaan dosen asing tersebut akan menjadi tantangan bagi dosen-dosen yang kurang berkualitas

‪”Saya kira ini menarik. Dengan mendatangkan dosen-dosen asing bisa menjadi persaingan yang baik untuk ke depan. Akan tetapi, harus melalui prosedur yang ada, salah satunya izin tinggalnya sudah ada dari Disnaker (Dinas Sosial dan Tenaga Kerja),” ujar Ketua Kopertis Wilayah I Sumut-Aceh, Prof Dian Armanto‬, Selasa (26/4).

Menurut Dian, kerja sama dengan dosen luar negeri dan dosen Indonesia memang dibolehkan karena sudah ada undang-undang yang mengaturnya.‬ Misalnya, jika seorang profesor yang jadi dosen di Indonesia berasal dari luar negeri, maka salah satu syaratnya harus memiliki atau pernah menulis jurnal ilmiah yang sudah terakreditasi internasional sebagai syarat untuk bisa mengajar. Sebab, dengan begitu nantinya dosen-dosen asing itu akan membantu dosen Indonesia.

“Keberadaan dosen asing tidak akan menjadi ancaman bagi dosen lokal. Kenapa demikian, karena masa kerja dosen asing ini kan ada, bisa setahun atau dua tahun. Jadi ada kontrak yang harus ditandatangani,” jelas Dian‬.

Dia menambahkan, dosen asing tidak harus menggunakan bahasa Indonesia dalam mengajar. Karena nantinya akan diberikan pendamping sebagai penerjemah. Malahan, justru lebih baik dosen yang mengajar memakai bahasa Inggris karena bisa memotivasi mahasiswa untuk belajar.

Hal yang sama diutarakan Praktisi Pendidikan dari Universitas Negeri Medan (Unimed), M Rizal. Menurut dia, masuknya dosen asing untuk mengajar di Indonesia tentu jelas sangat membantu kemajuan di perguruan tinggi. Namun, kata M Rizal, masalahnya apakah dosen lokal mampu bertahan dan bersaing dengan dosen asing. Selain itu, ini juga menjadi tantangan dosen lokal untuk mengajar di luar negeri, apakah mereka mampu?

“Liberasasi di bidang pendidikan khususnya mengenai masuknya dosen asing tersebut merupakan suatu hal yang positif. Hal ini juga akan mendukung tingkat kekurangan dosen yang ada, baik di PTN maupun PTS,” ujar M Rizal.

Sebagai contoh, sambungnya, selama ini di setiap program studi perguruan tinggi minimal dosennya ada 6 orang. Akan tetapi, rasio dosen tersebut kenyataannya tidak terpenuhi dan hampir di perguruan tinggi swasta khususnya. Jadi, tidak ada salahnya itu dipenuhi oleh tenaga asing yang berkompeten.

“Dengan masuknya tenaga pengajar asing ke Indonesia, memang ada sisi negatif dan positifnya. Namun, ini harus disikapi positif. Negatifnya, tentu dosen lokal yang tidak berkualitas maka akan tersingkirkan,” katanya. G01