Thursday, April 18, 2019
Tags Posts tagged with "Gunung Sinabung"

Gunung Sinabung

219

gnews.online – Sejumlah desa di kaki Gunung Sinabung seperti jam 12 malam, gelap gulita, setelah  hari ini kembali meletus dengan dahsyatnya.

Awan panas akibat letusan dari Gunung Sinabung membumbung tinggi hingga mencapai kolom 5000 meter, amplitudo 120 milimeter.

Menurut informasi yang didapat dari lokasi, beberapa desa di sekitar kaki gunung tersebut menjadi gelap gulita seperti jam 12 malam yang diakibatkan luncuran awan panas.

Adapun beberapa desa yang menjadi gelap gulita yaitu Desa Sigarang-garang Payung, Selandi baru dan Laukawar.

Dan dari informasi yang didapat fenomena ini yang terjadi akibat dari luncuran awan panas tersebut berlangsung dari tadi pagi hingga saat ini. (koh)

139

gnews.online | Kepala Pusat Data, Informasi, dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB),  Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, Gunung Sinabung di Kabupaten Karo mengalami erupsi sebanyak sembilan kali dalam dua hari terakhir.

“Pada Kamis (20/7), erupsi pertama terjadi pukul 17.46 WIB yang menyemburkan abu vulkanik setinggi 3.500 meter dan menimbulkan gempa erupsi selama 346 detik. Sedangkan erupsi kedua terjadi pada pukul 23.00 WIB yang juga mengeluarkan abu vulkanik dengan ketinggian kolom 3.500 meter dan gempa erupsi selama 357 detik,”papar Sutopo dalam siaran persnya kepada wartawan, Sabtu(22/7).

Disebutkan, pada Jumat(21/7)  terjadi erupsi pukul 09.55 WIB yang mengeluarkan abu vulkanik setinggi 1.300 meter dan gempa erupsi selama 249 detik. Selanjutnya, terjadi lagi erupsi pada pukul 10.17 WIB, pukul 11.03 WIB, pukul 17.31 WIB, pukul 17.54 WIB, pukul 19.59 WIB, pukul 23.08 WIB.

Diatakannya, dari rangkaian kondisi itu, pihaknya menyimpulkan bahwa aktivitas vulkanik Gunung Sinabung masih tinggi. Seperti dilansir, ) dia menegaskan, saat ini Sinabung masih diberlakukan status “Awas”.

BNPB merekomendasikan agar masyarakat dan pengunjung tidak melakukan aktivitas di dalam radius tiga kilometer dari puncak. Selain itu, dalam jarak tujuh km untuk sektor selatan-tenggara, jarak enam km untuk sektor tenggara-timur, serta jarak empat km untuk sektor utara-timur.

Masyarakat yang beraktivitas dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diingatkan agar tetap waspada.

Pasalnya, telah terbentuk bendungan alam di hulu Sungai Laborus yang sewaktu-waktu dapat jebol karena tidak kuat menahan volume air. Sehingga berpotensi mengakibatkan banjir lahar atau banjir bandang. (dev)

316

Sinabung-GNews: Maybank Foundation bekerja sama dengan MERCY Malaysia meluncurkan program Building Resilient Communities (BRC) di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

Program ini dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran komunitas lokal, yang berpotensi terkena dampak langsung bencana gunung api Sinabung. Program diselenggarakan melalui pendekatan teknikal dan Mitigasi Risiko Bencana.

Pembukaan program Building Resilient Communities (BRC) dilakukan minggu lalu di desa Perbaji, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, oleh Head Corporate Responsibility & Maybank Foundation Secretariat En Ahmad Faezal bin Mohamed bersama Honorary Secretary MERCY Malaysia YM Datin Raja Riza Shazmin Raja Badrul Shah dengan disaksikan Sekretaris Daerah Kabupaten Karo Saberina Tarigan, Konsulat Jenderal Malaysia di Medan Encik Amizal Fadzli Rajali, Head, Regional Supervision & Support Maybank Indonesia Jaihut Sijabat beserta karyawan Maybank Indonesia yang terlibat dalam program BRC.

Gunung Sinabung, yang terletak di Kabupaten Karo, merupakan gunung berapi yang sudah tidak aktif selama 400 tahun sebelum meletus kembali pada 2010. Letusan menyebabkan 10.000 penduduk dari 10 area di Kabupaten Karo kehilangan tempat tinggal, kondisi tanah yang labil di sekitar gunung berapi menyebabkan daerah sekitarnya masih terancam bahaya.

Oleh karena itu, untuk mengatasi situasi tersebut, Maybank Foundation bersama MERCY Malaysia telah menjalin kemitraan strategis dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam merencanakan program latihan yang komprehensif untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan pengetahuan kepada komunitas yang terkena dampak dari bahaya gunung berapi.

Program bernilai lebih dari Rp870 juta dibiayai penuh dari pendanaan Maybank Foundation melalui Corporate Responsibility Secretariat yang senantiasa memberikan bantuan kemanusiaan kepada komunitas yang terdampak bencana alam.

Menurut En Ahmad Faezal bin Mohamed, Head Corporate Responsibility & Maybank Foundation Secretariat, Maybank Foundation selalu mendukung upaya bantuan kemanusiaan yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat di regional dan kami juga telah menyalurkan bantuan kepada komunitas yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi di Pulau Jawa pada tahun 2010.

“Alhamdulilah, kami juga mendapat kesempatan untuk mendukung komunitas lokal yang terkena dampak gunung Sinabung dan gempa bumi. Kami yakin dengan ikatan yang kuat antara kami dan MERCY Malaysia, seluruh upaya untuk membangun komunitas yang tangguh di Kabupaten Karo melalui program Building Resilient Karo insya Allah dapat tercapai dengan sukses,” ujarnya.

Disebutkan, tujuan utama dari program ini diantaranya adalah memastikan komunitas penerima manfaat memiliki ketangguhan yang absorptif, adaptif dan transformatif untuk menghadapi bencana dan gempa bumi.

En Norazam Ab Samah, Director Strategic Programme Development Mercy mengatakan, pelatihan yang dilaksanakan akan memberikan nilai tambah dan menghasilkan komunitas dengan ketangguhan adaptif dan ketangguhan transformative yakni kemampuan untuk berubah selama masa darurat atau sewaktu-waktu dibutuhkan misalnya, lapangan sepakbola, alun-alun kota, rumah sakit, yang selama masa darurat dapat berubah fungsi menjadi tempat perlindungan selama bencana atau gempa bumi.

“Tempat-tempat ini dapat diidentifikasi oleh komunitas lokal dan perlu diinformasikan oleh pemerintah sebagai lokasi darurat selama terjadinya bencana gunung berapi dan gempa bumi,” jelasnya.

Selain meningkatkan kesadaran pengetahuan teori, program juga memfokuskan pada upaya membangun insitusi, mekanisme dan ketangguhan yang kuat untuk menghadapi bencana melalui praktek dan simulasi.

Ada lima modul yang digunakan dalam program ini yang menargetkan pada beberapa cluster komunitas, yakni Community Based Disaster Risk Management (CBDRM), School Preparedness Program (SPP), Resilient Hospital (RH) and Local Government Units. Program-program ini diimplementasikan melalui pelatihan, bengkel kerja, seminar, kelas pelatihan simulasi dan masih banyak lagi yang akan dikerjaan bersamaan.

Di fase kedua program ini, Maybank Foundation melalui MERCY Malaysia akan menyediakan tempat penampungan sementara dan fasilitas dasar WASH bagi komunitas lokal.

Saat ini, mayoritas komunitas yang kehilangan rumah, tinggal di gedung serba guna sebagai tempat penampungan sementara. Selain memberikan paparan dan pengetahuan, program ini diharapkan dapat memberikan tempat penampungan sementara yang lebih kondusif bagi 300 keluarga pengungsi. (Ayb)