Sunday, August 19, 2018
Tags Posts tagged with "Syifa Hidroponik Farm"

Syifa Hidroponik Farm

202

gnews.online |  Perkembangan budidaya tanaman secara hidroponik di Kota Medan sudah sangat menggembirakan. Tapi, sosialisasi harus terus dilakukan karena secara nyata persentase masyarakat yang menjalankan usaha ini masih relatif kecil.

Karena itu, Syifa Hidroponik – salah satu pelaku usaha hidroponik di Kota Medan – dengan difasilitasi Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan gencar melakukan sosialisasi, kali ini dengan turun ke kelurahan-kelurahan.

Seperti yang dilakukan Senin hingga Selasa (14-15/8/2017) sosialisasi dilakukan di Kelurahan Terjun, Kecamatan Medan Marelan, dilangsungkan di aula kantor lurah setempat.

Pada kesempatan tersebut, Suardi Raden, praktisi hidroponik dan pemilik Syifa Hidroponik yang menjadi narasumber menjelaskan mengenai potensi budidaya secara hidrioponik berupa sayuran, umbi-umbian dan buah-buahan, kepada kelompok masyarakat yang umumnya ibu rumah tangga.

“Kenapa ibu rumah tangga? Karena kami melihat kaum ibu ini yang punya kesempatan atau waktu luang untuk merawat tanaman. Hidroponik bisa dilakukan secara mudah, di lahan yang sangat kecil sekalipun. Makanya, ibu-ibu di sela kesibukan keseharian mengurus rumah tangga, bisa sambilan mengusahakan hidroponik,” kata Suardi.

Dia mengatakan, masyarakat tidak usah dulu berpikir untuk menjual hasil tanaman hidroponiknya. “Bisa untuk mencukupi kebutuhan keluarga saja sudah sangat bagus. Tapi kalau memang produksi berlebih, banyak pasar yang mau menampung,” ucapnya.

Pada kesempatan tersebut, Suardi pun memberikan teori budidaya secara hidroponik. Lalu praktek menyemai dan budidaya hidroponik dengan wick system atau sistem sumbu.

“Pada prinsipnya, hidroponik bisa dilakukan dengan mudah dan murah. Tak perlu membeli bahan-bahan yang mahal, dengan memanfaatkan ember bekas, atau botol-botol air mineral bekas juga bisa,” kata Suardi.

Usai belajar bertanam, peserta diajak untuk belajar mengolah hasil tanaman hidroponik. Rahmayetty, istri Suardi Raden, yang mengajari peserta memasak aneka makanan seperti nugget sayur, cendol bayam, otak-otak dan sebagainya.

Sebelumnya, Kepala Dinas Ketahanan Pangan Kota Medan Muslim Harahap saat membuka acara pelatihan itu mengharapkan masyarakat bisa memanfaatkan ilmu yang diberikan ini, dengan mempraktekkannya di rumah masing-masing.

“Prinsipnya, kalau kita ingin maju, harus rajin berusaha. Pak Suardi dengan Ibu Yetty sudah membuktikan bahwa mereka bisa berhasil dengan mengusahakan tanaman hidroponik ini di pekarangan rumahnya yang tidak luas. Masyarakat lainnya juga harus bisa, dan saya yakin bisa asal mau belajar dan berusaha,” kata Muslim.

Sementara itu, usai dua hari pelatihan di Kelurahan Terjun tersebut, pelatihan dilanjutkan di hari berikutnya di Kelurahan Belawan I, Kecamatan Medan Belawan. Juga diprogramkan untuk ke kelurahan-kelurahan lain di kecamatan lain pula. (koh)

1024

gnews.online | Tehnik bercocok tanam secara hidroponik kini makin banyak digemari, terutama oleh masyarakat perkotaan. Makin terangkat lagi dengan adanya orang-orang yang intens menyosialisasikannya ke masyarakat, salah satunya asalah sosok Suardi Raden.

Suardi, atau Pak Raden – demikian dia sering dsapa oleh orang-orang terdekatnya – bersama sang istri Rahmayetty kini punya kesibukan baru di sela aktivitasnya sebagai supplier di sejumlah perusahaan, untuk menebarkan ‘virus’ hidroponik ke masyarakat di berbagai daerah Sumatera Utara.

“Sudah banyak daerah, umumnya diundang oleh instansi pemerintah setempat, untuk mengajarkan tehnik hidroponik. Belum lagi yang datang langsung ke rumah, hampir tiap hari ada saja,” kata Suardi mengawali pembicaraan, suatu hari di kediamannya yang sekaligus jadi farm, di Jalan Bromo Lorong Amal No. 11, Medan.

Suardi pun menceritakan, sekitar tahun 2013 dia masih lebih banyak berkutat dengan hobi lamanya, memelihara burung. Saat itu, dari burung jenis lovebird dan sebagainya, dia bisa mendapatkan pendapatan cukup lumayan.

“Tapi suatu ketika, saya melihat hidroponik mulai trend, walau sebenarnya bukan hal baru tapi saya pun mulai coba-coba mengikutinya. Semuanya mengalir begitu saja, saya belajar secara otodidak dengan searching dari Google,” paparnya.

Tapi lama-lama dia keterusan. Naluri bisnisnya sebagai supplier melihat ada celah yang bisa digarap, dari trend budidaya hidroponik tersebut. Dia pun mulai melayani penjualan aneka perlengkapan hidroponik, mulai dari NFT, media tanam, nutrisi dan sebagainya. Hingga akhirnya dia banyak melayani kegiatan pelatihan, utamanya sekarang untuk para penyuluh pertanian dan ibu-ibu PKK di kecamatan dan kelurahan bekerjasama dengan Badan Ketahanan Pangan Kota Medan.

Mereka yang ikut pelatihan itulah, yang kini sering datang ke rumahnya, selain untuk belajar ya ikut memanen tanaman. “Kadang tanaman belum besar pun sudah mereka angkut. Tapi ya biar saja, anggap sedekah, mudah-mudahan berkah,” kata Suardi, senyum, sambil menunjuk seperangkat NFT yang kosong karena habis dipanen tamu.

Dari didasari hobi, kini Suardi sudah merasakan manfaat ekonomi.  Lebih dari itu, dia merasakan kenyamanan dari kegiatan bertanam seperti ini. “Kegiatan bertanam seperti ini tantangannya banyak, jadi lebih asyik. Jiwa dan raga jadi sehat,” ucapnya.

Istrinya, Rahmayetty, menimpali, bagi ibu-ibu rumah tangga, kegiatan bertanam seperti ini juga sangat bermanfaat, baik untuk membantu perekonomian keluarga juga untuk menambah nutrisi sehat ke keluarga.
11988722_10204478338551108_6763313777065067187_n

“Dulu, misalnya, dalam satu hari saya menghabiskan Rp 100.000 untuk belanja kebutuhan dapur termasuk sayur-sayuran, sekarang uang segitu bisa untuk dua hari. Karena sayur-sayuran berikut cabai, bawang dan lainnya saya petik sendiri di rumah,” katanya.

Selain itu, dia bisa menyuguhkan makanan sehat bagi keluarga. “Anak-anak yang sebelumnya tak suka sayur, sekarang jadi suka. Karena sayuran hasil hidroponik lebih renyah dan gurih, beda dengan yang kita beli di pasar. Mungkin karena kandungan pestisidanya,” imbuhnya.

Apalagi, kini Rahma kreatif mengolah sayuran segar hasil tanaman hidroponiknya menjadi berbagai produk, seperti nugget sayur yang dipadukan dengan ayam, tahu, ikan, udang tau jamur, serta satu lagi yang tengah banyak digemari ; rendang kangkung crispy.

Produk-produk itu kini dikemas dengan merek Syifa Hidroponik, sama dengan nama farm mininya yang ada di pekarangan rumah.

“Saya ingin keluarga-keluarga di Kota Medan ini bisa mempraktekkan hidroponik di rumah masing-masing. Karena banyak manfaat ekonominya. Saya lebih membidik masyarakat menengah ke bawah, dengan memanfaatkan bahan yang tersedia di sekitar kita. Tak perlu mahal membeli seperangkat NFT, karena kita juga bisa memanfaatkan botol-botol bekas sebagai wadah. Jadi konsep ramah lingkungannya juga dapat,” papar Rahma, yang beberapa kali diundang sebagai pembicara dalam program televisi untuk membahas soal hidroponik.

Nah, semoga ‘virus’ hidroponik yang ditebar Suardi dan istri ini juga menginfeksi Anda-anda semua. (koh)