Sunday, January 21, 2018
Tags Posts tagged with "Kanker"

Kanker

88

MEDAN – gnews.online |

Jumlah penderita kanker setiap tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Diperkirakan sebanyak 8,2 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat kanker di seluruh dunia. Angka ini akan terus meningkat jika tidak dilakukan upaya pencegahan.

Oleh karena itulah, diharapkan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Sumut dapat membantu mengendalikan angka penderita kanker di daerah ini.

Hal itu dikatakan Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi saat melantik kepengurusan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) cabang Sumut periode 2017-2021, yang digelar di Aula Martabe kantor Gubsu di Medan, Senin (18/9).

Hadir Penasehat Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Sumut, Prof. Luhur Suroso, Ketua BKOW Sumut Kemalawati, SKPD Provsu, Ketua Organisasi wanita dan organisasi profesi sumut, para dokter dan tenaga medis.

Dalam kesempatan itu, Tengku Erry juga mengatakan, dari 8,2 juta orang meninggal akibat kanker di dunia, 4 juta diantaranya meninggal prematur (usia 30-69) tahun. Angka ini meningkat dari sebelumnya 7,6 juta tahun 2008 dan akan terus meningkat menjadi 11,5 juta pada tahun 2025 jika tidak dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian secara efektif.

Di Indonesia, kata Erry, prevelensi penyakit kanker juga cukup tinggi. Berdasarkan data riset kesehatan dasar tahun 2013, prevelensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per-1000 penduduk, atau sekitar 347.000 orang.

“Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Sedangkan laki-laki adalah kanker paru dan kanker kolorektal,” tutur Erry.

Berdasarkan data Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012, insidens kanker payudara sebesar 40 per-100.000 perempuan, kanker leher rahim 17 per-100.000 perempuan, berdasarkan data sistem informasi rumah sakit 2010, kasus rawat inap kanker payudara 12.014 kasus (28,7 persen), kanker leher rahim 5.349 kasus (12,8 persen).

“Para ahli memperkirakan 43 persen kanker dapat dicegah dengan mengurangi faktor resikonya yakni merokok dan terpapar asap rokok, tidak mengkonsumi alkohol, memproteksi kulit dari paparan sinar ultra violet, menghindari obesitas dengan diet seimbang dan aktivitas fisik,” terang Erry.

Dikatakan Erry, besar harapannya dengan dilantiknya pengurus baru Yayasan Kanker Indonesia cabang Sumut ini ke depannya dapat terjalin kemitraan yang kondusif untuk upaya mengendalikan kanker.

“Kita ketahui semua tidak dapat berjalan jika tidak adanya dukungan dari lintas program, lintas sektor dan peran serta masyarakat,” ucap Erry.

Selain itu, Erry juga mengharapkan dengan adanya kehadiran Cancer Information and Support Centre (CISC) Sumut ini dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi yang seluas-luasnya, tentang penyakit kanker dan penanganannya.

Ketua YKI cabang Sumut yang baru dilantik, Evi Diana Sitorus mengatakan, YKI sudah berdiri sejak 7 April 1977 sebelumnya bernama Yayasan Lembaga Kanker Indonesia yang didirikan oleh 17 orang tokoh nasional yang diantaranya Dr. Moch Hatta, Dr. GA Siwabessy, Ali Sadikin dan Dr Arifin M Siregar.

“YKI merupakan organisasi nirlaba dan tujuannya untuk mengupayakan penanggulangan kinder dengan kegiatan promotif, preventif dan suportif. Namun kita sadari penanggulangan kanker hanya mungkin berhasil bila dilakukan oleh semua pihak,” ujar Evi.

Dikatakan Evi, YKI Sumut telah melaksanakan tugasnya hampir mendekati 3 dasawarsa. Diantaranya memberikan penyuluhan tentang kanker di berbagai daerah kota dan kabupaten di Sumut. Sembari melakukan kegiatan deteksi dini kanker wanita dengan pemeriksan papsmear.

Selain itu, dilakukan pelatihan bagi tenaga kesehatan untuk deteksi dini kanker dengan menyediakan klinik deteksi dini kanker yang berada di secretariat YKI cabang Sumut. “Selain itu kami juga melakukan pencatatan kasus dan registrasi kanker bekerjasama dengan YKI Pusat, YKI kabupaten/kota se Sumut serta pusat-pusat pelayanan kesehatan lainnya,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakan Evi, YKI saat ini sudah berdiri di 5 kabupaten/kota di Sumut yakni Tobasa, Taput, Deli Serdang, Asahan, Dairi dan Siantar. “Saya berharap agar kabupaten/kota lainnya juga dapat segera membentuk YKI,” ujar Evi.

Evi mengatakan, beragam faktor menyebabkan tingginya angka kematian akibat kanker. Antara lain, pola dan gaya hidup masyarakat, minimnya pengetahuan dan informasi masyarakat untuk mengetahui adanya kanker secara dini sehingga kanker selalu didiagnosa sudah terlambat dan dalam stadium yang sudah lanjut.

“Makanya tidak benar jika mengatakan bahwa kanker merupakan penyakit mematikan yang tidak dapat disembuhkan karena kanker dapat disembuhkan jika diketahui sedini mungkin,” jelasnya.

Oleh karena itulah kata Evi, tugas YKI cabang Sumut masih cukup berat dan diharapkannya ke depannya masih membutuhkan bantuan semua pihak untuk mendukung dan membantu baik moril dan materiil dalam berjuang menekan angka kematian akibat penyakit kanker di Sumut. (art)

132

gnews.online | WHO menetapkan bahwa kanker merupakan salah satu penyakit ganas yang menyebabkan kematian terbanyak dari seantero dunia. Karenanya, setiap orang wajib mencegah, salah satunya yakni dengan konsumsi sayur dan buah.

Belum lama ini, peneliti dari Imperial College London mengungkap, seseorang yang mau makan sayur dan buah-buahan sekira 800 gram atau setara 10 porsi sehari dapat mengurangi risiko kanker. Bahan makanan sehat itu dapat mengendalikan pertumbuhan penyebaran sel kanker ganas.

Kala itu, para peneliti menganalisis 95 studi tentang asupan buah dan sayur. Studi ini merupakan meta-analisis dari semua penelitian yang tersedia pada populasi di seluruh dunia, termasuk 112.000 kasus kanker.

Dalam penelitian yang dipublikasikan di International Journal of Epidemiology, peneliti memperkirakan 7,8 juta kematian dini di seluruh dunia dapat dicegah setiap tahun, jika orang makan 800 gram buah dan sayuran sehari.

“Kami ingin menyelidiki berapa banyak buah dan sayuran yang harus dimakan agar memberikan perlindungan maksimal terhadap penyakit. Rupanya hasilnya dapat mencegah risiko kanker sekira empat persen dan 15 persen mencegah kematian dini,” ujar Pemimpin Studi Dr Dagfinn Aune, dilansir Zeenews.

Dalam studi tersebut, peneliti juga menemukan jenis buah dan sayuran yang bagus mencegah kanker. Antara lain yakni apel, pir, dan buah jeruk. Sementara itu, ada pula sayuran berdaun hijau seperti bayam, selada dan sawi putih, dan sayuran seperti brokoli, kubis dan kembang kol. (oz/koh)

138

MEDAN-GNews|

Berdasarkan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) kanker leher rahim menempati urutan kedua yang diderita kaum hawa. Hampir 99,7% kanker leher rahim, berkaitan dengan  Human Papiloma Virus (HPV).

Hal ini diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Sumut dr RR. Surjantini,  usai membuka pelatihan pencegahan kanker payudara dan kanker leher rahim, Selasa (24/5) di Medan.

“Infkesi HPV sering tidak menimbulkan gejala sehingga leher rahim terinfeksi, bisa berkembang menjadi lesi derajat rendah. Sehingga dapat hilang tanpa pengobatan atau tidak berkembang terutama pada wanita muda,” kata Surjantini.

Dia memperkirakan ada sekira satu juta perempuan yang terinfeksi virus ini. Dari jumlah tersebut, 10% diantaranya berkembang menjadi prakanker leher rahim.

Masih berdasarkan hasil riset, ujarnya, perubahan tersebut sering  terjadi bagi  perempuan usia 30 dan 40 tahun. Lesi prakanker jika tidak terdeteksi dan diobati, akan berkembang menjadi kanker ganas.

Oleh karenanya, diperlukannya pemeriksaan untuk pengujian kanker leher rahim (serviks) dan pemeriksaan payudara melalui Inspeksi Visual dengan Asam Asetat (IVA).

“Wanita yang sudah pernah melakukan hubungan sex, harus menjalani pemeriksaan ini, setiap tahun. Caranya cukup mudah, murah dan bisa dilakukan di manapun,” ujarnya.

Dengan melakukan pemeriksaan, penyakit itu bisa dideteksi sedini mungkin.  “Jangan sampai diketahui sudah stadium lanjut,” sambungnya seraya meminta tenaga  kesehatan harus mendorong semua perempuan usia 30 sampai 50 tahun untuk melakukan pemeriksaan.

Kanker sebutnya, merupakan penyakit gaya hidup karena dapat dicegah dengan melakukan gaya hidup sehat. Dimana sejumlah  faktor risikonya bisa dipicu kebiasaan merokok, menjadi perokok pasif, alkohol, kegemukan, pola makan tidak sehat, perempuan tidak menyusui dan perempuan melahirkan di atas usia 35 tahun, menikah terlalu mudah.

“Dikarenakan tidak ada tanda yang berarti pada tahap awal, wanita disarankan untuk melakukan tes rutin seperti pemeriksaan sel HPV pada leher rahim apakah normal atau tidak, setahun sekali,” sarannya.

Melalui pelatihan ini, berharap Surjantini, SDM yang ada bisa memeriksa IVA sedini mungkin dengan gejalanya. Sehingga  petugas bisa mengedukasi masyarakat dan dapat memeriksa payudaranya sendiri.

“Harapannya, setelah selesai mengikuti pelatihan ini, ilmu dan keterampilan yang diperoleh, dapat dipraktekkan dengan Periksa Payudara Sendiri (SADARI). Keberhasilan deteksi dini dapat menurunkan kesakitan dan kematian akibat kanker leher rahim dan kanker payudara,” ujarnya.

Sementara Kepala Seksi Bimbingan Pengendalin Wabah dan Bencana Dinkes Sumut Suhadi menambahkan, pelatihan tersebut diikuti peserta dari Medan 9 orang, Tanjung Balai 12 dan Labuhan Batu 3 orang. (dia)