Thursday, August 22, 2019
Tags Posts tagged with "Korban"

Korban

121

Tobasa – gnews.online |

Tim SAR gabungan berhasil menemukan 8 orang jenazah tertimbun longsor di Desa Halado, Kecamatan Pintu Pohan Kabupaten Toba Samosir, Sumatera Utara, Kamis dini hari (13/12/2018) sekitar pukul 02.00 WIB.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas BNPB Sutopo Purwo Nugroho dalam siaran persnya menyampaikan, longsor telah menimbun 4 rumah dengan 12 orang warga di dalam rumah saat masih tidur. Dua orang masih dalam pencarian dan 2 orang selamat dalam kondisi luka-luka. Korban dibawa ke rumah sakit terdekat.

Disebutkan, hujan terus-menerus yang berlangsung sejak Minggu hingga Kamis menyebabkan longsor di beberapa tempat. Posisi rumah berada di bawah lereng perbukitan. Material longsor di perbukitan langsung meluncur dan menimbun 4 rumah di bawahnya.

Tim SAR gabungan dari BPBD Toba Samosir bersama dengan TNI, Polri, Basarnas, SKPD, relawan dari PT Inalum, PT Jasa Tirta, PT Badjra Daya, PT TPL, relawan lain dan masyarakat terus melakukan pencarian dan evakuasi korban.

Bupati dan Wakil Bupati Tobasa telah meninjau ke lokasi bencana. 5 Unit alat berat dikerahkan untuk membantu proses pencarian dan evakuasi korban longsor.

Dia menyebutkan, longsor terus terjadi cukup merata di beberapa wilayah di Indonesia. Tercatat sudah terjadi 430 kejadian bencana longsor di Indonesia sejak Januari 2018 hingga 13 Desember 2018. Dampak yang ditimbulkan 129 orang meninggal dan hilang, 115 orang luka-luka, 37.933 orang mengungsi dan terdampak, dan 1.948 rumah rusak.

Diperkirakan bencana longsor akan terus meningkat seiring meningkatnya curah hujan. Puncak hujan periode ini sebagian besar wilayah Indonesia terjadi pada Januari-Februari 2019 mendatang.

Masyarakat diimbau untuk selalu waspada. Prediksi daerah rawan longsor bulanan di seluruh Indonesia dapat dilihat pada website PVMBG, bahkan hingga tingkat kecamatan dengan tingkat bahayanya dari rendah, sedang dan tinggi. BPBD, aparat lain dan masyarakat dapat menggunakan peta tersebut sebagai rujukan untuk meningkatkan sosialisasi dan kewaspadaannya.

Mitigasi bencana longsor, baik struktural dan non struktural masih perlu ditingkatkan. Sistem peringatan dini longsor masih sangat terbatas jumlahnya. Hanya sekitar 300-400 unit yang ada di daerah rawan longsor, sementara kebutuhannya lebih dari ratusan ribu unit.

Terbatasnya anggaran baik APBN dan APBD menyebabkan belum semua daerah rawan longsor memiliki peringatan dini longsor.

Peran dunia usaha dan BUMN/BUMD juga masih sangat minim membantu pengadaaan alat ini di daerah operasinya. Begitu juga sosialisasi masyarakat mengenai antisipasi longsor juga masih perlu terus ditingkatkan. (art)

269

Medan – gnews.online |

Kapoldasu Irjen Agus Andrianto, SH, beserta ribuan peserta bikers dari seluruh grup di Sumut dan masyarakat Sumut melaksanakan Sholat ghoib di lapangan KS Tubun, Mapoldasu, Sabtu (29/9/2018) malam.

Pelaksanaan sholat ghoib dilaksanakan untuk mendoakan korban – korban bencana alam tsunami dan gempa yang terjadi di Kota Palu (Sulawesi Tengah). Sholat ghoib yang dilaksanakan sebagai wujud belasungkawa tersebut dipimpin oleh ustad Masda Tambuse.

Setelah sholat ghoib dilanjutkan dengan doa bersama. “Semoga kita semua diridho Allah,” ucap Ustad.

Sementara itu, Kapoldasu Irjen Agus Andrianto mengatakan sholat ghoib  dilaksanakan karena korban berada di Sulawesi. Ini bentuk belasungkawa jajaran Poldasu, bikers dan masyarakat Sumut.

“Kita harapkan juga keluarga yang mendapat musibah dapat diberikan kesabaran oleh Allah SWT. Semoga arwah korban diterima di sisiNYA,” ujar Kapolda.

Kapolda menuturkan kegiatan ini menggambarkan saudara-saudara yang ada di Sumut masih kompak. “Kita jangan mau diadu domba. Kita harus siap berkompetensi. Bangsa ini besar. kita harus bersatu,” tandasnya di hadapan ribuan Bikers.

Kegiatan sholat Goib dihadiri oleh pejabat utama Poldasu, para Kapolres, 250 grup bikers di Sumut, masyarakat Sumut dan rekan-rekan media. (rel)

435

MEDAN-GNews|

Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Ir H Tengku Erry Nuradi MSi menginstruksikan Badang Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Sumut untuk memastikan seluruh warga tidak lagi mendiami zona merah Gunung Sinabung, Kabupaten Karo, Sumut.

Intruksi tersebut disampaikan Tengku Erry Nuradi saat menjenguk dua korban awan panas yang sedang menjalani perawatan intensif di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Adam Malik Medan, Jl Bunga Lau, Medan Tuntungan, Medan, Minggu (22/5).

Turut dalam rombongan Kepala Dinas (Kadis) Kesehatan Sumut dr Raden Roro Srihartati Suryani, Dokter Ahli RSUP Adam Malik Medan Dr dr Nazaruddin Umar Sp An KNA.

Dalam kesempatan itu, Erry menyatakan, BPBD Sumut telah mengeluarkan kebijakan zona merah yang tidak boleh dimasuki warga radius 5 kilometer dari Gunung Sinabung. Selain diimbau meninggalkan rumah, warga juga tidak diizinkan melakukan aktivitas di kawasan zona merah, termasuk melakukan kegiatan bercocok tanam.

“Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan tegas agar masyarakat tidak memasuki zona berbahaya. Kita berharap kebijakan ini mendapat perhatian demi keselamatan,” ujar Erry.

Erry juga menginstruksikan kepada BPBD Sumut untuk melakukan sweeping ke lokasi zona merah untuk memastikan tidak ada lagi masyarakat yang membangkang.

“Kita minta kawasan zona merah untuk disisir. Jika ada masyarakat yang masih bertahan di zona merah, bawa ke penampungan atau zona yang lebih aman. Keselamatan lebih kita utamakan,” tegas Erry.

Dalam kesempatan itu, Erry juga mengatakan, biaya perawatan kedua pasien, Cahaya Sembiring (60) laki-laki dan Cahaya Beru Tarigan akan ditanggung pemerintah.

“Alokasi biaya perawatannya ditanggung pemerintah. Kejadian seperti ini tidak boleh terjadi lagi. Warga kita harapkan patuh dengan aturan yang telah diberlakukan demi keselamatan,” sebut Erry.

Sementara dokter ahli RSUP Adam Malik Medan, Nazaruddin Umar mengatakan, pihaknya terus memantau perkembangan kondisi kesehatan dua korban awan panas yang sedang menjalani perawatan di RSUP H Adam Malik Medan hingga Minggu sore.

“Tim dokter terus memantau perkembangannya. Keduanya dalam keadaan sadar. Tetapi kondisinya sangat memprihatinkan akibat luka bakar di sekujur tubuh,” sebut Nazaruddin.

Nazaruddin juga mengatakan, korban Cahaya Beru Tarigan, ibu rumahtangga berusia 45 tahun, mengalami luka bakar mencapai 80 persen. Tim dokter berencana melakukan upaya penyelamatan dengan mengamputasi kaki korban akibat mengalami luka bakar hingga merusak otot.

“Kita sudah minta persetujuan pihak keluarga. Jika keluarga mengizinkan, tim akan langsung melakukan operasi amputasi. Kita masih menunggu hasil rembug keluarga,” sebut Nazaruddin.

Tidak lupa Erry mengimbau masyarakat yang telah mendapat jatah rumah dan lahan pertanian untuk menempatinya. “Bagi warga yang sudah mendapat rumah, kita imbau untuk menempatinya. Lahan yang sudah disiapkan juga kita harapkan digarap dengan baik,” pesan Erry.

Sementara korban Cayaha Sembiring (75) laki-laki, mengalami luka bakar mencapai 60 persen dan kini telah menjalani perawatan di ruang rawat inap.

“Korban dalam keadaan sadar. Tetapi tiap dua jam sekali, tim dokter memeriksa perkembangan kesehatannya karena mengalami luka bakar serius,” jelas Nazaruddin.

Kepala Pusat Data Informasi dan Humas Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, korban meninggal dunia akibat awan panas Gunung Sinabung hingga Minggu sore tercatat  sebanyak 7 orang, semua merupakan warga Desa Gamber, Kecamatan Simpang Empat, Kabupaten Karo. Para korban tersapu awan panas letusan Gunung Sinabung saat berada di zona merah pada Sabtu (21/5) pukul 16.48 WIB.

Ketujuh korban meninggal masing-masing Karman Milala (60), Irwansyah Sembiring (17), Nantin Br. Sitepu (54), Leo Perangin-angin, Ngulik Ginting, Ersada Ginting (55) dan Brahim Sembiring (57). Sementara korban yang masih menjalani perawatan intensif masing-masing Cahaya Sembiring (75), dan Cahaya br Tarigan (45).

Korban Ersada Ginting (55) dan Brahim Sembiring (57) yang merupakan suami korban Cahaya Beru Tarigan menghembuskan nafas terakhir di RSUP H Adam Malik Sabtu (21/5) malam setelah dirujuk dari RS Evarina Etaham, Karo.

Desa Gamber berada pada radius 4 km di sisi Tenggara dari puncak Gunung Sinabung yang dinyatakan sebagai daerah berbahaya atau zona merah. Berdasarkan rekomendasi PVMBG, warga dilarang keras beraktivitas di Desa Gamber karena berbahaya dari ancaman awan panas, lava pijar, lapilli, abu pekat dan material lain dari erupsi. (ayb)

662

MDAN-GNews |

Luncuran awan panas Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara yang terjadi Sabtu (21/5/2016) pukul 16.48 WIB kemarin, terus menambah korban jiwa. Informasi terakhir yang diterima di lapangan, 7 orang dikabarkan meninggal dunia, sedangkan dua lainnya mengalami kritis dan sedang dirawat di Rumah Sakit.

Berdasarkan perkembangan situasi terkini, Minggu (22/5), tentang terjadinya Bencana Alam Awan Panas Gunung Sinabung di Desa Gamber Kec. Simpang Empat Kab. Karo tersebut dilaporkan mengambil korban 9 orang, yakni tujuh di antaranya meninggal dunia, dan 2 lainnya mengalami luka bakar.

Identitas yang meninggal dunia yakni KARMAN MELIALA (60), IRWANSYAH SEMBIRING (17), NANIN BR SITEPU (50), LEO PERANGIN-ANGIN (25), MULIP GINTING (45), ERSADA GINTING (55) meninggal setelah beberapa saat dirawat di RSU Adam Malik Medan, dan Ibrahim Sembiring (51) dikabarkan meninggal setelah mendapat perawatan di RS Efarina Etaham Berastagi. Sedangkan yang mengalami luka bakar dan dirujuk ke Rs. Efarina Etaham Berastagi sebanyak 2 orang dengan identitas CAHAYA SEMBIRING (57), CAHAYA BR TARIGAN (45).

Sebelumnya, Kabid Darurat BPBD Kabupaten Karo, Nata Nail mengatakan, korban saat itu sedang melakukan aktivitas berkebun di ladangnya di Desa Gember yang berada dalam radius 4 km dari puncak kawah Gunung Sinabung. Harusnya daerah ini kosong karena merupakan zona merah yang semua warganya tidak boleh melakukan aktivitas.

“Padahal Desa Gember ini termasuk zona merah dan kita juga sudah pasang portal di jalur utama. Tetapi tetap saja mereka masuk. Kami menduga, warga masuk melalui jalur tikus,” ucapnya.

Menurut Nata Nail sebagian besar warga Desa Gamber telah mengungsi sejak lama dan rencana akan direlokasi mandiri. Masyarakat Gamber telah diberikan bantuan sewa lahan pertanian dan sewa rumah oleh Pemerintah agar tidak melakukan aktivitas di zona merah.

“Namun demikian ada sebagian masyarakat yang tetap nekat melakukan aktivitas pertanian di kebunnya meskipun telah dilarang aparat,” jelasnya.

Dalam peristiwa itu, beberapa rumah warga ikut terbakar akibat terkena awan panas. Ditambahkan Nata Nail, tim gabungan dibantu warga masih menyeser lokasi Desa Gamber meski erupsi masih terjadi. Mereka melakukan penyisiran karena menduga masih ada korban.

“Tim lagi sesewr wilayah, walau termasuk zona merah, kami tetap masuk ke dalam karena alasan kemanusiaan. Sekarang ini saja masih terjadi erupsi.

Aktivitas Gunung Sinabung masih tetap tinggi. Pada Sabtu (21/5/2016) telah terjadi awan panas guguran yang terjadi secara menerus pada pukul 14.28, 15.08, 16,39, dan 16.48 WIB. Awan panas guguran mencapai 4,5 km di mana mencapai Sungai Lao Borus ke arah Barat. Tinggi kolom abu vulkanik mencapai 3.000 meter. Status Awas. Potensi letusan masih tetap tinggi dan dapat terjadi kapan saja.

Masyarakat dan pengunjung/wisatawan tidak melakukan aktivitas di dalam radius 3 km dari puncak, dan masyarakat dalam jarak 7 km untuk sektor selatan-tenggara, dalam jarak 6 km untuk sektor tenggara-timur, serta dalam jarak 4 km untuk sektor utara – timurlaut Gunung Sinabung agar dievakuasi ke lokasi yang aman. Masyarakat yang berada dan bermukim di dekat sungai-sungai yang berhulu di Gunung Sinabung agar tetap waspada terhadap bahaya lahar. (man)

Upaya yang dilakukan oleh Polres Tanah Karo bekerjasama dengan TNI dan Instansi Pemerintah (BPBD) masih melakukan Evakuasi terhadap korban dan masyarakat yang masih berada di desa Gamber untuk dibawa keluar dari Zona Merah (Zona Larangan) serta memberikan imbauan kepada masyarakat desa yang tinggal di sekitar Zona Merah/Zona Larangan untuk tidak melakukan aktivitas/memasuki Zona Larangan.(man)

535

SIBOLANGIT-Gnews: Pelaksana Tugas (Plt) Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Ir H Tengku Erry Nuradi MSi menyatakan Pemerintah Provinsi (Pemprov) Sumut akan memberikan santunan kepada keluarga para korban meninggal dunia dalam bencana banjir bandang Air Terjun Dua Warna.

Hal itu disampaikan Tengku Erry Nuradi saat meninjau proses evakuasi para korban banjir bandang Air Terjun Dua Warna di Posko Tanggap Bencana, pintu rimba, Bumi Perkemahan Sibolangit, Senin (16/5).

Turut bersama rombongan anggota DPD RI Parlidungan Purba, Bupati Deliserdang Azhari Tambunan, Kepala Badan Pengendalian Bencana Daerah (BPBD) Sumut Saleh Idoan Siregar, Kadis Bina marga Effendi Pohan, Kadis Kehutanan Sumut Halen Purba, Kadis Kesehatan Sumut Sri Suryani Purnamawati dan sejumlah SKPD Deliserdang.

Dalam tinjauannya, rombongan menyempatkan diri melihat kondisi salah seorang korban berjenis kelamin perempuan yang sedang dibersihkan dalam tenda, sesaat sebelum diberangkatkan menggunakan ambulance ke Rumah Sakit Bhayangkara Polda Sumut, Jl. Wahid Hasyim Medan.

Kemudian Erry dan rombongan menemui sejumlah orangtua dan keluarga para korban, guna mengucapkan belasungkawa dan meminta untuk tabah menerima cobaan. Erry selanjutnya meninjau posko pengaduan yang terletak tidak jauh dari posko pembersihan jenazah para korban.

Berdasarkan data Posko Pengaduan Bencana Air Terjun Dua Warna pada Senin sore sekitar pukul 17.30 WIB, tim SAR gabungan telah berhasil mengevakuasi 13 orang jenazah dari sejumlah titik.

“Data posko mencatat ada 22 wisatawan yang sebelumnya dinyatakan hilang terbawa banjir bandang. Seorang diantaranya ditemukan selamat, sedang korban meninggal dunia berhasil di evakuasi sebanyak 13 orang hingga jelang sore. Kita mendapat kabar masih ada jenazah yang sedang dievakuasi ke posko. Saat ini masih dalam perjalan,” ujar Erry.

Erry menyatakan, sebagai bentuk keprihatinan dan belasungkawa, Pemprov Sumut akan menberikan santunan kepada keluarga korban meninggal dunia. “Kita masih terus menunggu perkembangan informasi terkait jumlah para korban meninggal dunia,” ujarnya.

Tidak lupa Erry mengimbau kepada seluruh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemko) di Sumut untuk membuat rambu panduan, baik menuju lokasi maupun di lokasi wisata, terutama di daerah wisata yang memiliki risiko bahaya seperti wisata air terjun, gunung, danau, wisata hutan dan lain sebagainya.

“Banyak lokasi wisata di Sumut masih perawan. Belum terjamah atau dikelola secara professional. Untuk itu, pemerintah daerah setempat kita harapkan membuat rambu-rambu panduan. Tujuannya sebagai panduan bagi wisatawan agar tetap waspada demi keselamatan,” ujar Erry.

Erry juga menyatakan, proses pencarian dan evakuasi para korban dilakukan 2 x 24 jam dimulai Senin pagi.

“Kita berharap, hingga Selasa sore, seluruh para korban telah ditemukan, baik hidup maupun meninggal dunia. Selanjutnya akan dievaluasi untuk memutuskan perlunya penambahan hari untuk tanggap bencana,” sebut Erry.

Erry juga menyatakan apresiasi kepada seluruh pihak yang terlibat dalap proses tanggap bencana banjir bandang Air Terjun Dua Warna, baik jajaran TNI, Polri, Kantor SAR, Tagana, PMI, Mapala, Dinas Kesehatan maupun warga sekitar yang ikut dalam proses pencarian dan evakuasi.

“Kita mendapat kabar, sedikitnya ada 15 lembaga yang terlibat dalam proses pencarian dan evakuasi.

Sementara Bupati Deliserdang, Azhari Tambungan mengatakan, pihaknya telah membentuk tim khusus guna melakukan evaluasi terkait bencana yang terjadi.

“Kita sudah membentuk tim untuk mengevaluasi kejadian ini. Nantinya evaluasi akan mengeluarkan berbagai kebijakan terkait pengelolaan Air Terjun Dua Warna. Nantinya evaluasi juga akan merumuskan apa yang harus dilakukan agar peristiwa serupa tidak makan korban lagi,” sebut Azhari.

Azhari menyatakan, Air Terjun Dua Warna merupakan objek wisata alam yang aman untuk dikunjungi. Selain terdapat posko yang dikelola Kelompok Sadar Wisata, wisatawan yang berkunjung juga mendapat pendampingan dari para pemandu.

“Tetapi untuk sementara ini, Air Terjun Dua Warna ditutup sementara waktu. Saat ini masih proses pencarian dan evakuasi korban.

Azhari juga membantah retribusi masuk dan biaya pandu yang diberlakukan Kelompok Sadar Wisata yang berposko di Pintu Rimba Bumi Perkemahan Sibolangit merupakan kutipan ilegal.

“Tidak bisa kita katakan ilegal, karena ada kesepakatan antara wisatawan dengan pemandu untuk biaya pendampingan ke lokasi air terjun. Walau begitu, tim evaluasi akan masih bekerja. Dalam sepekan hasil evaluasi akan kita dapatkan,” ucap Azhari.

Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Deliserdang juga akan memberikan santunan kepada keluarga korban meninggal dunia.

“Pemkab Deliderdang juga akan memberikan tali asih kepada keluarga korban. Sekarang masih kita data berapa jumlah para korban,” sebut Azhari.

Banjir bandang menyapu Air Terjun Dua Warna terjadi pada Minggu (15/5/2016) sekitar pukul 15.00 WIB. Dugaan sementara, bencana terjadi akibat hujan lebat yang terjadi di daerah hulu sungai. Saat kejadian, puluhan pengunjung sedang mandi dan menikmati air terjun.(ayb)

510

Medan-GNews: Bupati Deliserdang Ashari Tambunan dan para pejabatnya turun ke lokasi tempat penampungan para korban banjir bandang di Sibolangit yang terjadi pada Minggu (15/5).

” Sabar ya kami masih mendata para korban dan tim masih bekerja,” ujar asisten satu Bupati Deliserdang Syafrullah S.Sos MAP kepada Gnews Online Senin (16/5).

Informasi yang diperoleh GNews Online sampai saat ini tim SAR gabungan berhasil mengevakuasi 56 orang dari 76 mahasiswa asal Medan yang menjadi korbang banjir bandang, di lokasi Air Terjun Dua Warna, Sibolangit. Dari 56 Orang tersebut, 17 diantaranya dipastikan tewas.

Saat ini Tim SAR sedang melakukan penyisiran ke tengah hutan dan alur air, guna menemukan 20 orang mahasiswa lagi, ujar Sekretaris. BPBD Deliserdang, Darwin Surbakti MA.

“Mereka yang berada di lokasi Air Terjun Dua Warna saat kejadian berjumlah 76 orang. Tim sudah mengevakuasi 56 orang. 20 Orang lagi masih kita cari,” ujar Surbakti via sambungan telepon, Senin (16/5).

Dia menambahkan, mahasiswa asal Kota Medan yang datang ke lokasi diantaranya; STIKES Flora (23 orang), UMSU (5 orang), Adam Malik (15 Orang), Fakultas Hukum USU (5 orang) dan dari GMKI FKM USU (28 orang).

Diduga masih ada puluhan wisatawan lainnya terjebak di lokasi wisata tersebut.

“Air sibolangit telah meluap, telah ditemukan mayat di lokasi air Terjun Dua Warna sebanyak 17 orang, dan masih ada yang belum ditemukan. Bagi anda yang sanak keluarganya ada perjalanan ke lokasi tersebut, silahkan di cek di lokasi DAM, Posko SAR Bumper Sibolangit”, kata Surbakti. (mab)