Thursday, May 24, 2018
Tags Posts tagged with "Siti Maimunah"

Siti Maimunah

559

gnews.online | Sukses studi, sukses usaha dan sukses berorganisasi. Capaian itu kini dirasakan Siti Maimunah, seorang usahawan muda kini menjabat Ketua Forum Kewirausahaan Pemuda (FKP) Sumatera Utara. Tapi sukses tersebut bukanlah dicapai dengan mudah, karena banyak tantangan dan butuh perjuangan panjang hingga dapat menaklukkannya.

Siti termotivasi berusaha didasari kondisi ekonomi yang sulit, hingga membuatnya ingin bisa bertahan dan mandiri.

Terlahir sebagai anak keenam dari 11 bersaudara, sejak kecil Siti hidup dalam kondisi ekonomi keluarga yang cukup sulit. Ayahnya seorang buruh bangunan, dan ibunya membantu keuangan keluarga dengan berjualan kue tradisional.

“Saya merasakan masa-masa sulit saat SMP. Saya sempat menjual kue keliling bareng ibu pakai tampah,” ujarnya. Saat itu, dia mengaku, sempat malu, takut diledekin teman-temannya.

Awal perjuangan itu dimulai sejak duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP). Saat kelas III SMP, di tahun 2002, Siti mendapatkan beasiswa atas prestasi belajar, jumlahnya sebesar Rp 700.000. “Uangnya langsung saya belikan cincin,” kenangnya.

Namun, hanya dengan uang senilai itu persoalan ekonomi keluarga tentu tak langsung selesai. Apalagi selesai SMP, Siti punya keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan ke SMA, tentunya butuh biaya yang lebih besar pula. Dengan berat hati cincin tersebut pun dijual.

Tak cukup dengan menjual cincin, Siti pun memutuskan bekerja, apa saja asalkan bisa menghasilkan uang dan halal, mulai dari jadi buruh di pabrik kertas sampai memilah-milah ikan teri. Uangnya digunakan untuk biaya sekolah.

Dasarnya Siti memang cukup cerdas, di SMA pun dia selalu mendapatkan beasiswa bingga ke perguruan tinggu.

Tapi, bangku perguruan tinggi itu pun buka mudah dan langsung dienyamnya. Karena selulus SMA Siti sempat mengganggur selama satu tahun, dia bekerja mengumpulkan uang untuk ikut les bimbingan belajar.

“Saat itu gaji saya Rp 150.000 per bulan, saya sisihkan untuk biaya les bimbel sebesar Rp 700.000. Alhamdulillah tahun berikutnya saya lulus ujian penerimaan universitas negeri dan kuliah di USU (Universitas Sumatera Utara),” ujarnya.

Di tahun 2009, saat itu masih duduk di semester V, ada program kompetisi kewirausahaan mahasiswa, Siti ikut dan berhasil dan mendapatkan dana Rp 16 juta untuk memulai usaha bersama teman-teman.

“Kami membuat usaha D’tik Pop Mencit, yakni usaha pengembangbiakan tikus putih untuk bahan ujicoba. Di awal memulai usaha, kami diamanahkan kampus menjadi konsultan riset ilmiah untuk penyediaan hewan percobaan, mulai untuk Fakultas Kedokteran, Farmasi, Biologi, dan Peternakan,” cerita Siti. Tak hanya di USU, usahanya pun berkembang hingga bisa menydiakan tikus putih untuk bahan riset bagi Universitas Syiah Kuala Banda Aceh dan Universitas Diponegoro Semarang. Usaha itu pun berkembang prospektif.

Hanya saja, di tahun 2011 bisnisnya sempat menurun. Dikarenakan sistem manajemen yang belum beres, serta di sisi lain orangtuanya sangat berkeinginan agar Siti mendapatkan pekerjaan di kantoran. Permintaan yang bisa dipahaminya, mengingat sebagai orangtua yang terbiasa hidup susah tentu ingin anak-anaknya hidup lebih mapan dengan jadi pegawai kantoran atau pegawai negeri.

Usai wisuda S1, Siti mencoba ikut tes penerimaan pegawai Bank Negara Indonesia (BNI), dan dia pun diterima. “Padahal waktu itu cuma iseng-iseng doang, tapi BNI menerima saya. Gak nyambung sebenarnya, saya dari jurusan Biologi tapi kerja di bank. Sempat bekerja di BNI selama satu bulan, tapi hati tidak sesuai gingga akhirnya memilih keluar,” ceritanya.

Siti Maimunah 3Keluar dari bank, dan usaha pun sempat terbengkalai hingga tiga bulan. Sebelum akhirnya Siti diahubungi seorang profesor dari Amerika Serikat yang menanyakan tentang usaha tikus putihnya. Awalnya bingung untuk menjawab, namun akhirnya semua dijelaskan dan profesor tersebut paham hingga menyarankan ikut seleksi beasiswa unggulan pascasarjana.

Kesempatan berharga pun didapat, Siti mendapatkan beasiswa S2 full. Dari pendidikan itu relasi usaha juga didapat, karena pasar tikus putih ini terbanyak adalah dosen dan mahasiswa.

Namun nasib, peruntungan memang bisa berubah-ubah, naik-turun ibarat roda pedati. Karena di tahun 2012 saat hendak memulai usaha lagi, kandang tikus putihnya kebakaran karena korsleting listrik.

Usaha pun dimulai dari awal. Tetap mengusahakan tikus putih, tapi dengan brand sendiri yakni Miceculus. Kemudian ikut lomba Wirausaha Muda Mandiri dan berhasil mewakili Sumatera Utara ke tingkat nasional untuk kategori jasa.

Dua tahun membangun bisnis itu, orangtua pun melarang untuk melanjutkannya, dengan pertimbangan tertentu, dan Siti memilih mengalah.

Babak baru pun dijalani. Usai mengikuti pertemuan wirausaha muda tingkat ASEAN di Thailand, Siti mengambil langkah untuk mengembangkan usaha baru, yakni melanjutkan usaha keluarga; pembuatan kue tradisional.

“Saat itu ibu masih menjalani usaha pembuatan kue, tapi sebatas untuk penghasilan harian. Kemudian saya minta izin meregenerasi tapi dengan brand sendiri. Dari sini saya bangun sistem baru di usaha kuliner Kue Nyi Arsih,” katanya.

Usaha Kue Nyi Arsih inilah sekarang yang jadi tumpuan untuk hidup keluarga, membangun ekonomi dari sulit menjadi mandiri.

“Alhamdulillah, orderan kini semakin banyak. Bahkan adik saya juga bisa dibiayai kuliah dari usaha ini,” ucapnya.

Itulah perjalanan panjang seorang wirausahawan muda. Mungkin perjuangan ke depan masih akan lebih panjang, dan lebih berat lagi, tapi pengalaman telah mengajarkan Siti untuk siap menghadapinya. (koh)