Wednesday, April 25, 2018
Tags Posts tagged with "Ramadhan Fair"

Ramadhan Fair

344

gnews.online | Mendengar namanya, mungkin bertanya-tanya, ini jenis ini ikan apa ya? Namanya kok aneh, belum pernah dengar. Mungkin ada yang berpikir kalau ini adalah jenis ikan, tapi jangan salah karena ini bukan nama ikan tapi cara tradisional memasak ikan khas Tapanuli Tengah – Sibolga.

Pacak, dalam bahasa Sibolga atau pesisir artinya menepuk-nepuk secara lembut. Begitulah panggang pacak, dibuat dengan cara menepuk-nepuk ikan secara lembut dengan batang serai yang dicelupkan ke dalam bumbu.

Ya, ikan panggang pacak  atau ikan bakar tepuk adalah ikan yang diberi bumbu dan didibakar layaknya ikan bakar. Tapi hal yang membedakannya dengan ikan bakar umumnya adalah, ikannya diberi bumbu yang telah diracik dan ditaburkan ke ikan saat dibakar, dengan cara menepukkan bumbu ke ikan menggunakan batang serai tadi.

Aroma ikan panggang pacak ini saat dibakar sangat harum, membuat hidung ingin mengikuti harumnya dan ingin mengetahui dari mana asalnya.

Konon, ikan panggang pacak adalah salah satu makanan yang sangat populer di kalangan warga Tapanuli Tengah dan Sibolga. Salah satu makanan khas daerah sana juga.

Tapi bagi warga Medan yang asal sana, atau asal daerah lain namun kepingin menyicipi makanan khas daerah pesisir barat Sumatera Utara ini, tak usah berpikir harus jauh-jauh ke Sibolga untuk merasakan sensasi nikmat makan panggang pacak. Karena di beberapa rumah makan khas Sibolga juga menyediakan menu ini.

Dan khususnya di bulan Ramadhan tahun ini, panggang pacak juga tersedia di Ramadhan Fair, tepatnya di stand Karang Taruna Kota Medan.

Dwi Priyanti Panjaitan, adalah pelaku usaha yang menyediakan panggang pacak di stand tersebut. Dwi yang kedua orangtuanya asli Sibolga, mengatakan masyarakat Sibolgalah yang pertama kali menemukan racikan makanan ini. Hampir semua rumah makan di daerah itu menyuguhkan masakah yang serba pedas tersebut.

Ikan panggang pacak memiliki aroma yang melekat di hidung, dari serai menyeruak. “Ya, kalau mencium wanginya saja, akan menggoda selera untuk menyantapnya,” ujar Dwi sambil senyum.

Biasanya, jenis ikan yang digunakan adalah ikan gembung, kakap, gabus , mas atau senangin. Tapi khusus untuk kali ini, Dwi menggunakan ikan gembung.

“Cara memasaknya gampang-gampang susah, yang penting harus sabar dan telaten membolak balik ikan yang dipanggang sekitar 30 menit,” katanya.

Saat dipanggang itu ikan telah dilumuri dengan bumbu khasnya. Sesekali, harus menyelupkan batang serai ke dalam bumbu lalu ditepuk-tepuk lagi ke ikan yang sedang dipanggang. Jika ingin lebih nikmat, biasanya ikan dipanggang menggunakan batok kelapa atau kulit kemiri kering. Jangan pakai arang, karena dijamin ikannya akan menjadi bau asap.

“Ikan panggang pacak memiliki beragam paduan bumbu masak sederhana, seperti serai , kelapa, dan wajib pedas dengan cabai dicampur dengan kunyit dan asam. Sedikit garam dan jeruk nipis,” paparnya.

Kelapa untuk dilumurkan ke ikan harus diparut lalu digiling bersama dengan bumbu lain. Wajib digiling, bukan diblender karena masakannya bisa mengeluarkan bau yang tidak enak.

“Lalu bumbu siap dioleskan di atas ikan yang sedang dipanggang secara merata,” imbuhnya, seraya mengatakan , untuk menjaga aroma ikan usahakan menjaga bara tidak mengeluarkan api, karena jika ada api ikannya bisa menjadi bau sangit.

Ikan panggang pacak lebih lezat jika disantap dalam keadaan hangat atau panas. Cukup dipadukan dengan nasi putih panas, lalu dicampur dengan terung sambal dan daun ubi tumbuk. Rasanya maknyus.

Selain panggang pacak, Dwi juga menyediakan pale, juga olahan ikan khas Sibolga. Pale ini bumbunya hampir sama dengan panggang pacak, tapi yang ini cara memasaknya dibungkus daun pisang, hampir sama dengan ikan pepes.

Nah, untuk menikmati ikan panggang pacak atau pale, memang tidak harus pergi ke Sibolga, kamu bisa datang ke stand Karang Taruna Medan di Ramadhan Fair. Silahkan, kalau setelah itu mau mencoba bikin sendiri. (koh)

189

gnews.online |

Gubernur Sumatera Utara (Sumut) Ir H Tengku Erry Nuradi MSi mengimbau Pemerintah Kabupaten (Pemkab) dan Pemerintah Kota (Pemko) untuk memanfaatkan Pondol Ramadhan Sumatera Utara (PRSU) Fair menjadi wadah promosi produk Usaha Kecil Mikro dan Menengah (UMKM) unggulan dari 33 Kabupaten/Kota di Sumut.

Imbauan itu dikemukakan Tengku Erry Nuradi saat membukan Pondok Ramadhan Sumatera Utara Fair (PRSUF) di lokasi Pekan Raya Sumatera Utara (PRSU) Tapian Daya, Jl Gatot Subroto Medan, Jumat (10/6) malam.

Dalam kesempatan itu, Erry menyatakan apreasiasi kepada penyelenggara PRSUF yang telah melakukan terobosan dengan menggelar kegiatan bernuansa religi di bulan suci Ramadhan 1437 Hijriyah tahun 2016.

“Ini adalah PRSU Fair perdana. Selama ini, kawasan ini hanya digunakan untuk kegiatan Pekan Raya Sumatera Utara yang berlangsung tiap tahun. Tahun ini, di lokasi ini juga digelar kegiatan bernuansa religi bagi masyarakat. Ini suatu terobosan yang layak mendapat apresiasi,” sebut Erry.

Selain memberikan hiburan kepada masyarakat dengan menghadirkan sejumlah group musik dari Jakarta, pihak penyelenggara juga menyiapkan stand bagi pedagang kuliner dan produk UMKM.

“Alhamdulillah, semua stand gratis. Tidak dipungut biaya. Pedagang dan pelaku usaha dapat berjualan dengan memanfaatkan stand yang tersedia,” sebut Erry.

Untuk menyemarakkan PRSUF, Erry juga mengimbau Pemkab dan Pemko memanfaatkan faviliunnya dengan memajang berbagai produk unggulan masing-masing daerah yang bermuara pada terciptanya kerjasama bisnis dengan konsumen maupun pihak lain.

“Tiap daerah punya produk unggulan. Mari kita manfaatkan PRSU Fair ini untuk ajang promosi produk unggulan dari 33 Kabupaten dan Kota. Kita berharap, kawasan PRSU ini menjadi lokasi padat karya, tidak hanya digunakan untuk kegiatan PRSU saja tiap tahunnya,” harap Erry.

Pihak penyelenggara juga diharapkan mengemas lomba bagi faviliun Kabupaten/Kota yang sukses menjual produknya. “Bisa jadi penilaian berdasarkan jumlah produk yang terjual. Mana faviliun yang paling banyak menjual produknya, akan mendapatkan apresiasi dari pihak penyelenggara,” saran Erry.

Tidak lupa Erry berpesan bagi penyelenggara PRSUF untuk mengemas berbagai kegiatan bernuansa religi, tidak hanya pusat kuliner, UMKM dan hiburan semata. Tentu PRSUF akan semakin menarik jika dipadu dengan kegiatan syiar Islam seperti perlombaan tahtim, lomba ayat-ayat pendek bagi anak-anak, termasuk sebagai ajang mencari bakat seni bernuansa Islam bagi generasi muda, seperti lomba dakwah atau melukis kaligrafi Alquran, lomba adzan atau lainnya. Semua peserta lomba merupakan perwakilan dari Kabupaten dan Kota di Sumut.

“PRSUF juga berpotensi sebagai ajang menggelar pemilihan Jaka dan Dara Religius yang dikemas dalam Kontes Duta Ramadhan. Nanti finalis Duta Ramadhan akan kita bawa dalam roadshow bersama Tim Safari Pemerintah Provinsi bersilaturahmi ke Kabupaten dan Kota,” cetus Erry.

Sementara Ketua Pantian PRSUF 2016, Erwin Kampusi mengatakan, PRSUF Perdana juga menggelar sejumlah lomba bernuansa religi bagi masyarakat.

“Tujuannya untuk menyemarakkan PRSUF. Ini juga sebagai ajang mencari bakat bagi generasi muda,” sebut Erwin.

Erwin merinci, sejumlah lomba yang diantaranya lomba adzan (11-12 Juni), lomba sholawat (14-15 Juni), lomba hijab dan Kaligrafi (18-19 Juni), lomba saritilawah (1-22 Juni), lomba marhaban (25-26 Juni) dan band religi (28-29 Juni).

Selain lomba, pihak penyelenggara juga menampilkan hiburan religi bagi pengunjung dengan mendatangkan sejumlah group musik dari Jakarta. Sebagai pembuka, panitia menampilkan group musik Wali. Sedangkan group musik lainnya yakni GIGI Band (17 Juni), Opick (27 Juni) dan Rhoma Irama dan Soneta (2 Juli) mendatang.

“Selain hiburan, kita juga mengundang Ustadz Syeikh Ali Jabeer pada 16 Juni mendatang, Ustadz Zacky Mirza pada 23 Juni dan Usatadz Wijayanto pada 30 Juni. Untadz ini akan memberikan pencerahan dan tausyiah agama kepada para pengunjung,” papar Erwin. (ayb)