Friday, August 23, 2019
Tags Posts tagged with "RS USU"

RS USU

197

gnews.online | Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU) diwacanakan menjadi pusat pelatihan  fisikawan medis di wilayah barat. Hal itu sejalan dengan rencana penambahan alat QC RDI dari IAEA (International Anatomic Energy Agency).
Hal itu terungkap dalam pertemuan antara USU-RS USU dengan National Project Coordinator (NPC) dari IAEA di Aula Rapat Direksi RS USU.
Hadirdalam kesempatan itu Sekretaris Universitas USU Dr. dr. Farhat, M.Ked.(O.R.L-H.N.S), Sp.T.H.T-K.L.(K.), jajaran Direksi RS USU yakni Direktur Utama,  Dr. dr.Syah Mirsya Warli,Sp.U(K), Direktur Bidang Pelayanan Medik dan Keperawatan  dr Riyadh Ikhsan, M.Ked (DV), Sp.KK,  Direktur Diklat, Penelitian dan Kerjasama dr Sake Juli Martina, Sp.FK dan Direktur Bidang Sarana dan Prasarana Dr Achmad Delianur Nasution. Hadir juga  Kepala Instalasi Radiologi RS USU dr Elvita Rahmi Daulay, MKed (Rad), Sp. Rad (K) .
Sementara tamu yang hadir Supriyanto  Ardjo Pawiro, PhD sebagai National Project Coordinator (NPC) dari IAEA (International Anatomic Energy Agency) dan Lukmanda Evan Lubis, SSi., MSi, sebagai staf Fisika Medis (UI).
Kedatangankedua tamu itu antara lain terkait rencana penambahan alat QC RDI dari IAEA ke RS USU dan menjadikan RS USU pusat pelatihan fisikawan medis di Indonesia bagian barat.
Direktur Utama RS USU Dr. dr.Syah Mirsya Warli,Sp.U(K), Sabtu(10/3) menyampaikan apresiasi dengan kehadiran kedua tamunya.

‘’Kami sebagai rumah sakit pendidikan mengedepankan  kemajuan teknologi khususnya bidang penelitian dan pendidikan,’’ terangnya.
Diungkapkan Dirut, sebelumnya RS USU meraih peringkat kedua penghargaan Si-INTAN. Penghargaan Si-INTAN merupakan penghargaan yang dianugerahkan oleh Badan Pengawas Tenaga Nuklir (BAPETEN). BAPETEN telah menyediakan sebuah aplikasi untuk program database data dosis radiasi pasien radiologi yang dikenal dengan sebutan Sistem Informasi Data Dosis Pasien (Si-INTAN)
Aplikasi Si-INTAN dapat dimanfaatkan secara independen dan mandiri oleh pemegang izin sebagai sarana untuk melakukan pencatatan, perekaman, dan pengelolaan data dosis pasien sebagai bagian dari upaya optimimasi proteksi dan keselamatan pasien radiologi.
‘’Kita divisitasi apakah layak untuk penempatan alat quality control,kami akan siapkan perlengkapan yang dibutuhkan. Saya berharap hal itu membawa dampak positif untuk USU dan RS USU,’’ terangnya.
Supriyanto  Ardjo Pawiro, PhD sebagai National Project Coordinator (NPC) dari IAEA (International Anatomic Energy Agency) dalam paparannya antara lain menyampaikan jika alat itu nantinya akan digunakan untuk mengontrol dosis radiasi yang nantinya akan digunakan sebagai proteksi radiasi sesuai sesuai standard IAEA.
Menurut Supriyanto, pihaknya tertarik menawarkan kerjasama dengan USU dan RS USU yang nantinya akan dikembangkan menjadikan  USU sebagai TC Fisika Medis wilayah barat.

Menurutnya, ada peranan fisikawan medis di Indonesia dan saat ini dibutuhkan 1.500 tenaga fisikawan medis. Sementara tenaga yang tersedia baru 250 orang dari anggota Fisikawan Medis yang terdaftar resmi yakni 450 orang. (Dev)

231

gnews.online | Keberadaan Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU) merupakan wujud kepedulian untuk memenuhi kebutuhan pelayanan kesehatan masyarakat, serta mendukung kesinambungan kegiatan pendidikan di lingkungan sivitas akademika USU. 

Demikian disampaikan Direktur Utama RS USU, dr Azwan Hakmi Lubis, SpA saat menerima kunjungan silaturrahmi Direktur RS PTN UNAIR Surabaya Prof. Dr. Nasronudin, Sp. PD, KPTI – FINASIM di RS USU Jumat pagi (17/11). 

Hadir dalam kesempatan para Kabag dan Kasubbag di lingkungan RS USU dan staf dari RS UNAIR.

Di hadapan Prof. Dr. Nasronudin, Sp. PD, KPTI – FINASIM, yang juga Ketua Asosiasi RS PTN, dr Azwan memaparkan kondisi terakhir RS yang diresmikan Menteri Ristek Dikti Prof Moh Nasir tahun 2016 lalu, yakni sudah mendapatkan akreditasi paripurna RS kelas C. Dan dalam waktu dekat RS USU akan segera membuka Onkologi Centre dan Steam Cell Centre.

Kehadiran Dirut RS UNAIR itu berlangsung di sela-sela kegiatan 1st International Conference on Tropical Medicine and Infectious Diseases (ICTROMI) di Hotel Aryaduta, Medan, pada 15-18 November 2017.

Prof. Dr. Nasronudin, Sp. PD, KPTI – FINASIM, dalam sambutannya di hadapan Dirut RS USU, mengaku kagum dengan perkembangan rumah sakit yang berada di kawasan kampus itu.

Dia kemudian menekankan pentingnya RS USU untuk terus meningkatkan kualitas pelayanannya sehingga menumbuhkan kepercayaan pada masyarakat. Keandalan paramedis serta kelengkapan fasilitas adalah dua hal yang perlu diperhatikan untuk menjadikan RS USU sebagai pilihan utama masyarakat.

Dirut RS UNAIR menyarankan agar RS USU naik type B dan setelah itu B pendidikan apalagi RS USU melayani Thalasemia. Bahkan secara serius Dirut RS UNAIR membuka pelayanan tersebut dan meminta dukungan dari RS USU.

Dalam kunjungan itu, Dirut RS UNAIR melakukan kunjungan singkat dengan berkeliling di beberapa poli pelayanan pasien dan sempat berdialog dengan paramedis dan pasien yang sedang mendapatkan pelayanan. (dev)

830

gnews.online | Untuk lebih meningkatkan kualitas layanan kepada para pasien, sejak 1 April 2017, Rumah Sakit Universitas Sumatera Utarar secara resmi membuka pelayanan praktek bersama dokter spesialis.

Menurut dr Maulidya Ayudika D, Sp.BTKV, selaku penanggungjawab kegiatan, di Medan, Selasa (6/6), pembukaan pelayanan prakter bersama dokter spesialis merupakan salah satu jawaban agar masyarakat yang berobat di RS USU dapat lebih terlayani. Hal itu dilakukan mengingat banyaknya permintaan pasien maupun keluarga pasien untuk mendapatkan pelayanan yang lebih khusus lagi.

Sebagaimana diketahui Rumah Sakit USU adalah entitas Kementerian Riset dan Dikti yang pengelolaannya dilaksanakan oleh Universitas Sumatera Utara. Merupakan salah satu dari 24 RS Perguruan Tinggi Negeri dengan status yang sama.

Menurut dr Maulidya Ayudika, seluruh kegiatan didukung tenaga spesialis dan subspesialis, paramedik dan tenaga administrasi/teknisi/tenaga penunjang lainnya.  Para dokter yang melayani di antaranya dr Rizqi Arini Siregar, M.Ked (PD), Sp.PD (penyakit dalam). Dr Endi T Pasaribu, MSi.Med, Sp. B (bedah umum), dr Fitriyani Nasution, M.Gizi, Sp.GK (gizi klinik), dr Indah Nur Lestari, MKed (Ped), Sp.A (anak), dr Arvitamuriany T Lubis, M.Ked (OG), Sp.OG (kebidanan dan penyakit kandungan),  dr Maulidya Ayudika D, Sp.BTKV (bedah toraks, kardiak dan vaskular), dr Andi Khairul, MKed (cardio), Sp.JP, dr M Yolandi Sumadio, Sp.JP (jantung dan pembuluh darah), dr Dahniel R Siregar, Sp.KFR dan dr Denny Ferdiansyah, Sp.KFR (rehabilitasi medik dan fisioterapi), dr Deni Nasution, Sp.BS (bedah syaraf) dan dr Dina Arwina Dalimunthe, M. Ked (KK), SpKK (kulit dan kelamin).

Selain itu juga dibuka pelayanan dokter gigi dan dokter gigi spesialis. Untuk jam praktek Senin-Jumat, pukul 16:00-20:00, Sabtu, Minggu dan hari besar tutup. Untuk informasi dan pendaftaran di 081263332729/08880760027.

Menurut dr dr Maulidya Ayudika dalam menyelenggarakan pelayanan, praktek itu sama dengan Rumah Sakit USU dengan memilih motto : Kualitas, Aman dan Bersahabat (Quality, Safety and Friendly). Rumah Sakit USU menganut dua nilai dasar; nilai pertama : Salus aegroti suprema lex, yakni : Kepulihan pasien adalah hukum tertinggi (pelayanan berorientasi kepada pasien); nilai kedua adalah Primum non nocere yakni : Pertama adalah tidak membahayakan (patient safety). Kedua nilai tersebut ditampilkan di bagian depan dari bangunan utama Rumah Sakit USU dengan harapan menjadi nilai yang dijiwai oleh seluruh unsur penyelenggara Rumah Sakit USU.

Sementara itu Dr. dr. Nazaruddin Umar, Sp.An, KNA, sebagai Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS USU dalam sambutannya saat membuka klinik spesialis itu menyatakan rasa salutnya dengan paramedis yang terlibat dalam kegiatan dimaksud. Direksi, kata dr Nazaruddin Umar, mendukung penuh upaya pembentukan klinik spesialis itu, apalagi dalam upaya membela orang sakit dan mengobati orang sakit.

Disebutkannya, pasca Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Prof Mohammad Nasir meresmikan Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU) yang berlokasi di Jl. Dr Mansyur depan kampus USU Medan, Senin (09/01/2017), terjadi peningkatan jumlah kedatangan pasien baik rawat jalan maupun rawat inap. Apalagi, sebut dr Nazaruddin Umar, keberhasilan memperoleh akreditasi paripurna bintang lima di RS USU merupakan satu tolak ukur agar pelayanan pasien dan peningkatan mutu memiliki standar.

Untuk itu Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS USU meminta semua pihak di RS USU untuk terus bekerja, bekerja dan bekerja serta berinovasi dalam rangka meningkatkan kualitas layanan ke arah lebih baik lagi.(dev)

541

gnews.online | Teknologi untuk mengatasi gangguan pendengaran semakin maju. Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (RS USU) dalam mengimplementasikan visinya sebagai pusat pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Tekonologi Kedokteran di wilayah Indonesia Barat tahun 2025, maka pada 23 April 2017 RS.USU berhasil melakukan implantasi koklea atau rumah siput yang pertama pada penderita tuli bisu. Implantasi dilakukan selama 2 jam terhadap pasien perempuan berusia 2,5 tahun.

“Pasien yang mengalami ketulian sejak lahir ini akan dapat mendengar dengan baik,sehingga bisa berbicara secara normal,” kata Ketua Tim Implan Koklea RS.USU, Prof. Delfitri Munir, SpTHTKL(K) didampingi Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS. USU, Dr. dr. Nazaruddin Umar, Sp.An.KNA di RS USU Jalan Dr T Mansyur.

Implantasi koklea, ungkap Prof. Delfitri Munir, SpTHTKL(K) adalah prosedur penanaman alat bantu dengar yang dilakukan melalui tindakan operasi pada tulang temporal. Operasi ini diperuntukkan bagi penderita tuli bisu yang tidak tertolong dengan pemakaian alat bantu dengar biasa. Kerusakan pendengaran yang terjadi pada organ telinga  luar (daun telinga) dan  telinga tengah (gendang telinga) masih dapat ditolong dengan alat bantu dengar. Sedangkan kerusakan pada organ telinga dalam (koklea), hanya dapat ditolong dengan implantasi koklea.

‘’Koklea merupakan organ pendengaran yang berfungsi mengirim pesan ke syaraf pendengaran dan otak. Suara ditangkap daun telinga kemudian dikirim ke tulang pendengaran dan bergerak menuju koklea. Operasi koklea atau rumah siput merupakan tindakan menanam elektroda untuk organ pendengaran yang berisi saraf-saraf pendengaran yang terletak di telinga dalam. Elektroda inilah yang yang menggantikan fungsi koklea sebagai organ pendengaran,’’ jelas Prof. Delfitri Munir.

Operasi implan koklea sebaiknya dilakukan pada usia 1-2 tahun, agar hasil pendengarannya lebih baik. Karena alat ditanam, maka gendang telinga tetap utuh dan tidak menimbulkan reaksi atau efek samping yang mengganggu.

Di Indonesia berdasarkan data yang ada,penderita tuli bisu atau gangguan pendengaran sejak lahir berkisar 1-3 dari 1.000 kelahiran bayi. Sehingga ada 5.000 bayi lahir tuli setiap tahun di Indonesia. Akibat bayi yang tidak bisa mendengar, maka bayi tersebut tidak bisa bicara atau bisu. Dengan operasi ini, bayi akan bisa mendengar sehingga akan bisa bicara dengan baik dan dapat sekolah di sekolah biasa.

Implantasi koklea ini melalui beberapa tahapan, seperti seleksi calon pasien, yaitu penentuan terhadap pasien apakah layak dioperasi  atau tidak. Pada tahap ini dilakukan pemeriksaan menyeluruh meliputi aspek medis, psikologis, dan sosial pasien. Selain itu, juga dilakukan pemeriksaan penunjang untuk menilai fungsi pendengaran, pemeriksaan radiology, laboratorium serta konsultasi dengan disiplin ilmu lain.

Dikatakannya, pasien yang sudah dioperasi memerlukan waktu sekitar 2 hari untuk pemulihan, setelah itu dilakukan rehabilitasi berupa latihan mendengar dan berbicara.

Pelaksaan operasi ini juga merupakan salah satu dari wujud tekad Rektor Universitas Sumatera Utara (USU), Prof. Runtung SH.MHum bahwa, sarana dan prasarana di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara tak kalah mumpuni. Bahkan menurutnya, banyak para ahli yang berasal dari lingkungan USU. (dev)

309

gnews.online | Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara dan Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Ketenagakerjaan, kemarin, sepakat dan setuju membuat perjanjian tentang Pelaksanaan Pelayanan Kesehatan Program Jaminan Kecelakaan Kerja bagi peserta BPJS Ketenagakerjaan.

Hal itu tertuang dalam perjanjian yang ditandatangani di ruang pertemuan Kantor BPJS Ketenagakerjaan Jalan Pattimura, No 344 Medan. Hadir dan sekaligus menandatangi perjanjian dimaksud Bambang Utama, Kepala Kantor BPJS Ketenagakerjaan Cabang Medan Kota dan Direktur Utama RS USU dr Azwan Hakmi Lubis, Sp.A, M.Kes.

Hadir dalam kegiatan itu dr. Sake Juli Martina, Sp.FK, sebagai Direktur Diklat, Penelitian dan Kerjasama, pejabat terkait dari BPJS Ketenagakerjaan, beberapa pejabat dari RS dan klinik swasta yang ada di Medan.

Adapun maksud perjanjian kerja sama ini adalah sebagai pedoman untuk kedua belah pihak dalam penyediaan layanan kesehatan bagi peserta program JKK di Rumah Sakit USU. Kemudian tujuan perjanjian kerja sama ini adalah terwujudnya kerja sama dan sinergi dalam rangka penyediaan layanan kesehatan bagi peserta program JKK di Rumah Sakit USU.

Para pekerja itu juga harus memiliki kartu peserta BPJS Ketenagakerjaan adalah kartu tanda kepesertaan BPJS Ketenagakerjaan yang memiliki nomor identitas tunggal yang berlaku untuk program jaminan kecelakaan kerja, jaminan hari tua, jaminan pensiun, dan jaminan kematian, sesuai dengan penahapan kepesertaan.

Kesepakatan yang ditandatangani itu antara lain jaminan kecelakaan kerja yakni kecelakaan yang terjadi dalam hubungan kerja, termasuk kecelakaan yang terjadi dalam perjalanan dari rumah menuju tempat kerja atau sebaliknya, dan penyakit yang disebabkan oleh lingkungan kerja. (dev)

1141

gnews.online | Rumah Sakit (RS) Universitas Sumatera Utara (USU) yang pada akhir 2016 meraih Akreditasi Paripurna Bintang 5, sukses menggelar operasi multi disiplin  yang melibatkan Departemen Obgyn, Departemen Kardiologi, Departemen Penyakit Dalam dan Departemen Anestesi terhadap seorang pasien.

Dr dr M Fidel Ganis Siregar saat ditemui Kamis (19/1) di RS USU didampingi  Direktur Pelayanan Medik dan Keperawatan RS USU Dr.dr Nazaruddin Umar, Sp.An,KNA usai melihat kondisi pasien pasca operasi Rabu (18/1) menjelaskan, dalam operasi itu, pihaknya juga melibatkan banyak Departemen lain mengingat kondisi pasien.

“Syukur Alhamdulillah, pasien dapat kita tangani dengan baik berkat kerjasama yang baik dengan seluruh rekan sejawat,” terangnya.

Disebutkan Dr dr M Fidel Ganis Siregar, hal ini membuktikan jika harapan dari Menteri Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristek Dikti) Prof Mohammad Nasir saat meresmikan RS USU yang berlokasi di Jl. Dr Mansyur depan kampus USU Medan, beberapa waktu lalu , agar Rumah Sakit USU memberikan pelayanan maksimal sehingga membuat pasien merasa nyaman dan bisa menjadi rumah sakit pilihan masyaraka,t tanpa harus keluar negeri, terwujud.

’’Operasi dengan melibatkan ilmu Kedokteran multi disiplin ini menunjukkan bahwa RS USU sudah mampu untuk menangani kasus besar dan kita berharap pasien tidak perlu lagi melakukan operasi keluar negeri,’’ urainya.

Pria yang juga menjabat Wakil Rektor II USU itu kemudian menyebutkan, akreditasi paripurna bintang lima di RS USU merupakan satu tolak ukur agar pelayanan pasien dan peningkatan mutu memiliki standar.

“Ini salah satu usaha rumah sakit untuk upaya pelayanan. Sekarang di Sumatera Utara ada 40 rumah sakit yang sudah mendapatkan akreditasi, tetapi baru 10 rumah sakit yang meraih akreditasi paripurna. USU adalah yang kesembilan,”  urai Fidel Siregar.

Dikatakannya lagi, setelah RS USU diresmikan pada 31 Maret 2016 dalam bentuk soft lauching, Rektor USU Prof Runtung dan jajarannya terus berupaya keras memajukan rumah sakit yang menjadi entitas Kemenristek Dikti. Hasil kerja keras Rektor itu tidak sia-sia dimana pihak KARS selaku lembaga penilai akreditasi RS, memberikan angka paripurna artinya bintang lima, yang menurut Fidel Siregar, menunjukkan bukti dan prasarana di Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara tak kalah mumpuni.

Oleh karena itu Wakil Rektor II USU yang juga dikenal sebagai mantan kiper PSMS Medan di era 80 hingga 90 –an itu mengajak warga Sumatera Utara untuk tidak ragu memanfaatkan fasilitas RS USU ini. ‘’Rumah Sakit USU sudah beroperasi penuh. Rumah Sakit ini ditetapkan oleh Kementerian Kesehatan di kelas C dan sejak 1 April 2016 telah bekerjasama dengan BPJS dan juga dapat menerima pasien umum,’’ katanya. (dev)

596

gnews.online | Peran Rumah Sakit (RS) Perguruan Tinggi Negeri (PTN) dalam membantu pemerintah untuk memberikan layanan kesehatan yang baik bagi masyarakat Indonesia, menjadi salah satu hal utama yang dikembangkan oleh Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti).

Menyadari arti pentingnya keberadaan RS PTN, baik sebagai salah satu fasilitas pendukung proses pendidikan tinggi, maupun sebagai fasilitas layanan kesehatan yang sangat bermanfaat bagi masyarakat. Maka Kemenristekdikti sejak beberapa tahun yang lalu mengapresiasi dan mendorong usaha-usaha, yang telah dirintis kementerian dan beberapa PTN di Indonesia, untuk memiliki dan mengelola sendiri RS-nya.

Hal tersebut diungkapkan Menristekdikti Prof H Mohamad Nasir Ph.D.,Ak, saat memberikan sambutan pada Acara Grand Opening RS USU, Senin (9/1) di USU Medan.

“RS PTN sebagaimana RS USU ini, merupakan salah satu mata rantai upaya peningkatan mutu pendidikan tinggi di Indonesia, khususnya pnedidikan kedokteran dan kesehatan. OLeh karena itu, keberadaan dan perkembangannya memiliki arti yang sangat penting bagi perkembangan pendidikan tinggi di Indonesia, “kata Menristekdikti.

Saat ini, kata Menristekdikti, di lingkungan Kemenrian telah terdapat tidak kurang dari 24 RS PTN yang tersebar dibeberapa PTN seperti Universitas Gajah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Hasanuddin (UNHAS), Universitas Airlangga (UNAIR), Universitas Udayana (UNUD), Universitas Briwijaya (UNIBRAW) termasu USU.

“Dari daya yang kami miliki di Kemenristekdikti, sampai sejauh ini perkembangan RS PTN yang ada tersebut cukup bervariasi, baik dalam capaian kinerjanya maupun permasalahan yang dihadapinya. Namun peningkatan kulaitas kesehatan, kami dorong terus sampai kualitas RS PTN ini mumpuni,” katanya lagi.

Sertifikat Paripurna

Dengan resminya RS USU menerima sertifikat paripurna dari Komisi Akreditasi Rumah Sakit (KARS), maka status RS USU semakin kuat sebagai RS pendidikan dengan status paripurna, yang artinya memenuhi persyaratan sebagai RS. “Ini harus kita syukuri, karena beberapabulan yang lalu,, RS UGM dan RS UNAIR juga berhasil memperoleh status barunya  sebagai RS kelas B, dan sekaligus memperoleh status akreditasi paripurna  sebagai RS Pendidikan. Hari ini kita saksikan bersama penyerahan akreditasi paripurna bintang 5 pada RS PTN USU,”ucapnya.

Sementara itu, Rektor USU Prof Dr Runtung SH MHum mengatakan,  Rumah Sakit USU ini dirancang untuk dapat mengakomodasi pelayanan rawat jalan di sejumlah klinik spesialis/sub spesialis, pelayanan rawat inap, instalasi gawat darurat dengan pelayanan 24 jam, kamar bedah, ruang persalinan, perawatan intensif, pelayanan hemodialisa dan rehabilitasi medik termasuk bagi pasien BPJS.

Berbagai peralatan radiodiagnostik/pencitraan, laboratorium klinik dan fasilitas/peralatan pelayanan lainnya telah dilengkapi untuk penyelenggaraan fungsi rumah sakit dengan kapasitas 400 tempat tidur. “Harapan kami RS USU yang merupakan unit kerja bagian dari Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi, akan menjadi salah satu pusat pelayanan kesehatan terbaik di Sumatera Utara. Sehingga hal ini akan menjadi wujud konkrit atas bentuk kepedulian pemerintah dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakatkhususnya di Sumatera Utara. Mengingat kata-kata bijak, bila masyarakat kita sehat, maka bangsa dan negara kita juga akan menjadi sehat”kata rektor.

Terkait dengan RS USU kata rektor, bahwa proses pembangunan rumah sakit ini telah melewati tahapan yang cukup panjang. Diawali pada tahun 2003 dengan diajukannya usulan proyek pembangunan Pusat Penelitian dan Diagnostik Kesehatan (PPDK) Fakultas Kedokteran USU ke Bappenas yang kemudian direvisi menjadi usulan Pembangunan Rumah Sakit USU.

Rektor juga menjelaskan, saat ini USU memiliki 15 Fakultas dan 1 Sekolah Pascasarjana dengan 156 program studi terdiri dari jenjang Diploma, S1, Profesi, Spesialis, S2, hingga S3. Jumlah mahasiswa terdaftar pada Semester Ganjil Tahun Akademik 2016/2017 sebanyak 53.830 orang. Dengan jumlah lulusan atau alumni sebanyak 177.441 orang yang tersebar di berbagai penjuru nusantara dan di beberapanegara.

Selain itu, beberapa kemajuan perkembangan USU yang menonjol diantaranya ada 8 program studi yang berhasil memperoleh Sertifikat Internasional ISO 9001:2015 dari badan sertifikasi internasional BSI pada akhir tahun 2016 lalu. Kemudian ada 17 program studi terakreditasi peringkat A, dan 61 peringkat B. Sedangkan program studi lainnya masuk dalam tahap program percepatan reakreditasi. (dev)

488

gnews.online | Setelah mendapat akreditasi paripurna atau bintang lima dari KARS (Komite Akreditasi Rumah) belum lama ini. Rumah Sakit Universitas Sumatera Utara (USU), akan diresmikan oleh Menteri Riset Tekhnologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Senin (9/1/2017) mendatang.

Kabag Humas USU, Bisru Hafi menyebutkan, Menristekdikti akan meresmikan RS USU tidak hanya sebagai rumah sakit pendidikan saja, tapi juga sebagai rumah sakit yang melayani semua masyarakat dengan berbagai penyakit seperti rumah sakit umum lainnya.

“Menristekdikti memang pernah berjanji akan meresmikan rumah sakit USU ketika melantik rektor USU yang baru waktu yakni, bapak Runtung Sitepu. Disamping itu, karena beberapa waktu yang lalu juga RS USU sudah mendapat akreditasi paripurna atau bintang lima dari KARS. Oleh karenanya, menteri akan merealiasikan janjikan untuk meresmikan RS USU yang renacananya Senin nanti,”kata Bisru Hafi kepada wartawan, kemarin.

Humas RS USU, Muhammad Zein membenarkan, RS USU akan diresmikan oleh Menristekdikti Senin nanti. Sejak diresmikan Maret 2016 yang lalu, hingga kini RS USU sudah melayani masyarakat sebanyak 2.832 orang untuk rawta jalan dan rawat inap sebanyak 250 orang. Bahkan, selama 2016, RS USU sudah melakukan tindakan operasi sebanyak 40 kali.

“Dari 40 kali operasi yang sudah dilakukan, paling banyak operasi sesar, tapi kita juga pernah melakukan operasi hydrocephalus. Disamping itu, sejak September kita juga sudah membuka pelayanan cuci darah. Sejak dibuka pelayanan cuci darah, setiap harinya kita melayani 10 kali cuci darah. Artinya, sudah banyak kemajuan dan memang perlu diresmikan langsung oleh menteri,”katanya.

Pengamat pendidikan, Syaiful Sagala mengatakan, secara umum orang-orang di Sumut yang memiliki uang, lebih banyak memilih berobat keluar negeri. Karena, masyarakat menyukai pelayanan rumah sakit diluar negeri. Oleh karena itu, RS USU harus memiliki keunggulan terutama mengedepankan pelayanan yang baik jika ingin disukai masyarakat. Misalnya, dari segi sanitasi, layanan, akurasi perobatan hingga fasilitas perobatannya.

“Orang-orang tertentu nggak masalah bayar mahal, asal pelayanannya bagus. RS USU harus bisa membuktikan bahwa RS USU bisa lebih baik dari rumah sakit yang diluar negeri. Kalau biasa orang dari luar negeri yang berobat ke Sumut. Di Sumut ini, kalau dilihat dari ketersediaan dokter mungkin tidak kurang, tinggal masalah pelayanannya. Jadi, tingkatkanlah pelayanannya. Baik pelayanan dokter, paramedis dan fasilitas yang tersedia,”katanya. (dev)

959

gnews.online |

Rumah Sakit USU membuka pelayanan pemeriksaan urin bebas narkoba. Hal itu disampaikan  Direktur Diklat, Penelitian dan Kerjasama dr. Sake Juli Martina SpFK, di ruang kerjanya, Sabtu (2/7).

Menurut dr. Sake, saat ini pemerintah sedang gencar-gencarnya melalukan  pemberantasan dan pencegahan bahaya narkoba khususnya di kalangan kaum muda. Apalagi para bandar narkoba sudah menyasar hingga
ke kalangan anak-anak dan kaum muda.

Untuk kemudian mencegah pengaruh akan bahaya narkoba khususnya di
kalangan mahasiswa baru, hampir seluruh universitas dan perguruan
tinggi meminta para calon mahasiswa untuk melengkapi salah satu
persyaratannya saat mendaftar dengan melampirkan persyaratan bebas
narkoba.

Dijelaskannya, RS USU siap menerima pelayanan untuk pemeriksaan tes narkoba.

RS USU yang berlokasi di Jalan Dr Mansyur, kawasan Kampus USU Medan itu,  berdiri tahun 2011 yang dimulai dari peletakan batu pertama oleh Rektor USU saat itu Prof dr Chairuddin P Lubis dan Gubernur  Sumatera Utara saat itu H Syamsul Arifin, SE, pada tahun 2009.

RS USU memiliki luas lahan lebih kurang 38.000 m2 dengan bangunan
utama 5 lantai dengan luas total lebih kurang 52.200 m2. (dev)

516

gnews.online |

Rumah Sakit (RS)  Universitas Sumatera Utara (USU), melaksanakan acara pisah sambut jajaran direksi yang lama dan direksi yang baru sekaligus buka puasa bersama dengan anak yatim.

Hadir dalam acara yang digelar di Aula Lantai 4 RS USU, Rektor USU Prof Dr Runtung, SH.M.Hum, Wakil Rektor II Muhammad Fidel Ganis Siregar dan Wakil Rektor III Mahyuddin K.M Nasution. Hadir juga dalam kesempatan itu  Dr. dr. Aldy Syafruddin Rambe, Sp.S Dekan Fakultas Kedokteran,  Prof. Dr. Opim Salim Sitompul, M.Sc Dekan Fasilkom, . Dr. Ir. Hasanuddin, MS  Dekan Fakultas Pertanian,  Prof. Dr. Budiman Ginting, SH, M.Hum Dekan Fakultas Hukum, Dr. Kerista Sebayang, MS Dekan Fakultas MIPA, Setiawan, SKP, MNS, Ph.D Dekan Fakultas Keperawatan, Dr. Drs. Budi Agustono, MS Dekan Fakultas Ilmu Budaya, Dr. Trelia. Boel, drg, M.Kes Dekan Fakultas Kedokteran Gigi, Prof. Dr. Ramli, SE, MS Dekan Fakultas Ekonomi dan Bisnis dan  Zulkarnain, Ph.D, Psikolog Dekan Fakultas Psikologi. Mewakili Dekan Fisip, Wakil Dekan II Muhammad Arifin Nasution, kemudian Siti Latifah, S. Hut, M.Si. Ph.D Dekan Fakultas Kehutanan.

RS USU tertanggal 2 Juni 2016 resmi melakukan pergantian jajaran direksi. Lima direksi pada RS USU yang bertugas pada periode 2010-2015 dan diperpanjang hingga 2 Juni 2016 dilakukan pergantian oleh Rektor USU.

Kelima direksi periode lalu yakni Prof dr Chairul Yoel, Sp.A (K) sebagai Direktur Utama, Dr dr Nazaruddin Umar, Sp.An.KNA sebagai Direktur Akademik dan Pelayanan Medik, dr Murniati Manik, MSc.Sp.KK., Sp.GK sebagai Direktur Keperawatan dan Penunjang Medik, Syarief Fauzi, Direktur Umum, Keuangan dan SDM serta DR Achmad Delianur Nasution, ST.,MT sebagai Direktur Teknik, Pemeliharaan dan Pengelolaan Lingkungan
Sementara untuk sususan direksi periode 2016-2021 adalah dr. azwan Hakmi Lubis, Sp.A, MKes, sebagai Direktur Utama, dr. Sake Juli Martina, Sp.FK, sebagai Direktur Diklat, Penelitian dan Kerjasama; Dr. dr. Nazaruddin Umar, Sp.An, KNA, sebagai Pelayanan Medik dan Keperawatan; Dr. Achmad Delianur Nasution, ST, MT, sebagai Direktur Sarpras Medik dan Pelayanan Penunjang; Syarief Fauzie, SE, MAk, sebagai Direktur Umum, Sumber Daya Manusia, dan Keuangan.

Ketua panitia yang juga Direktur Umum, SDM dan Keuangan Syarief  Fauzi menyampaikan kegiatan ini merupakan keempat kalinya bagi RS USU, sebagai rasa syukur. Namun di tahun 2016 ada berbeda dari tahun sebelumnya dengan pergantian Direksi RS USU yang baru.

Prof Chairul Yoel dalam sambutannya menyampaikan RS USU Berlokasi di Jalan Dr Mansyur, kawasan Kampus USU Medan,  berdiri tahun 2011 yang dimulai dari peletakan batu pertama yang dilakukan oleh Rektor USU saat itu Prof dr Chairuddin P Lubis dan Gubernur Sumatera Utara saat itu H Syamsul Arifin, SE, pada tahun 2009.

RS USU memiliki luas lahan lebih kurang 38.000 m2 dengan bangunan utama 5 lantai dengan luas total lebih kurang 52.200 m2. Operasional RS USU akan dilaksanakan secara bertahap dan akan dimulai dengan pelayanan rawat jalan, pelayanan rawat inap dengan kapasitas 100 tempat tidur, dan sejumlah pelayanan  spesialistik lainnya.

Menurut dokter spesialis anak itu, 28 Maret 2016 merupakan momen yang paling tepat, RS USU beroperasi secara penuh. Secara keseluruhan  dalam tempo beberapa bulan ada trend yang cukup baik. Disampaikan Prof Yoel ada tiga penandatangan, di antaranya dengan BPJS. Dampaknya dalam 2 bulan sangat bermakna, seraya menyampaikan apresiasi kepada Rektor USU yang baru dilantik dan menjadikan pembukaan RS USU sebagai program utama.

Dr Azwan Hakim Lubis  menyampaikan, dengan semangat yang ditunjukkan Rektor USU, dirinya optimis RS USU akan kian maju seraya berharap  masukan dan kritikan untuk kemajuan.

Rektor USU Prof Runtung dalam sambutannya, menyampaikan apresiasi atas dedikasi yang ditunjukkan Prof Chairul Yoel yang sudah menjalankan RS USU sejak awal. Rektor mengaku dirinya sangat berharap RS USU dapat menjadi pusat layanan bagi warga Sumut. Untuk pengembangannya, Rektor berjanji untuk memperjuangkan anggaran di Kementerian.

Acara diisi dengan tausiah dari al ustadz Prof DR Muzzakir yang antara lain mengingatkan, Kehidupan pasti akan berakhir, arti kehidupan tidak akan berakhir. Acara diakhiri dengan buka dan makan malam bersama serta penyantunan bagi anak yatim. (dev)