Sunday, June 7, 2020
Tags Posts tagged with "Ekspor"

Ekspor

139

Jakarta – gnews.online |

Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit neraca perdagangan sebesar USD 1,33 miliar pada November 2019. Neraca perdagangan tersebut disebabkan oleh menurunnya ekspor menjadi USD 14,01 miliar dan impor sebesar USD 15,34 miliar.

“Total impor kita pada November 2019, sebesar USD 15,34 miliar. Jadi kalau kita bandingkan dengan ekspor maka defisit kita cukup dalam sebesar USD 1,33 miliar,” ujar Kepala Badan Pusat Statistik Suhariyanto di Kantor BPS, Jakarta, sebagaimana dilansir liputan6.com, Senin (16/12/2019).

Suhariyanto mengatakan, nilai neraca perdagangan pada November disumbang oleh defisit sektor migas sebesar USD 1,02 miliar dan non migas sebesar USD 0,3 miliar. Menurutnya, melambatnya ekspor karena perekonomian global yang melambat.

“Tantangan yang kita hadapi menjadi luar biasa dan harus ekstra hati-hati. Hal ini sebagian besar disebabkan perdagangan global melambat, ekonomi global melambat. Jadi kita harus ekstra hati-hati ke depan,” jelasnya.

Secara kumulatif, nilai ekspor Indonesia Januari-November 2019 mencapai USD153,11 miliar atau menurun 7,61 persen dibanding periode yang sama tahun 2018. Demikian juga ekspor nonmigas mencapai USD 141,67 miliar atau menurun 5,71 persen.

Penurunan terbesar ekspor nonmigas November 2019 terhadap Oktober 2019 terjadi pada bijih, terak, dan abu logam sebesar USD 239,6 juta (46,78 persen), sedangkan peningkatan terbesar terjadi pada Iemak dan minyak hewan/nabati sebesar USD 131,2 juta (8,69 persen).

Menurut sektor, ekspor nonmigas hasil industri pengolahan Januari-November 2019 turun 3,55 persen dibanding periode yang sama tahun 2018, dan ekspor hasil tambang dan lainnya turun 16,35 persen. Sementara ekspor hasil pertanian naik 3,50 persen. (lip6)

343

Medan – gnews.online |

Kinerja harga komoditas yang menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia harus diwaspadai, karena harga komoditas yang masih berpotensi tertekan bisa menjadi salah satu ancaman yang menghambat capaian pertumbuhan ekonomi ke depan.

Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Kementerian Keuangan RI Rofyanto Kurniawan mengatakan, kinerja harga komoditas, inflasi dan infrastruktur diperkirakan akan membuat target pertumbuhan ekonomi nasional bisa meningkat dari 5,02 persen di tahun 2016 menjadi 5,2 persen di tahun 2017.

“Namun harus diakui, ketergantungan terhadap komoditas juga menjadi salah satu ancaman perekonomian Indonesia, karena harga yang kerap fluktuasi. Tapi komoditas memang masih jadi andalan Indonesia dalam menggenjot ekonomi di tahun 2017 ini,” katanya dalam Seminar Forum Ekonomi Kementerian Keuangan, di Medan.

Rofyanto menyebutkan, saat harga minyak mentah turun pada 2015, harga komoditas melemah sehingga menggangu pertumbuhan ekonomi di tahun itu. Karena itulah, perekonomian tahun ini memang masih harus dikawal dan kerja keras untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi di level 5,2 persen.

Dia juga menegaskan, pengawalan ekonomi secara ketat harus dilakukan secara menyeluruh sehingga bisa tetap tumbuh. Meski diperkirakan ekonomi RI tidak akan ‘kuat’ tahun 2017 ini, tapi harus tetap berupaya dan bisa mencapai target 5,2 persen.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga Regional Ekonom Kementerian Keuangan RI Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, harga komoditas sangat berpengaruh besar pada perekonomian masyarakat terutama di Sumut. Karena terbukti, harga komoditas yang kerap berfluktuasi dengan kecenderungan menurun, berdampak pada daya beli petani.

“Harga komoditas yang belum begitu pulih juga menjadi salah satu faktor yang membuat perekonomian Sumut belum tumbuh maksimal. Pada triwulan II secara year on year (yoy) misalnya, pertumbuhan ekonomi Sumut masih 5,09 persen. Memang pertumbuhan ekonomi di triwulan II semakin baik dari triwulan I yang sebesar 4,50 persen. Tetapi harus kerja keras untuk bisa mencapai target,” ujarnya. (art)

655

gnews.online |

Nilai ekspor melalui pelabuhan muat di wilayah Sumatera Utara (Sumut) pada Agustus 2016 mengalami kenaikan dibandingkan bulan Juli 2016, yaitu dari US$564,54 juta menjadi US$655,02 juta atau naik 16,03 persen.

Namun, bila dibandingkan dengan bulan Agustus 2015, ekspor Sumatera Utara mengalami penurunan sebesar 5,57 persen.

Kepala Bidang Statistik Produksi BPS Sumut, Bismark Saor Pardamean menyebutkan, selama Agustus 2016, semua produk sektor ekonomi mengalami kenaikan ekspor.

“Produk sektor pertambangan dan penggalian naik 36,17 persen (US$17,00 ribu), diikuti sektor pertanian naik 33,95 persen (US$29,87 juta). Sedangkan ekspor produk sektor industri mengalami kenaikan 12,71 persen (US$60,57 juta) dan sektor lainnya naik 26,44 persen (US$23,00 ribu). Sementara sektor minyak dan gas tidak mengalami perubahan,” jelas Bismark, Selasa (4/10).

Bismark melanjutkan, berdasarkan kontribusinya terhadap keseluruhan ekspor Januari-Agustus 2016, kontribusi ekspor sektor industri sebesar 80,90 persen, sektor pertanian sebesar 19,07 persen, sektor lainnya sebesar 0,02 persen, dan kontribusi ekspor sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,01 persen.

Peningkatan nilai ekspor Sumut Agustus 2016 terhadap Juli 2016 dari 10 golongan barang terjadi pada 9 golongan barang ekonomi kecuali golongan barang berbagai produk kimia (HS 38) turun US$4,84 juta (-9,45%).

“Kenaikan nilai ekspor terbesar terjadi pada golongan lemak & minyak hewan/nabati (HS 15) sebesar US$23,74 juta (8,80%), diikuti golongan karet dan barang dari karet (HS 40) naik US$11,81 juta (15,93%), golongan buah-buahan (HS 08) naik US$9,58 juta (103,59%), dan golongan kopi, teh, rempah-rempah (HS 09) naik US$9,22 juta (39,41%), sedangkan golongan barang lainnya naik kurang dari US$5,00 juta,” ujarnya.

Secara umum, katanya, selama Januari-Agustus 2016, ekspor dari 10 golongan barang (HS 2 digit) mampu memberikan kontribusi sebesar 88,58 persen terhadap total ekspor Sumatera Utara. Sementara itu ekspor di luar 10 golongan barang selama Januari-Agustus 2016 memberikan peran 11,42 persen. Dari sisi pertumbuhan, ekspor 10 golongan barang turun 7,38 persen terhadap periode yang sama tahun 2015. (ayb)

901

MEDAN-GNews: Bagi anda yang selalu memperhatikan penampilan dan pecinta produk lokal dengan kualitas dan mutu terbaik. Tidak perlu bingung atau harus jauh-jauh belanja ke luar kota atau ke luar negeri.

Sebab di Kota Medan kini ada produk lokal dengan kualitas ekspor. Adalah Lidya Gabe pemilik Lidya Collection yang melirik peluang produk fashion ala rumahan sejak lima tahun terakhir.

Dia menghadirkan beragam karya dengan kualiatas ekspor. Lidya mengaku mengklaim produk berkualitas ekspor, karena bahan baku yang digunakannya benar-benar yang berkuliatas. Ditambah lagi tenaga sumber daya manusia yang profesional.

Beragam produk yang diciptakannya mulai dari  tas, dompet, sendal, sepatu, tali pinggang, aksesoris, bando. Beragam produk Lidya Collection, menggunakan bahan baku kulit seperti ular, biawak, ikan pari.

Bahan baku ini dipasok dari beberapa daerah di Sumatera Utara, termasuk Kota Medan. Tidak hanya fokus dengan kulit, Lidya juga mengembangkannya dengan ulos. Bahan baku kulit tersebut dipadupadankan dengan ulos. Usaha ini membidik pasar ekonomi menengah ke atas.

‪”Kita memproduksi tas unik dengan bahan baku kulit dan ulos. Kita padukan keduanya, karena tidak semua orang menyukai kulit,” ujar Lidya Gabe pemilik usaha Lidya Collection.

‪Pemilik usaha yang beralamat di Jalan Ringroad ini, tidak hanya membidik kaum hawa saja. Ini dibuktikan adanya sejumlah produk yang diperuntukkan bagi pria. Semisal sepatu, dompet, dan tali pinggang.

‪Dalam memperkenalkan dan memasarkan produknya, Lidya pun menggandeng agen perjalanan wisata. “Kita menggandeng beberapa agen perjalanan wisata,” sambungnya.

‪Selain itu dia juga  memanfaatkan jaringan dan pemasaran dari mulut ke mulut. Di samping juga mengandalkan reseller di berbagai daerah seperti Kalimantan, Jakarta, Kabanjahe dan Pematang Siantar.‬

‪Tidak hanya sekedar memasarkan produk, Lidya juga menerima tempahan atau orderan konsumen sesuai dengan selera. “Kita tetap terima orderan, sesuai mode dan selera konsumen,” tandasnya. (dia)