Sunday, February 28, 2021
Tags Posts tagged with "rupiah"

rupiah

325

Jakarta – gnews.online |

Nilai tukar Rupiah unjuk keperkasaan pada perdagangan Senin (13/1/2020). Rupiah menguat dan mampu menumbangkan tiga dolar sekaligus dalam sehari.

Seperti dilansir CNBC Indonesia, rupiah menguat 0,47% terhadap dolar Amerika Serikat (AS)ke level Rp13.690/US$, pada pukul 09:00 WIB, dan berada di level terkuat sejak Februari 2018.

Kemudian dolar Singapura juga kembali menjadi korban rupiah. Hanya satu jam setelah pasar dalam negeri dibuka, dolar Singapura langsung melemah 0,31% ke level Rp10.165,47/SG$. Posisi tersebut merupakan yang terlemah dalam tiga bulan terakhir.

Di waktu yang sama, dolar Australia juga tertekan 0,21% di level Rp9.468,07/AU$, yang merupakan level terlemah sejak Februari 2016, nyaris empat tahun terakhir.

Membaiknya sentimen pelaku pasar membuat rupiah terus mendapat suntikan tenaga untuk menguat. Jika pekan lalu meredanya risiko perang antara AS vs Iran yang menaikkan minat terhadap risiko (risk appetite) pelaku pasar, di pekan ini berakhirnya perang dagang AS vs China yang menjadi headline utama.

Pada Rabu (15/1/2020) AS dan China rencananya akan menandatangani kesepakatan dagang fase I. Seluruh dunia menanti hal tersebut, perang dagang kedua negara yang sudah berlangsung sejak pertengahan 2018 akhirnya selesai, atau setidaknya risiko tereskalasi kembali mengecil.

Perang dagang kedua negara telah membuat perekonomian global melambat. Dana Moneter International (International Monetary Fund/IMF) pada pertengahan Oktober lalu memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global menjadi 3% di tahun 2019, dibandingkan proyeksi yang diberikan pada bulan Juli sebesar 3,2%. Proyeksi tersebut merupakan yang terendah dalam satu dekade terakhir.

Dalam kesepakatan dagang fase I, Presiden Trump mengatakan bahwa bea masuk sebesar 15% terhadap produk impor asal China senilai US$ 120 miliar nantinya akan dipangkas menjadi 7,5% saja sebagai bagian dari kesepakatan dagang tahap satu.

Sementara dari pihak China, Trump menyebut bahwa China akan segera memulai pembelian produk agrikultur asal AS yang jika ditotal akan mencapai US$ 50 miliar.

Ketika perang dagang AS-China tidak lagi tereskalasi, laju pertumbuhan ekonomi global diharapkan akan lebih terakselerasi. Dalam kondisi tersebut sentimen pelaku pasar akan membuncah, dan masuk ke aset-aset berisiko dengan imbal hasil tinggi, rupiah pun perkasa kembali. (CNBC)

237

MEDAN – gnews.online |

Indeks Harga Saham Gabungan atau IHSG dibuka menguat 0.39% di level 6.193,67 pada perdagangan pagi ini, Kamis (17/10). Begitu juga rupiah, dibuka menguat tipis terhadap dolar AS.

Analis Ekonomi Lotus Andalan Sekuritas di Medan, Gunawan Benjamin mengatakan, IHSG melanjutkan tren penguatan seiring dengan membaiknya gejolak ekonomi global belakangan ini.

“Kinerja pasar keuangan domestik masih mampu membukukan kinerja positif, meskipun hubungan politik AS dan China memburuk seiring dengan belum meredanya aksi protes di Hongkong,” ujarnya.

Gunawan menyebutkan, pelaku pasar masih terus memperhatikan perkembangan ekonomi global, serta mengamati perkembangan pelantikan Presiden Indonesia dalam waktu dekat.

“Kinerja pasar keuangan global saat ini cenderung tidak begitu dipengaruhi oleh data-data ekonomi. Sementara itu mata uang rupiah terpantau menguat tipis di kisaran 14.164 per dolar AS,” pungkasnya. (art)

353

Jakarta – gnews.online |

Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di dua zona pada awal perdagangan Rabu ini. Pada pembukaan berada di zona merah namun kemudian berbalik arah pada pembukaan.

Pada pra pembukaan perdagangan saham, Rabu (3/10/2018), IHSG turun tipis 1,12 poin atau 0,02 persen ke posisi 5.874,49. Pada pembukaan pukul 09.00 WIB, IHSG berbalik arah dan menguat tipis 6,62 poin atau 0,12 persen ke posisi 5.881,85.

Indeks saham LQ45 naik 0,02 persen ke posisi 029,70. Sebagian besar indeks saham acuan menguat kecuali indeks saham BIsnis-27 dan Infobank15.

Sebanyak 115 saham menghijau sehingga menahan pelemahan IHSG. Selain itu 56 saham melemah dan 114 saham diam di tempat. Pada sesi pertama, IHSG sempat berada di level tertinggi 5.884,65 dan terendah 5.871,77.

Total frekuensi perdagangan saham sekitar 15.622 kali dengan volume perdagangan 377 juta saham. Nilai transaksi harian saham Rp 206 miliar.

Investor asing beli saham Rp6 miliar di pasar regular. Posisi dolar Amerika Serikat di kisaran Rp 15.000.

Sebagian besar sektor saham sama-sama menguat. Hanya ada dua sektor yang berada di zona merah yaitu barang konsumsi dan perdagangan. Sektor saham industri dasar naik 0,87 persen, dan catatkan penguatan terbesar. Disusul sektor saham pertambangan mendaki 0,74 persen dan sektor saham perkebunan menanjak 0,60 persen.

Saham-saham yang catatkan penguatan antara lain saham SAPX naik 49,60 persen ke posisi Rp 374 per saham, saham CITY menanjak 24,68 persen ke posisi Rp 394 per saham, dan saham AKPI menguat 24,23 persen ke posisi Rp 1.205 per saham.

Sedangkan saham-saham yang tertekan antara lain saham INRU merosot 5,79 persen ke posisi Rp 470 per saham, saham NAGA turun 5,13 persen ke posisi Rp 222 per saham, dan saham PANI susut 4,33 persen ke posisi Rp 468 per saham.

Analis Panin Sekuritas, William Hartanto, mengatakan depresiasi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) membuat IHSG terbilang sulit untuk menembus ke level 6.000. Oleh karena itu, ia prediksi IHSG berpotensi menguat terbatas di rentang 5.800-5.950. (lip6)

437

MEDAN – gnews.online |

Tingginya aktivitas pembawaan uang kertas asing (UKA) di dalam negeri membuat Bank Indonesia (BI) mengeluarkan kebijakan memperketat pembawaan UKA melalui Peraturan Bank Indonesia (PBI) No. 20/2/PBI/2018.

Kebijakan Bank Indonesia yang menerbitkan ketentuan mengenai transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) tersebut dalam rangka mendukung upaya meningkatkan stabilitas nilai tukar rupiah, mempercepat pendalaman pasar valuta asing domestik dan memitigasi risiko nilai tukar rupiah.

Hal tersebut disampaikan Direktur BI Kantor Perwakilan Sumatera Utara Hilman Tisnawan saat membuka Sosialisasi Ketentuan Pembawaan UKA ke dalam dan ke luar daerah Pabean Indonesia, di Kantor Perwakilan BI Sumut, Selasa (2/10/2018).

Hilman Tisnawan menyebutkan, selain tingginya aktivitas pembawaan UKA ke dalam dan keluar daerah pabeanan Indonesia, juga belum terdapatnya data/informasi mengenai pembawaan UKA lintas batas dan belum terdapatnya instrumen untuk mengendalikan pembawaan UKA lintas batas tersebut.

“Hal tersebut bisa menimbulkan beberapa masalah yaitu berpotensi menambah tekanan terhadap nilai tukar, menimbulkan dampak psikologis yang mempengaruhi ketidakstabilan nilai tukar rupiah dan kebutuhan harmonisasi dengan UU tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU) dan UU mata uang,” ujarnya.

Kebijakan ini diharapkan dapat mendukung efektivitas kebijakan moneter, memperoleh informasi terkait dengan motif (underlying). Diharapkan juga BI memiliki instrumen untuk mengendalikan pembawaan UKA ke dalam dan ke luar daerah pabean Indonesia, serta mendukung efektivitas UU TPPU dan UU tentang mata uang rupiah di Indonesia. (art)

510

MEDAN – gnews.online |

Nilai tukar Rupiah perlahan-lahan mulai bergerak keluar dari tekanan US Dollar, pada perdagangan, Rabu (4/10/2017). Meski sudah mulai menguat, namun Rupiah masih bergantung pada pergerakan US Dollar.

Pengamat ekonomi Sumut Gunawan Benjamin mengatakan, pelemahan Rupiah yang cukup tajam ini mulai dicermati berbagai pihak. Melemahnya Rupiah ini yang melampui level 13.500-an akibat dari kuatnya sentimen global.

Menurutnya, kabar baik buat Rupiah yang masih bergantung pada US Dollar kali ini terkait dengan The Fed yang akan berganti kepemimpinan. Pelaku pasar masih meraba-raba terkait siapa yang akan menggantikan Jannet Yellen nantinya.

“Meski suku bunga AS akan tetap dinaikkan secara bertahap tahun ini mulai sedikit mereda karena pelaku pasar lebih berfokus pada siapa yang nantinya menggantikan Jannet Yellen. Efeknya laju penguatan US Dollar sedikit tertahan meski masih dibayangi rencana Trump yang akan mereformasi pajak AS,” ujar Gunawan, Rabu sore.

Gunawan menyebutkan, reformasi pajak yang direncakannya Trump benar-benar tereaslisasi akan membuat keoptimisan pelaku pasar terhadap pertumbuhan perekonomian AS. Sehingga bisa membuat suku bunga acuan yang semula direncanakan secara bertahap akan benar terealsasi dan akan membuat US Dollar semakin perkasa. Hal ini tentu bukan kabar yang terlalu baik buat Rupiah.

Sementara itu, pelemahan Rupiah sampai menyentuh di atas level 13.500-an menurut Gubernur BI, karena AS ingin mereformasi pajaknya. Terdepresianya Rupiah yang cukup tajam ini menurut pelaku pasar bisa diatasi Bank Indonesia dengan menstabilkannya.

Pelaku pasar yakin pelemahan ini bersifat sementara karena ditopang fundamental dalam negeri yang masih terjaga. Keoptimisan pelaku pasar ini membuat Rupiah mulai keluar dari tekanan.

Hal ini terlihat dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang dipatok menguat pada level 13.489 per US Dollar dihari rabu (4/10) dibandingkan patokan sebelumnya pada level 13.582. (art)

667

Medan – gnews.online |

Kinerja nilai tukar Rupiah pada perdagangan Selasa (3/10/2017), terus terpuruk dan melanjutkan trend pelemahannya terhadap mata uang US Dollar, sedangkan IHSG cetak rekor tertingginya.

Analis ekonomi Lautan Dana Sekuritas di Medan, Gunawan Benjamin menyebutkan, nilai tukar Rupiah masih belum mampu keluar dari tekan US Dollar yang makin perkasa diperdagangkan.

“Pergerakan Rupiah dalam minggu ini murni masih dipengaruhi faktor eksternal. Makanya Rupiah masih tergantung terhadap US Dollar. Hal ini tentu tidak baik buat Rupiah karena US Dollar makin perkasa diperdagangkan,” ujar Gunawan, Selasa (3/10).

Menurutnya, pelemahan lanjutan Rupiah ini tercermin dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang terdepresiasi cukup tajam.

“Setelah di awal pekan lalu Rupiah sempat dipatok melemah tipis yang berada pada level 13.499,  pada perdagangan Selasa (3/10), Rupiah kembai terdepresiasi sebesar 83 poin pada level 13.582.

Di sisi lain, pergerakan US Dollar masih dipengaruhi rencana Trump yang akan mereformasi pajak. Trump mulai mendapatkan dukungan terkait dengan rencananya tersebut. Jika rencana Trump ini akan terealisasi, maka akan berefek pada perekonomian AS yang diperkirakan positif.

“Imbasnya rencana The Fed yang akan tetap menaikkan tingkat suku bunga di tahun ini akan benar-benar terealisasi. Hal inilah yang membuat US Dollar semakin menguat diperdagangkan terhadap mata uang dunia termasuk Rupiah,” ujarnya.

Sementara itu, IHSG mampu mencetak rekor tertingginya meski Rupiah tengah melemah. IHSG mengawali perdagangan dibuka menguat pada level 5915,43. IHSG sempat mencetak rekor tertingginya pada level 5953,48. IHSG akhirnya ditutup menguat sebesar 25,42 poin atau 0,43 persen menjadi 5939,45 dengan total transaksi mencapai Rp. 6,25 Triliun.

Peregerakan IHSG yang mampu bertahan di zona hijau dan sempat mencetak rekor tertingginya ini ditopang indeks sektor pertambangan yang ditutup menguat sebesar 1,497 persen sekaligus memimpin penguatan indeks sektoral.

“Menguatnya indeks sektor pertambangan karena naiknya harga beberapa komoditas seperti timah yang naik sebesar 0,158 persen dan nikel yang naik 0,636 persen yang terpantau sampai Selasa sore,” jelasnya. (art)

981

gnews.online |

Bank Indonesia (BI) memprediksi kebutuhan yang kartal di wilayah Medan dan sekitarnya mencapai angka Rp4,8 triliun saat Lebaran. Angka ini naik sekitar 16,3 persen dibanding tahun lalu yang mencapai angka Rp4,2 triliun.

Proyeksi kebutuhan uang Hasil Cetak Sempurna (HCS) di masyarakat Kota Medan sebesar Rp1,32 triliun atau naik 20 persen dari tahun sebelumnya Rp1,1 triliun. Dan kebutuhan uang dalam rangka pemenuhan di ATM selama libur panjang menyambut lebaran sebesar Rp3,56 triliun atau meningkat sebesar 15 persen dari tahun  sebelumnya sebesar Rp3,1 triliun.

Kepala Kantor Perwakilan BI Sumut Difi A Johansyah mengungkapkan, dari tahun ke tahun kebutuhan uang di masyarakat terus meningkat. Ini dilihat sebagaimana dengan pola-pola sebelumnya, di mana pada momen ini kebutuhan uang kartal mengalami peningkatan.

“Dan untuk mengantisipasinya, BI menjaga stok di atas kebutuhan tersebut. Dan mendukung kelancaran kegiatan itu, BI berkomitmen dapat memberikan layanan terbaik kepada seluruh masyarakat wilayah kota Medan dan sekitarnya mulai dari Binjai, Tembung, Tanjung Morawa, Lubuk Pakam, Belawan dan sejumlah daerah lainnya,” katanya.

Strategi pun disiapkan, antara lain loket penukaran perbankan di wilayah Medan Kota dan sejumlah daerah, loket penukaran uang menggunakan kartu, mobil kas BI dan perbankan di lapangan, kas keliling di sejumlah pusat keramaian seperti pasar serta penukaran uang di loket Kantor Pos.

Selain penukaran uang melalui loket, BI juga menyediakan sistem layanan tukar uang berbasis online di Medan.
Sistem ini akan menjadi yang pertama kali dilakukan di Indonesia.

“Sistem aplikasi online ini  diluncurkan dua minggu sebelum puasa. Ini untuk mempercepat penukaran uang, khususnya dari instansi-instansi,” jelasnya.

Dia mengungkapkan aplikasi online ini ditujukan kepada masyarakat tertentu seperti instansi bisa swasta dan pemerintah. Sampai saat ini, BI Sumut masih mematangkan aplikasi dan teknis.

Tahun ini, bank sentral kian gencar untuk menggalakkan clean money policy. Dia mengatakan BI merupakan satu-satunya lembaga yang berwenang untuk mengeluarkan dan mengedarkan rupiah serta mencabut, menarik dan memusnahkan uang dari peredaran.

“Untuk mewujudkan clean money policy tersebut, ungkap Difi, pengelolaan pengedaran uang dilakukan oleh BI mulai dari pengeluaran uang, pengedaran uang, pencabutan dan penarikan uang sampai dengan pemusnahan uang dalam memenuhi kebutuhan yang kartal tepat waktu dan dalam kondisi layak edar,” tukasnya. (ayb)

728

MEDAN-GNews: Nilai tukar Rupiah masih terpuruk terhadap mata uang US Dolar. Rupiah pada perdagangan hari ini (Jumat, 20/5) melemah hingga ke level 13.610 per US Dolar. Pelemahan Rupiah masih dipicu oleh rencana Bank Sentral AS yang akan menaikkan besaran suku bunga acuannya di bulan juni mendatang.

Walau demikian kredibilitas The FED dalam menaikkan suku bunga acuan tersebut juga masih menjadi tanda tanya besar. Fakta menunjukan bahwa The FED memiliki kecenderungan untuk lebih banyak memberikan indikasi kenaikan dibandingkan dengan realisasinya. Seperti yang terjadi sebelumnya, dimana menaikkan suku bunga acuan The FED molor berbulan-bulan dari wacana yang sempat dibesar-besarkan sebelumnya.

“Nah, untuk Rupiah saat ini, saya menilai kinerja Rupiah akan banyak tertekan oleh data-data di AS jika nantinya merealisasikan angka yang baik. Jika dalam sebulan ke depan data-data tersebut membaik, maka selama itu Rupiah berpeluang melemah terhaap US Dolar,” kata analis ekonomi sekuritas Lautan Dhana di Medan, Jumat (20/5).

Menurutnya, potensi pelemahan Rupiah bisa hingga ke level 13.700 per US Dolar. Namun di akhir bulan ini hingga awal bulan depan ada pembahasan tentang Tax Amnesty yang akan dilakukan oleh pemerintah dan DPR. Sehingga sentiment internal tersebut yang nantinya mengimbangi sentiment dari AS.

Gunawan menyebutkan, sejauh ini data-data dari AS masih menunjukkan perbaikan meskipun tergolong moderat. Namun jika nantinya The FED urung menaikkan bunga acuan, besar kemungkinan Rupiah menguat di kisaran 13.000 sangat terbuka. Bukan tidak mungkin The FED pada akhirnya urung menaikkan bunga.

Sementara itu, kebijakan Bank Indonesia yang sebelumnya juga mempertahankan besaran suku bunga acuan atau BI rate sebesar 6.75 %, sebenarnya juga bisa meredam gejolak pelemahan Rupiah terhadap US Dolar. Hanya saja, sejauh ini dampak dari kebijakan tersebut masih belum mampu menahan pelemahan Rupiah akibat sentimen eksternal tersebut.

Yang paling penting adalah, lanjutnya, sikap pemerintah menghadapi tekanan sementara mata uang US Dolar tersebut. Sebaiknya pemerintah terus melihat perkembangan Rupiah yang dibarengi dengan potensi kenaikan harga khususnya harga barang impor.

“Tidak bisa dipungkiri kita akan mengalami hal tersebut. Dimana tekanan terhadap harga barang sulit dihindarkan manakala Rupiah tengah terpuruk. Ditambah lagi, saat ini memasuki masa Ramadhan. Dimana impor barang konsumsi kerap menunjukan tren kenaikan di musim-musim seperti ini,” pungkasnya. (ayb)

544

MEDAN-GNews: Dalam notulen rapat Bank Sentral AS kemarin mengindikasikan bahwa ada kemungkinan kenaikan suku bunga acuan The FED bulan mendatang, jika semua data menunjukan bahwa adanya kemungkinan terjadinya pemulihan pada perekonomian di AS.

Dari hasil notulen tersebut membuat Dolar AS menguat tajam pada perdagangan hari ini, Kamis (19/5). Sedangkan nilai tukar Rupiah kembali tepuruk hingga ke level 13.525 per Dolar AS di sesi perdagangan hari ini.

Analis Ekonomi Sekuritas Lautan Dhana Medan, Gunawan Benjamin menyebutkan, pelemahan Rupiah tidak sendirian, karena hampir semua mata uang di dunia melemah terhadap Dolar AS. “Pelemahan kinerja Rupiah ini perlu diwaspadai mengingat terjadi di saat kita tengah melakukan impor besar-besaran menjelang bulan Ramadhan,” kata Gunawan.

Menurutnya, impor barang konsumsi seperti rutinitas setiap tahun selalu mengalami kenaikan. Di sini di waktu yang bersamaan Dolar AS menguat terhadap Rupiah. Maka yang terjadi adalah harga barang impor berpeluang naik dalam waktu dekat ini. Dan pelemahan Rupiah akan menambah beban pemerintah dalam mengendalikan inflasi selama Ramadhan.

“Beberapa komoditas pangan akhir-akhir ini mulai merangkak naik. Fatalnya adalah komoditas tersebut banyak didatangkan dari negara lain. Dengan pelemahan Rupiah saat ini sebaiknya pemerintah sudah melakukan tindakan untuk menstabilkan harga. Artinya harga di pasar terus dipantau,” ujarnya.

Karena, lanjutnya, isu pelemahan Rupiah ini sangat potensial dijadikan alasan untuk “melegalkan” kenaikan harga di pasar. Sementara itu, di tengah kebutuhan yang semakin besar pelaku bisnis akan lebih cenderung melakukan impor sekalipun dengan harga yang relatif lebih mahal.

“Karena di bulan Ramadhan ini, masyarakat kita cenderung akan memaksimalkan konsumsinya. Karena penduduk Indonesia itu mayoritas beragama Islam. Dan Ramadhan selalu identik dengan budaya konsumsi yang tinggi. Jadi tekad dan keinginan pemerintah agar di bulan Ramadhan nanti harga stabil menghadapi tantangan dari pelemahan Rupiah saat ini,” pungkasnya. (ayb)

428

Gnews : Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar Rupiah kompak melemah pada perdagangan hari ini, Kamis (14/04/2016).

Analis ekonomi Lautandhana Sekuritas di Medan, Gunawan Benjamin menyebutkan, menguatnya US Dolar pada perdagangan hari ini menjadi pemicu utama yang mengakibatkan Rupiah ditutup melemah di level 13.170 per US Dolar.

“Minimnya sentiment, serta volatilitas Rupiah yang memang cenderung mengalami tekanan jika bergerak mendekati 13.000, membuat Rupiah masih kesulitan untuk menembus level psikologis tersebut,” sebutnya.

Demikian halnya juga dengan kinerja IHSG. IHSG ditutup melemah 0.786% di level 4.814,85. IHSG pada perdagangan hari ini bergerak anomaly jika dibandingkan dengan kinerja indeks bursa kawasan yang mampu mencatatkan kinerja positif.

“Pelaku pasar tengah fokus kepada rilis data inflasi AS malam ini. Diperkirakan data tersebut merealisasikan angka yang positif atau mengalami kenaikan. Laju tekanan inflasi yang naik akan membuat US Dolar berpeluang menguat terhadap mata uang Rupiah,” ujarnya.

Ekspektasi data tersebut menutup sentiment buruk dari realisasi penjualan ritel AS yang turun 0.3%. Namun pada rilis data selanjutnya, ada data klaim pengangguran AS, yang sejauh ini diperkirakan akan kembali memburuk.

“Sehingga pada dasarnya jika semua ekspektasi benar, lagi-lagi pasar keuangan kita akan bergerak dalam voilatilitas yang cukup sempit,” pungkasnya. G02