Wednesday, August 21, 2019
Tags Posts tagged with "Terhadap"

Terhadap

220

Medan – gnews.online |

Kinerja nilai tukar Rupiah pada perdagangan Selasa (3/10/2017), terus terpuruk dan melanjutkan trend pelemahannya terhadap mata uang US Dollar, sedangkan IHSG cetak rekor tertingginya.

Analis ekonomi Lautan Dana Sekuritas di Medan, Gunawan Benjamin menyebutkan, nilai tukar Rupiah masih belum mampu keluar dari tekan US Dollar yang makin perkasa diperdagangkan.

“Pergerakan Rupiah dalam minggu ini murni masih dipengaruhi faktor eksternal. Makanya Rupiah masih tergantung terhadap US Dollar. Hal ini tentu tidak baik buat Rupiah karena US Dollar makin perkasa diperdagangkan,” ujar Gunawan, Selasa (3/10).

Menurutnya, pelemahan lanjutan Rupiah ini tercermin dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang terdepresiasi cukup tajam.

“Setelah di awal pekan lalu Rupiah sempat dipatok melemah tipis yang berada pada level 13.499,  pada perdagangan Selasa (3/10), Rupiah kembai terdepresiasi sebesar 83 poin pada level 13.582.

Di sisi lain, pergerakan US Dollar masih dipengaruhi rencana Trump yang akan mereformasi pajak. Trump mulai mendapatkan dukungan terkait dengan rencananya tersebut. Jika rencana Trump ini akan terealisasi, maka akan berefek pada perekonomian AS yang diperkirakan positif.

“Imbasnya rencana The Fed yang akan tetap menaikkan tingkat suku bunga di tahun ini akan benar-benar terealisasi. Hal inilah yang membuat US Dollar semakin menguat diperdagangkan terhadap mata uang dunia termasuk Rupiah,” ujarnya.

Sementara itu, IHSG mampu mencetak rekor tertingginya meski Rupiah tengah melemah. IHSG mengawali perdagangan dibuka menguat pada level 5915,43. IHSG sempat mencetak rekor tertingginya pada level 5953,48. IHSG akhirnya ditutup menguat sebesar 25,42 poin atau 0,43 persen menjadi 5939,45 dengan total transaksi mencapai Rp. 6,25 Triliun.

Peregerakan IHSG yang mampu bertahan di zona hijau dan sempat mencetak rekor tertingginya ini ditopang indeks sektor pertambangan yang ditutup menguat sebesar 1,497 persen sekaligus memimpin penguatan indeks sektoral.

“Menguatnya indeks sektor pertambangan karena naiknya harga beberapa komoditas seperti timah yang naik sebesar 0,158 persen dan nikel yang naik 0,636 persen yang terpantau sampai Selasa sore,” jelasnya. (art)

263

Medan – gnews.online |

Kinerja harga komoditas yang menjadi salah satu pendorong pertumbuhan ekonomi Indonesia harus diwaspadai, karena harga komoditas yang masih berpotensi tertekan bisa menjadi salah satu ancaman yang menghambat capaian pertumbuhan ekonomi ke depan.

Kepala Pusat Kebijakan Pendapatan Negara Kementerian Keuangan RI Rofyanto Kurniawan mengatakan, kinerja harga komoditas, inflasi dan infrastruktur diperkirakan akan membuat target pertumbuhan ekonomi nasional bisa meningkat dari 5,02 persen di tahun 2016 menjadi 5,2 persen di tahun 2017.

“Namun harus diakui, ketergantungan terhadap komoditas juga menjadi salah satu ancaman perekonomian Indonesia, karena harga yang kerap fluktuasi. Tapi komoditas memang masih jadi andalan Indonesia dalam menggenjot ekonomi di tahun 2017 ini,” katanya dalam Seminar Forum Ekonomi Kementerian Keuangan, di Medan.

Rofyanto menyebutkan, saat harga minyak mentah turun pada 2015, harga komoditas melemah sehingga menggangu pertumbuhan ekonomi di tahun itu. Karena itulah, perekonomian tahun ini memang masih harus dikawal dan kerja keras untuk bisa mencapai target pertumbuhan ekonomi di level 5,2 persen.

Dia juga menegaskan, pengawalan ekonomi secara ketat harus dilakukan secara menyeluruh sehingga bisa tetap tumbuh. Meski diperkirakan ekonomi RI tidak akan ‘kuat’ tahun 2017 ini, tapi harus tetap berupaya dan bisa mencapai target 5,2 persen.

Sementara itu, Dosen Fakultas Ekonomi Bisnis Universitas Sumatera Utara (USU) yang juga Regional Ekonom Kementerian Keuangan RI Wahyu Ario Pratomo menyebutkan, harga komoditas sangat berpengaruh besar pada perekonomian masyarakat terutama di Sumut. Karena terbukti, harga komoditas yang kerap berfluktuasi dengan kecenderungan menurun, berdampak pada daya beli petani.

“Harga komoditas yang belum begitu pulih juga menjadi salah satu faktor yang membuat perekonomian Sumut belum tumbuh maksimal. Pada triwulan II secara year on year (yoy) misalnya, pertumbuhan ekonomi Sumut masih 5,09 persen. Memang pertumbuhan ekonomi di triwulan II semakin baik dari triwulan I yang sebesar 4,50 persen. Tetapi harus kerja keras untuk bisa mencapai target,” ujarnya. (art)

362

Sinabung-GNews: Maybank Foundation bekerja sama dengan MERCY Malaysia meluncurkan program Building Resilient Communities (BRC) di Kabupaten Karo, Provinsi Sumatera Utara.

Program ini dilaksanakan untuk meningkatkan kesadaran komunitas lokal, yang berpotensi terkena dampak langsung bencana gunung api Sinabung. Program diselenggarakan melalui pendekatan teknikal dan Mitigasi Risiko Bencana.

Pembukaan program Building Resilient Communities (BRC) dilakukan minggu lalu di desa Perbaji, Kecamatan Tiganderket, Kabupaten Karo, Sumatera Utara, oleh Head Corporate Responsibility & Maybank Foundation Secretariat En Ahmad Faezal bin Mohamed bersama Honorary Secretary MERCY Malaysia YM Datin Raja Riza Shazmin Raja Badrul Shah dengan disaksikan Sekretaris Daerah Kabupaten Karo Saberina Tarigan, Konsulat Jenderal Malaysia di Medan Encik Amizal Fadzli Rajali, Head, Regional Supervision & Support Maybank Indonesia Jaihut Sijabat beserta karyawan Maybank Indonesia yang terlibat dalam program BRC.

Gunung Sinabung, yang terletak di Kabupaten Karo, merupakan gunung berapi yang sudah tidak aktif selama 400 tahun sebelum meletus kembali pada 2010. Letusan menyebabkan 10.000 penduduk dari 10 area di Kabupaten Karo kehilangan tempat tinggal, kondisi tanah yang labil di sekitar gunung berapi menyebabkan daerah sekitarnya masih terancam bahaya.

Oleh karena itu, untuk mengatasi situasi tersebut, Maybank Foundation bersama MERCY Malaysia telah menjalin kemitraan strategis dengan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) dalam merencanakan program latihan yang komprehensif untuk meningkatkan kesadaran dan memberikan pengetahuan kepada komunitas yang terkena dampak dari bahaya gunung berapi.

Program bernilai lebih dari Rp870 juta dibiayai penuh dari pendanaan Maybank Foundation melalui Corporate Responsibility Secretariat yang senantiasa memberikan bantuan kemanusiaan kepada komunitas yang terdampak bencana alam.

Menurut En Ahmad Faezal bin Mohamed, Head Corporate Responsibility & Maybank Foundation Secretariat, Maybank Foundation selalu mendukung upaya bantuan kemanusiaan yang dilakukan lembaga swadaya masyarakat di regional dan kami juga telah menyalurkan bantuan kepada komunitas yang terkena dampak erupsi Gunung Merapi di Pulau Jawa pada tahun 2010.

“Alhamdulilah, kami juga mendapat kesempatan untuk mendukung komunitas lokal yang terkena dampak gunung Sinabung dan gempa bumi. Kami yakin dengan ikatan yang kuat antara kami dan MERCY Malaysia, seluruh upaya untuk membangun komunitas yang tangguh di Kabupaten Karo melalui program Building Resilient Karo insya Allah dapat tercapai dengan sukses,” ujarnya.

Disebutkan, tujuan utama dari program ini diantaranya adalah memastikan komunitas penerima manfaat memiliki ketangguhan yang absorptif, adaptif dan transformatif untuk menghadapi bencana dan gempa bumi.

En Norazam Ab Samah, Director Strategic Programme Development Mercy mengatakan, pelatihan yang dilaksanakan akan memberikan nilai tambah dan menghasilkan komunitas dengan ketangguhan adaptif dan ketangguhan transformative yakni kemampuan untuk berubah selama masa darurat atau sewaktu-waktu dibutuhkan misalnya, lapangan sepakbola, alun-alun kota, rumah sakit, yang selama masa darurat dapat berubah fungsi menjadi tempat perlindungan selama bencana atau gempa bumi.

“Tempat-tempat ini dapat diidentifikasi oleh komunitas lokal dan perlu diinformasikan oleh pemerintah sebagai lokasi darurat selama terjadinya bencana gunung berapi dan gempa bumi,” jelasnya.

Selain meningkatkan kesadaran pengetahuan teori, program juga memfokuskan pada upaya membangun insitusi, mekanisme dan ketangguhan yang kuat untuk menghadapi bencana melalui praktek dan simulasi.

Ada lima modul yang digunakan dalam program ini yang menargetkan pada beberapa cluster komunitas, yakni Community Based Disaster Risk Management (CBDRM), School Preparedness Program (SPP), Resilient Hospital (RH) and Local Government Units. Program-program ini diimplementasikan melalui pelatihan, bengkel kerja, seminar, kelas pelatihan simulasi dan masih banyak lagi yang akan dikerjaan bersamaan.

Di fase kedua program ini, Maybank Foundation melalui MERCY Malaysia akan menyediakan tempat penampungan sementara dan fasilitas dasar WASH bagi komunitas lokal.

Saat ini, mayoritas komunitas yang kehilangan rumah, tinggal di gedung serba guna sebagai tempat penampungan sementara. Selain memberikan paparan dan pengetahuan, program ini diharapkan dapat memberikan tempat penampungan sementara yang lebih kondusif bagi 300 keluarga pengungsi. (Ayb)