Tuesday, September 17, 2019
Tags Posts tagged with "kuliner"

kuliner

1928

gnews.online |

Olahan jambu biji, buah yang satu ini semakin berkelas. Sebab di Kota Medan, semakin banyak yang tertarik dengan memproduksi manisan jambu.

Salah satunya Sasmalia Laila Syari yang mengemas jambu biji ini, sehingga  membuatnya semakin mudah dinikmati dimana saja dan kapan pun. Manisan jambu ini pun bisa dijadikan sebagai oleh-oleh.

Hadir dengan tiga ukuran kemasan dengan masing-masing, 150 gr, 250 gr serta 400 gr. Untuk mendapat mencicipi manisan ini, harga nya juga cukup terjangkau. Mulai dari Rp7.000 per kemasan. Ini juga sudah dilengkapi dengan bumbu rujak.

Manisan jambu dengan brand Lahrido ini juga sudah melalui  uji kelayakan produk berstandar halal Majelis Ulama Indonesia (MUI) sumatera Utara.

Sasmalia mengaku, awalnya tertarik dengan usaha ini saat bekerja administrasi disalah satu gerai pusat oleh-oleh di kawasan Kualanamu.

Saat itu sebutnya, banyak tamu asal Malaysia mencari manisan jambu. Hal ini pun ditangkap Sasmila sebagai peluang usaha. Dia pun menyampaikan rencananya kepada orangtua, untuk membuat manisan jambu.

Rencananya pun, mendapatkan dukungan. Dari sekedar coba-coba, ternyata manisan jambu ini mendapat respon pasar cukup bagus.

Apalagi Sasmalia cukup tahu, jika jambu biji ini, merupakan begitu mudah diterima semua kalangan. Baik dari anak-anak hingga dewasa.

Memperkenalkannya juga tidak terlalu sulit, begitu dengan mengolahnya. Suplay bahan bakunya sepanjang tahun selalu ada.

Belum lagi, manisan jambu ini menjadi icon oleh-oleh Medan, disamping Bolu Meranti, Bika Ambon, teri Medan.

Dalam pengolahan jambu biji menjadi manisan, Sasmalia mengatakan sudah memiliki standar. Termasuk rasa dan juga kematangan buah yang diolah menjadi manisan.

Sementara pemasaran masih mengandalkan sosial media dan juga bazar-bazar dan pameran. (dia)

466

gnews.online |

Klappertaart merupakan kue khas Manado dengan bahan dasar kelapa. Untuk menikmati kue yang satu ini, tidak harus menginjakkan kaki ke Manado.

Karena di kota Medan, olahan kelapa muda dengan beberapa bahan lainnya seperti mentega, gula dan tepung ini bisa dinikmati di Dapurbiya, sejak setahun terakhir.

Olahan kelapa muda ini, begitu khas terasa di lidah. Memiliki tekstur yang lembut dan rasa manis. Klappertaart ini, memiliki enam varian rasa, masing-masing original, keju, coklat, mochaccino,  pandan, durian.

“Bagi yang belum pernah mencoba klappertart ini, lebih baik mencoba yang original,” ujar pemilik usaha Dapurbiya, Reza Anggara, Rabu (8/6).

Dia menambahkan, Klappertaart produksi Dapurbiya ini juga melalui proses panggang. Klappertaart, bisa bertahan dua pekan di dalam lemari pendingin.‬

Untuk harganya, cukup terjangkau senilai Rp12 ribu untuk varian original dan pandan. Sedangkan mochaccino dipatok Rp13 ribu, keju dan coklat Rp14 ribu serta varian rasa durian Rp16 ribu, masing-masing persatuannya.

‪Dalam proses pembuatan aslinya, klappertaart ini memakai rhum. Namun di Dapurbiya, tidak menggunakan rhum, sehingga klappertaart ini maupun menu lainnya halal.‬

Untuk pemasaran, Reza masih mengandalkan online. Dengan BBM dan WA. (dia)

594

gnews.online |

Minuman Green Tea belakangan ini menjadi incaran bagi banyak orang, karena selain memiliki rasa yang nikmat dan segar, Green Tea juga terkenal banyak memiliki khasiat yang berfungsi untuk menjaga kesehatan tubuh.

Seperti minuman Green Tea khas dari The Harvest yang di beri nama ‘Frozen Green Tea’, ini juga menjadi minuman yang digemari para pengunjungnya karena selain diberi nama yang unik juga memiliki cita rasa nikmat.

Minuman Frozen Green Tea dari The Harvest ini benar-benar terasa nikmat karena selain Green Tea yang diolah memiliki kualitas yang baik, Frozen Green Tea ini juga disajikan menyerupai milkshake sehingga cita rasa Green Tea sangat terasa segar.

Selain itu Frozen Green Tea ini juga dipadukan dengan Jelly yang berwarna hijau di dalamnya, lalu diberi topping Wheep cream dan taburan kacang di atasnya. Perpaduan inilah yang membuat rasa si Frozen Green Tea ini unik dan tampilannya yang menarik tentunya.

Selain menikmati minuman Frozen Green Tea ini, kita juga bisa menikmati beragam menu lainnya yang telah disajikan oleh The Harvest ini dan tentunya menu yang tak kalah menarik dan menggugah hati untuk mencicipi nya.

Selain menikmati menu-menu di The Harvest ini, The Harvest juga memiliki tempat yang sangat nyaman dan luas dan dihiasi oleh lampu-lampu kristal yang elegan serta patung-patung yang unik yang membuat para pengunjung betah untuk berlama-lama di tempat ini.

Dan untuk menikmati si Frozen Green Tea ini dan menikmati suasana dari The Harvest ini, bisa langsung berkunjung ke alamat The Harvest yang terletak di Jln. Dr. Cipto No.8 Medan. Selain menu yang disajikan menarik, harganya juga terjangkau.

Meskipun banyak varian Green Tea yang telah disajikan di berbagai resto lainnya,  tapi belum tentu kesegaran dan cita rasanya sama seperti si Frozen Green Tea khas The Harvest ini. Selain segar juga menyehatkan tubuh. (ice)

1371

gnews.online |

Toge Panyabungan merupakan minuman khas yang berupa racikan beberapa bahan seperti lupis, cendil, pulut hitam, pulut tape putih, cendol, yang disiram dengan santan dan gula aren.

Mendengar namanya banyak yang menyangka Toge Panyabungan merupakan jenis sayur. Tapi ternyata Toge Panyabungan merupakan minuman khas Sumatera Utara yang manis. Toge Panyabungan sudah menjadi minuman berbuka semua suku dan kalangan saat Ramadhan.

Minuman khas Panyabungan, Mandailing Natal ini biasanya dijadikan menu berbuka yang menjadi buruan penikmatnya. Dan biasanya, para penikmat mudah menemukannya saat Bulan Ramadhan. Untuk saat ini beberapa pedagang Toge Panyabungan banyak berjualan di sekitaran Masjid Perjuangan 45, Jalan H.M Yamin.

Dari banyaknya pedagang makanan dan berbuka puasa di sekitaran Masjid Juang 45, sebagiannya merupakan pedagang Toge Panyabungan. Biasanya mereka sudah bersiap berjualan sejak pukul 14.00 siang hingga saat berbuka.

Memang jika dilihat dari jauh Toge Panyabungan hampir seperti es campur atau es cendol. Namun yang membedakannya adalah ragam jenis campuran makanan yang terkandung di dalamnya. Tak hanya santan, gula merah dan cendol, namun ada pulut hitam, pulut tape, candil, dan lupis yang menambah nikmat racikan Toge Panyabungan.

Pedagang Toge Panyabungan, Mia mengungkapkan bahwa dirinya telah selama sepuluh tahun berjualan Toge Panyabungan setiap tiba Bulan Ramadhan. (mab)

401

gnews.online |
Jika Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) di bidang kuliner kebanyakan berfokus mengajari siswanya mengolah masakan Barat, namun tidak dengan dua SMK di Kudus, Jawa Tengah.

SMK Negeri 1 Kudus dan SMK PGRI 2 Kaliwungu mengajarkan siswanya untuk mengolah masakan tradisional dengan kualitas terbaik.

Kedua SMK ini mendapat tuntunan dari pakar kuliner Indonesia William Wongso. Tak heran mereka mampu mengolah makanan dan minuman tradisional Indonesia seperti nasi tumpeng, kue lumpur, nasi goreng kampung nagasari, es bir pletok dan puluhan lainnya dengan standar terbaik.

Untuk bisa mengajarkan siswa mengolah makanan minuman tradisional dengan baik, sekolah ini juga menyediakan kelas yang terintegrasi dengan standar dapur internasional. Ada juga restoran sebagai latihan mengelola bisnis katering.

Kualitas pendidikan kuliner terbaik ini diharapkan dapat membuat siswanya bekerja di restoran, restoran hotel, restoran kapal pesiar, serta guru kuliner yang memberikan kursus atau menjadi food journalis atau food blogger, seperti mengutip buku Vocational School Improvement Program dari Bakti Pendidikan Djarum Foundation. (lip6/ayb)

618

gnews.online |

Pakat, pucuk rotan yang satu ini selalu menjadi idola di setiap bulan Ramadhan. Tidak heran, banyak pedagang musiman yang menjual makanan yang rasanya pahit dan sedikit rasa kelat ini.

Kuliner yang satu ini, awalnya banyak diminati suku Mandailing. Namun belakangan ini, peminatnya semakin berkembang. Bahkan pecinta batang rotan muda ini, semakin bertambah saja.

“Udah lama, kita jualan di sini. Sudah belasan tahun. Tidak ada perubahan. Pembeli tetap banyak,” ujar Madan Harahap pedagang pakat di Jalan Letda Sujono, Selasa (7/6).

Jika di hari biasa, Madan hanya menyediakan 3 hingga 4 ikat pakat dengan rata-rata 125 hingga 150 ikat batang pakat. Ketika Ramadhan meningkat berlipat-lipat. Bahkan mencapai 15 ikat.

Mengkonsumsi pakat, bisa meningkatkan selera makan. Tidak hanya itu, pakat ini bisa menjaga kesehatan tubuh. Pakat ini, dijual perbatang seharga  Rp2 ribu.

Bagi anda yang belum pernah mencoba menu yang satu ini, bisa mendapatkan di beberapa titik di kota Medan. Selain di Jalan Letda Sujono, juga ada di Jalan SM Raja.

Menikmati pakat ini, bisa dengan berbagai cara. Bagi yang suka pahit, cukup dengan sambal tuk-tuk, atau  sambal merah dengan perasan jeruk nipis.

Namun, bagi yang tidak ingin repot. Madan juga menyediakan bumbu pakat yang sudah dikemas sederhana.

Untuk bumbu anyang ini, Madan Boru Harahap juga menyediakannya. Dimana bahan-bahannya menggunakan beras gongseng, jeruk nipis, kelapa gongseng.

“Ini makanan alami tanpa pupuk.  Bumbu ini kita jual seharga Rp5 ribu hanya bisa bertahan satu malam saja,” ujarnya. (dia/mab)

1226

gnews.online |

Belakangan ini sop durian semakin populer di berbagai daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Jogja, Bandung termasuk juga Medan. Bagi penikmat durian ini, wajib mencoba menu yang satu ini di Cafe Durian Maidanii.

IMG-20160604-WA0013-800x800

Sop durian ini, memiliki cita rasa tinggi. Meski menu serupa dengan daerah lain, namun semua citarasa sop durian di cafe Durian Maidanii ini  menggunakan durian Sidikalang.

“Durian Sidikalang memiliki cita rasa  manis pahit. Selain itu legitnya juga dapat serta teksturnya berserat dan lembut,” ujarnya.

Dia mengaku, mengandalkan durian Sidikalang ini untuk dapat memuaskan lidah pelanggan. Karena biasanya di daerah lain, kadang daging duriannya ada yang terasa hambar, atau ada yang manis saja tanpa ada rasa pahit.

Sop durian ini, layaknya seperti buah. Dimana sop durian ini memiliki komposisi daging buah durian Sidikalang, kemudian susu creamer, es batu kemudian diberikan toping keju parut, nangka dan kelapa muda.

Perpaduan ini, membuat anda penikmat durian ketagihan. Menu ini kemudian disajikan dalam mangkuk berkaki tinggi. Tidak sedikit penikmat durian yang datang setiap hari di cafe durian Maidanii di Jalan M Yamin Medan No 121 Medan, untuk dapat menikmati olahan durian ini.

“Selain penikmat durian, pelancong juga suka dengan sop durian ini,” ujar Marzuki.

Bagi anda yang ingin menikmati sop buah ini, Cafe Durian Maidanii ini biasanya buka dari pukul 13.00 sampai pukul 22.00.

“Tapi selama bulan puasa, kita  buka mulai pukul 15.00 sampai pukul 23.00,” ujar Marzuki.

Nah, jika ingin menikmati sop durian Medan, sekarang tersedia di cafe durian Maidanii hanya dengan Rp18.000 per porsinya. (dia)

979

gnews.online|

Bagi penikmat durian, belakangan banyak kuliner yang menjajakan olahan buah berduri ini. Mulai dari kolak durian, sop durian, pancake durian dan masih ada sejumlah inovasi lainnya.

Adalah Radja Pancake durian di Jalan Muchtar Basri, sejak tahun 2010 lalu, memproduksi olahan daging durian dengan kualitas terbaik. Tanpa menggunakan zat pengawet. Rasanya pun pas dilidah.

Pancake durian ini, selain menggunakan daging durian berkualitas, juga memiliki kulit yang lembut dan cream yang manis. Sangat sayang, jika anda tidak mencobanya. Apalagi pancake ini, dibuat tanpa menggunakan bahan pengawet.

IMG-20160604-WA0005_crop_464x715

Untuk kulit pancakenya juga, diproduksi sendiri. Pancake durian ini, memiliki beberapa varian. Reguler, medium dan mini. Dengan tiga pilihan rasa masing-masing original dan pandan, rainbow.

“Untuk pancake mini, itu isinya 18 potong. Lebih banyak isi, dan ukuruannya lebih kecil. Pilihan ini hadir untuk memudahkan berbagi dengan teman-teman. Warnanya juga lebih menarik. Harganya Rp70.000 per kotak,” ujar pemilik usaha Radja Pancake Durian, Richi Hamdani Siregar.

Kemudian untuk pilihan medium, kata pemilik akun  facebook richi hamdani,
isinya 10 potong. Bentuk dan ukurannya lebih sedikit dan lebih kecil dari yang reguler.

“Ini lebih ekonomis, harganya Rp50.000,” ujarnya seraya menambahkan untuk order bisa melalui akun facebook atau whatsapp 082166346333.

“Sedangkan yang reguler, itu isinya lebih besar. Lebih terasa duriannya,” ujarnya.

Di Medan sendiri, produk Radja Pancake ini masih by order. Karena sampai saat ini, belum memiliki outlet. (dia)

3438

gnews.online|

Meski sudah belasan tahun menyediakan mie ayam jamur. Namun suasana sederhana masih bisa dirasakan di Mie Ayam Jamur Amigos H Mardi di Persimpangan Jalan Abdullah Lubis dengan DI Panjaitan.

Hanya dengan satu becak, tenda dan beberapa meja dan bangku. Lokasinya yang berada persis di samping selokan, yang membuat mie ayam ini dijuluki Amigos,”Agak minggir got sikit,”.

IMG_20160602_143923_HDR_crop_601x405

Tapi jangan salah, meski begitu, banyak pengunjung yang menjadi pecinta mie ayam ini. Tidak jarang pengunjung harus  mengantri mendapatkan tempat duduk untuk bisa menikmati lezatnya mie ayam jamur H Mardi. Suasana dirasakan menjadi  nyaman  dengan hembusan angin, sambil menikmati mie ayam jamur ini.

Menurut pengakuan pengelola mie ayam jamur Amigos H Mardi, Fery, mie ayam ini tidak hanya disukai masyarakat Kota Medan saja. Karena sejumlah penikmat mie ayam ini ada yang datang dari Jakarta dan Bandung.

Mungkin, sebutnya, dengan carikan mie ayam yang memang diolah sendiri. Mie ayam jamur ini, mengandung campuran bawang merah dan putih. Kemudian sawi, semur ayam dan jamur serta telur.

“Jamur dan telur dan potongan daging ayamnya, keseluruhannya dimasak semur,” ujarnya.

Selain itu, mie yang digunakan juga tanpa zat pengawet. “Mie nya juga kita pesan khusus. Jadi tidak seperti mie ayam umumnya. Ini mie nya tidak menggunakan pengawet,” ujar Fery.

Inilah yang membuat mie yang digunakan sebut Fery tidak bisa bertahan lama. “Paling lama hanya tiga hari. Kalau sudah lewat, tidak bisa dipakai lagi,” ujarnya.

Mie Ayam Jamur H Mardi ini,  buka sejak pukul 11.00 Wib hingga 18.00 Wib. Untuk bisa menikmati mie ayam jamur ini, hanya dengan Rp13.000 perporsinya. Biasanya tempat ini ramai sekira pukul 13.00 Wib dan 16.00 Wib. (dia)

384

MEDAN-GNews:Beragam usaha kuliner di Sumatera Utara begitu mudah bertumbuh. Namun ternyata hingga saat ini, 99% diantaranya belum dilengkapi dengan sertifikasi halal.

Masih minimnya kuliner yang yang melengkapi dengan sertifikasi halal ini, disebabkan kerelaan dari pengusaha sendiri.

“Baru satu persen yang sudah tersertifikasi,”ujar Hal ini diungkapkan Direktur Lembaga Pengkajian Pangan Obat-obatan dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) Sumut, Prof Dr Basyaruddin MS, Rabu (13/4/2016).

Disela-sela pelatihan auditor halal LPPOM MUI Sumut Prof Dr Basyaruddin MS menyebutkan, sertifikasi halal ini sangat penting bagi pelaku usaha. Sebab di era pasar bebas ini, hal tersebut menjadi syarat untuk meningkatkan daya saing.

Ditambah lagi sambungnya, kesadaran masyarakat akan pentingnya mengonsumsi makanan halal semakin baik. “Masyarakat sekarang sudah mulai cerdas dalam memilih makanan,”ujarnya.

Kesadaran masyarakat ini yang kemudian mendorong pelaku usaha yang bergerak dibidang kuliner untuk melengkapi sertifikasi halal tersebut. G15