Sunday, December 16, 2018
Tags Posts tagged with "Penderita"

Penderita

368

MEDAN – gnews.online |

Jumlah penderita kanker setiap tahun mengalami peningkatan yang signifikan. Diperkirakan sebanyak 8,2 juta orang meninggal setiap tahunnya akibat kanker di seluruh dunia. Angka ini akan terus meningkat jika tidak dilakukan upaya pencegahan.

Oleh karena itulah, diharapkan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Sumut dapat membantu mengendalikan angka penderita kanker di daerah ini.

Hal itu dikatakan Gubernur Sumut Tengku Erry Nuradi saat melantik kepengurusan Yayasan Kanker Indonesia (YKI) cabang Sumut periode 2017-2021, yang digelar di Aula Martabe kantor Gubsu di Medan, Senin (18/9).

Hadir Penasehat Yayasan Kanker Indonesia (YKI) Sumut, Prof. Luhur Suroso, Ketua BKOW Sumut Kemalawati, SKPD Provsu, Ketua Organisasi wanita dan organisasi profesi sumut, para dokter dan tenaga medis.

Dalam kesempatan itu, Tengku Erry juga mengatakan, dari 8,2 juta orang meninggal akibat kanker di dunia, 4 juta diantaranya meninggal prematur (usia 30-69) tahun. Angka ini meningkat dari sebelumnya 7,6 juta tahun 2008 dan akan terus meningkat menjadi 11,5 juta pada tahun 2025 jika tidak dilakukan upaya pencegahan dan pengendalian secara efektif.

Di Indonesia, kata Erry, prevelensi penyakit kanker juga cukup tinggi. Berdasarkan data riset kesehatan dasar tahun 2013, prevelensi tumor/kanker di Indonesia adalah 1,4 per-1000 penduduk, atau sekitar 347.000 orang.

“Kanker tertinggi di Indonesia pada perempuan adalah kanker payudara dan kanker leher rahim. Sedangkan laki-laki adalah kanker paru dan kanker kolorektal,” tutur Erry.

Berdasarkan data Globocan, International Agency for Research on Cancer (IARC) tahun 2012, insidens kanker payudara sebesar 40 per-100.000 perempuan, kanker leher rahim 17 per-100.000 perempuan, berdasarkan data sistem informasi rumah sakit 2010, kasus rawat inap kanker payudara 12.014 kasus (28,7 persen), kanker leher rahim 5.349 kasus (12,8 persen).

“Para ahli memperkirakan 43 persen kanker dapat dicegah dengan mengurangi faktor resikonya yakni merokok dan terpapar asap rokok, tidak mengkonsumi alkohol, memproteksi kulit dari paparan sinar ultra violet, menghindari obesitas dengan diet seimbang dan aktivitas fisik,” terang Erry.

Dikatakan Erry, besar harapannya dengan dilantiknya pengurus baru Yayasan Kanker Indonesia cabang Sumut ini ke depannya dapat terjalin kemitraan yang kondusif untuk upaya mengendalikan kanker.

“Kita ketahui semua tidak dapat berjalan jika tidak adanya dukungan dari lintas program, lintas sektor dan peran serta masyarakat,” ucap Erry.

Selain itu, Erry juga mengharapkan dengan adanya kehadiran Cancer Information and Support Centre (CISC) Sumut ini dapat membantu masyarakat untuk mendapatkan informasi yang seluas-luasnya, tentang penyakit kanker dan penanganannya.

Ketua YKI cabang Sumut yang baru dilantik, Evi Diana Sitorus mengatakan, YKI sudah berdiri sejak 7 April 1977 sebelumnya bernama Yayasan Lembaga Kanker Indonesia yang didirikan oleh 17 orang tokoh nasional yang diantaranya Dr. Moch Hatta, Dr. GA Siwabessy, Ali Sadikin dan Dr Arifin M Siregar.

“YKI merupakan organisasi nirlaba dan tujuannya untuk mengupayakan penanggulangan kinder dengan kegiatan promotif, preventif dan suportif. Namun kita sadari penanggulangan kanker hanya mungkin berhasil bila dilakukan oleh semua pihak,” ujar Evi.

Dikatakan Evi, YKI Sumut telah melaksanakan tugasnya hampir mendekati 3 dasawarsa. Diantaranya memberikan penyuluhan tentang kanker di berbagai daerah kota dan kabupaten di Sumut. Sembari melakukan kegiatan deteksi dini kanker wanita dengan pemeriksan papsmear.

Selain itu, dilakukan pelatihan bagi tenaga kesehatan untuk deteksi dini kanker dengan menyediakan klinik deteksi dini kanker yang berada di secretariat YKI cabang Sumut. “Selain itu kami juga melakukan pencatatan kasus dan registrasi kanker bekerjasama dengan YKI Pusat, YKI kabupaten/kota se Sumut serta pusat-pusat pelayanan kesehatan lainnya,” paparnya.

Lebih lanjut dikatakan Evi, YKI saat ini sudah berdiri di 5 kabupaten/kota di Sumut yakni Tobasa, Taput, Deli Serdang, Asahan, Dairi dan Siantar. “Saya berharap agar kabupaten/kota lainnya juga dapat segera membentuk YKI,” ujar Evi.

Evi mengatakan, beragam faktor menyebabkan tingginya angka kematian akibat kanker. Antara lain, pola dan gaya hidup masyarakat, minimnya pengetahuan dan informasi masyarakat untuk mengetahui adanya kanker secara dini sehingga kanker selalu didiagnosa sudah terlambat dan dalam stadium yang sudah lanjut.

“Makanya tidak benar jika mengatakan bahwa kanker merupakan penyakit mematikan yang tidak dapat disembuhkan karena kanker dapat disembuhkan jika diketahui sedini mungkin,” jelasnya.

Oleh karena itulah kata Evi, tugas YKI cabang Sumut masih cukup berat dan diharapkannya ke depannya masih membutuhkan bantuan semua pihak untuk mendukung dan membantu baik moril dan materiil dalam berjuang menekan angka kematian akibat penyakit kanker di Sumut. (art)

205

gnews.online |

Rumah sakit khusus mata milik Pemerintah Provinsi Sumatera Utara diresmikan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi di Jalan Kapt Sumarsono No.1 Medan, Jumat (2/6).

‘’Dengan adanya rumah sakit khusus mata ini pelayanan masyarakat di Sumatera Utara khususnya di bidang mata bertambah,’’ kata Tengku Erry usai penandatanganan prasasti yang juga dihadiri Kadis Kesehatan Provsu Agustama dan Kepala UPT RS Khusus Mata Dinkes Provsu dr Kustina MKes.

Menurut Erry, masalah kebutaan pada masyarakat sangat erat kaitannya dengan pengetahuan masyarakat tentang pentingnya kesehatan mata. Ini lanjut Gubsu, terlihat dari kunjungan pasien yang datang berobat ke UPT rumah sakit mata yang paling sering yaitu penyakit katarak, myopia, kelainan retina, glaukoma dan lain-lain. “Ini bila tidak diobati akan menimbulkan kebutaan pada masyarakat,” ujar Gubsu.

Oleh karenanya diharapkan petugas kesehatan melacak dan mencari penderita sebanyak-banyaknya untuk diobati di pelayanan mata di UPT rumah sakit khusus mata.

“Petugas kesehatan khususnya mata diharapkan lebih aktif lagi mencari para penderita khususnya penyakit mata, karena masih banyak masyarakat belum memahami adanya RS UPT khusus mata ini. Guna peningkatan pelayanan kesehatan kepada masyarakat,” ujar Gubsu.

Gubsu juga mengharapkan selain pelayanan, sumber daya manusia bidang pelayanan kesehatan masyarakat ini harus ditingkatkan sehingga masyarakat dapat dilayani secara profesional.

“Bila memungkinkan diberikan insentif bagi dokter-dokter spesialis khususnya spesialis mata, guna memberi semangat dan memberikan pelayanan yang maksimal kepada masyarakat,” sebut Gubsu Erry.

Selain itu infrastruktur rumah sakit juga harus terus ditingkatkan dengan pengadaan fasilitas-fasilitas dan peralatan yang reprenstatif. “Sehingga pelayanan maksimal dan profesional dapat dirasakan masyarakat,” harap Erry.

Sementara Kadis Kesehatan Provsu Agustama mengharapkan dengan keberadaan RS ini dapat menjadi RS Khusus mata yang profesional sesuai dengan keinginan masyarakat.

UPT RS Khusus Mata ini lanjutnya memiliki visi sebagai pusat pelayanan rujukan kesehatan mata dan THT masyarakat Provinsi Sumatera Utara. “Salah satu misinya memberikan pelayanan prima kesehatan mata dan THT masyarakat secara profesional,” ujar Agustama.

Disampaikan Agustama bahwa UPT RS khusus mata melayani dua pelayanan kesehatan mata dan THT. Setiap tahun sejak tahun 2014 pelayanan mata dan THT meningkat, terlihat dari kunjungan berobat jalan sebanyak 8.996 kunjungan. Tahun 2015 kunjungan berobat jalan sebanyak 15.779  dan 2016 sebanyak 15.978 kunjungan.

“UPT RS Khusus Mata juga melakukan operasi katarak dengan jumlah operasi sebanyak 230 pasien dengan menggunakan alat Phacoemulsi,” sebut Agustama.

Sedangkan sumber daya manusia di UPT RS Khusus Mata ini memiliki 3 orang dokter spesialis mata dan 1 orang dokter spesialis THT. Jumlah keseluruhan pegawai di UPT RS Khusus Mata sebanyak 104 orang.

“Mohon dukungan Bapak Gubernur, untuk memberikan pelayanan maksimal dan profesional kepada masyarakat Sumatera Utara, khususnya untuk pelayanan mata,” harap Agustama.(art)