Sunday, June 7, 2020
Tags Posts tagged with "UMSU"

UMSU

460

gnews.online | Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) manfaatkan Bank Indonesia (BI) Corner untuk diskusi dan membaca buku di perpustkaan kampus tersebut.

“Para mahasiswa selalu berkunjung ke perpustakaan. Salah satu tempat yang sangat digemari mahasiswa untuk membaca yakni di BI Corner. Kami juga memanfaatkan untuk berdiskusi dan belajar khususnya kemampuan listening kami,” ucap Ketua Relawan Perpustakaan UMSU, Ghina Farahtika, kemarin di kampus tersebut Jalan Mukhtar Basri Medan.

Dia menjelaskan, sejak adanya BI Corner dan sejumlah corner lain seperti Japan Corner dan KUI Corner mahasiswa lebih banyak berkunjung, bahkan lebih intensif karena mereka bisa memilih tempat representatif untuk berdiskusi khususnya mengerjakan tugas-tugas yang harus diselesaikan secara berkelompok.
Di BI Corner, katanya sejumlah fasilitas sangat mendukung seperti buku-buku yang sangat bagus khususnya buku-buku tentang pengembangan diri seperti buku karya Rhenald Kasali “self driving”, “ditruption” dan buku jurus ampuh dapat beasiswa LPDP, Jamu LPDP”. Sedangkan buku-buku lain seperti ekonomi, perbankan, perpajakan juga ada dan buku-buku itu berkualitas.

Ghina mengatakan sangat berterimakasih kepada UMSU yang telah bekerja sama dengan dengan BI sehingga mampu menyediakan BI Corner. Hal ini sangat membantu mahasiswa saat ada tugas.

“Kami belajar listening dan ada fasilitasnya di BI Corner. Jadi, kita bisa menonton dilanjutkan dengan diskusi. Apalagi layar televisi yang disediakan cukup besar,” ucapnya.

Kepala UPT Perpustakaan UMSU Muhammad Arifin didampingi Koordinator Bidang Perencanaan dan Pengembangan IT, Azharryandi Arman mengatakan keberadaan BI Corner sudah ada sejak dilakukan MoU dengan UMSU pada 19 Juli 2017.

Bentuk kerjasama itu pihak BI menyediakan BI Corner dan pengadaan Booth BI Corner serta menyertakan bantuan berupa sarana dan fasilitas berupa televisi 43 inchi, komputer, buku bahasa Indonesia dan buku berbahasa Inggris.

Sejak ada di perpustakaan, pengunjung sangat banyak. Mahasiswa biasanya membaca, dan berdiskusi. Kalau sudah di BI Corner biasanya mahasiswa betah karena tempatnya nyaman,” katanya.

Selain BI Corner, di Perpustakaan UMSU juga ada Japan Corner dan KUI Corner. Keberadaan corner ini menjadi dayak tarik sendiri. Mahasiswa jadi betah berlama-lama di perpustakaan.

Perpustakaan UMSU, katanya juga mengembangkan buku-buku di BI Corner dengan dimaksukan ke sistem sehingga bisa dimanfaatkan pemustaka.(dev)

502

gnews.online | Program Studi Teknik Sipil, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (PSTS-UMSU) melaksanakan Serial Program Peningkatan Kualitas dan Daya Saing Lulusan PSTS-UMSU 2017, Angkatan ke-4.

Program pertama tahun 2017 ini adalah Pelatihan Perencanaan dan Pelaksanaan Pekerjaan Pondasi Dalam yang dilaksanakan bekerjasama dengan Asosiasi Tenaga Teknik Indonesia (ASTTI) Sumatera Utara dan PT.Perintis Pondasi Teknotama pada tgl 12 – 15 Juni 2017 kemarin di Kampus Pascasarjana Jl. Denai, Medan.

Pelatihan ini dilaksanakan dalam 2 sesi dan diikuti oleh 80 peserta yang berasal dari mahasiswa tingkat akhir dan lulusan baru PSTS-UMSU.

Menurut Ketua PSTS-UMSU, Dr. Ade Faisal, MSc kegiatan ini ditujukan utk meningkatkan kompetensi lulusan sehingga lebih mudah mencari kerja. Kalau selama ini waktu menunggu dpt pekerjaan pertama para lulusan adalah 2-4 bulan, dihatapkan dapat ditekan menjadi 1-3 bulan.

Pelatihan ini dibuka oleh Dekan Fakultas Teknik UMSU Rahmatullah, ST, MSc. Ketua ASTTI Sumut Ir. Saut B. Sinaga juga turut memberikan kata sambutan. Sebagai Narasumber pada pelatihan ini adalah Ir. Kores Sirait, MT, seorang praktisi pondasi senior dan juga Ketua Himpunan Ahli Teknik Tanah Indonesia (HATTI) Sumut.

Dekan Rahmatullah memberikan apresiasi yang tinggi kepada prodi teknik sipil UMSU yang sudah melakukan kegiatan pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas keilmuan mahasiswa dan lulusan agar mampu bersaing dengan lulusan lain.

Bagi FT UMSU, kedepannya sangat dibutuhkan sertifikat keahlian yang dapat menunjang mahasiswa dan lulusan untuk memasuki dunia usah atau bekerja di berbagai lapangan pekerjaan khususnya yang mencakup lapangan kerja teknik sipil.

Program kedua di 2017 ini akan dilaksanakan pada akhir Juli 2017 yaitu Pelatihan Pelaksana dan Pengawas Pekerjaan Jalan dan Jembatan bekerja sama dengan Himpunan Pengembangan Jalan Indonesia (HPJI) Sumut. (dev)

286

gnews.online | Rektor Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) Dr Agussani, MAP menyerahkan 300 paket sembako kepada masyarakat di Kelurahan Glugur Darat II, Kec. Medan Timur. Rektor menaikkan bantuan ini dibanding tahun lalu yang hanya 200-an paket.

Paket sembako itu berisi beras, gula, dan minyak goreng untuk keperluan Ramadhan dan menyambut Lebaran.

Rektor langsung membagi-bagikan paket tersebut kepada masyarakat secara simbolis di satu acara di Jalan Ampera persis di belakang Kampus UMSU.

“Sembako ini tanda syukur kita kepada Allah swt. Mudah-mudahan dapat meringankan masyarakat dalam memenuhi kebutuhan selama Ramadhan dan Idul Fitri nanti,” kata rektor di hadapan masyarakat dan Muspika sesaat sebelum pembagian sembako di Lingkungan III Jalan Ampera Medan.

Menurut rektor, program bagi-bagi sembako ini merupakan program universitas setiap Ramadhan atau menjelang Lebaran. Menandakan UMSU maju tidak terlepas dari dukungan masyarakat.

Setiap tahun sembako ini disebar ke sejumlah masyarakat tidak hanya di sekitar Kampus III Jalan Kapt. Mukhtar Basri tetapi juga pada masyarakat di Kampus Jalan Gedung Arca (Fakultas Kedokteran) dan Kampus Pascasarjana di Jalan Denai.

Kepada masyarakat di Jalan Ampera, Rektor berpesan agar sama-sama menjaga lingkungan. Masyarakat, UMSU dan Muspika telah komit untuk menghempang upaya seseorang atau pihak luar yang menganggu ketentraman dan kenyamanan di sekitar kampus.

Menurutnya, jika suasana lingkungan aman akan memberikan efek positif pada proses belajar mengajar di kampus. Untuk itu, lanjut rektor, peran masyarakat sangat menentukan UMSU berkembang dan maju dalam mendidik anak bangsa. Selama ini kerjasama universitas dengan masyarakat dan Muspika cukup baik dan harmonis.

Atas dasar itu, kata rektor, UMSU selalu mendukung dan memberikan perhatian pada apa yang menjadi kebutuhan masyarakat. UMSU menunjukkan rasa kepedulian pada sesama ini tidak sebatas pada Ramadhan melainkan pada setiap Idul Adha dengan menyumbang hewan kurban.

“Semoga dengan kebersamaan dan bahu membahu antara UMSU dan masyarakat serta Muspika dapat memberikan efek yang positif pada keamanan Kota Medan,” katanya.

Kepling III Syamsul Bahri, Sabtu(10/6) mengapresiasi bantuan sembako yang diberikan Rektor UMSU kepada masyarakat. Bantuan ini telah meringankan beban masyarakat masyarakat dalam memenuhi kebutuhan masyarakat selama Ramadhan dan Idul Fitri. Dia berharap kepedulian ini dapat meningkatkan keimanan kita.

Mewakili Lurah Glugur Darat II Syawaluddin mengatakan masyarakat dan Muspika terus mendukung kemajuan UMSU. Turut mendampingi rektor yakni WR I Dr Muhammad Arifin Gultom, WR II Akrim M.Pd, WR III, Sekretaris Universitas Gunawan, M.Th, pimpinan lembaga, pimpinan fakultas serta Prodi. (dev)

338

gnews.online | Pangdam I/BB Mayjen TNI Cucu Sumantri mengharapkan perguruan tinggi di Sumatera Utara termasuk UMSU ikut berperan menanamkan jiwa nasionalisme pada mahasiswa sehingga lulusannya memiliki kecintaan pada tanah air, tetap menjaga dan merawat NKRI.

“Peran kampus sangat strategis untuk melakukan hal tersebut. Saya yakin itu, termasuk harapan saya pada UMSU  yang unggul cerdas terpercaya menjadi world class university, sejak awal cukup gencar melakukan sosialisasi tentang pentingnya nasionalisme pada mahasiswa,” kata Pangdam saat bersilaturahim di kampus UMSU Jalan Kapt. Mukhtar Basri.

Kunjungan Pangdam ke UMSU didampingi lengkap para pejabat Kodam termasuk Asintel Kolonel Maulana Ridwan, Dandim 0201/BS, Aster dan Denpom serta Danramil setempat. Pangdam dan rombongan langsung disambut Rektor UMSU Dr Agussani MAP bersama Sekretaris Rektor Gunawan, M.Th, WR I Dr Muhammad Arifin Gultom, WR II Akrim, M.Pd, Ketua Badan Pembina Harian UMSU Drs H Firdaus Naly, PW Muhammadiyah, sivitas akademika serta  ustadz Amhar Nasution dan Buya KH Amiruddin MS.

Sebelum santap siang bersama di Aula UMSU,  Pangdam dan pejabat di lingkungan Kodam bersama rektor shalat Zuhur berjamaah di Masjid Taqwa lingkungan kampus.

Lebih lanjut Pangdam mengatakan, kampus juga berperan untuk mendorong mahasiswa berinovasi untuk kemajuan bangsa ke depan. “Saya harapkan  mahasiswa sebagai generasi penerus saat kita setelah meninggalkan estafet kepemimpinan bisa memimpin lebih baik lagi,” katanya.

Menurutnya, kampus yang kuat menanamkan jiwa nasionalisme akan menghasilkan lulusan yang berinovasi melanjutkan estafet kepemimpinan bangsa ini dalam rangka mempertahankan NKRI, di samping meningkatkan kesejahteraan  masyarakat dan bangsa. Hal ini tentunya dapat meningkatkan kewibawaan Indonesia di mata dunia.

Sementara itu Rektor UMSU Dr Agussani, MAP mengapresiasi kunjungan Pangdam dan saling bersilaturahim dengan sivitas akademika. Selama ini, lanjutnya, UMSU memiliki hubungan yang baik dengan jajaran Koramil, Kodim dan Kodam.

Rektor optimis silaturahim dan  jamuan makan siang sivitas akademika UMSU bersama Pangdam dan jajarannya dapat meningkatkan kerjasama terutama melakukan pemberdayaan masyarakat. Selain itu terus memberi penguatan tentang wawasan kebangsaan pada generasi muda seperti yang diharapkan Pangdam kepada kampus-kampus.

Usai santap siang, Pangdam dan rombongan meninjau lingkungan kampus UMSU dan sempat berbincang-bincang dengan para mahasiswa. Pangdam juga meninjau  Klinik Pratama UMSU yang melayani BPJS.  Pangdam menerima tawaran dokter untuk mengecek tensi. tekanan darah. “Bapak sering olahraga ya, nampak dari tekanan darahnya (120/70). Bapak cukup sehat. Luar biasa,” kata seorang dokter.

Lalu, Pangdam dengan seloroh menyampaikan “Pangdam harus sehat dong.”   Suasana kekeluargaan dan keakraban mewarnai kunjungan Pangdam dan pejabatnya sampai meninggalkan kampus. (dev)

1086

gnews.online | Keberadaan pekerja sosial (peksos) profesional untuk membantu pemerintah dalam menangani dan menanggulangi penyandang masalah kesejahteraan sosial (PMKS) di Sumut masih sangat minim.  Saat ini jumlah peksos profesional yang terdata tidak sampai 200 orang.

“Memang masih minim dibandingkan jumlah individu yang menjadi PMKS di Sumut yang saat ini mencapai 2.800.000 jiwa. Jumlah peksos profesional yang terdata di IPSPI tidak sampai 200 orang. Di sisi lain, rasio antara peksos dengan PMKS seharusnya1 banding 100. Artinya, Sumut masih butuh ribuan peksos profesional untuk menangani PMKS,” ujar Ketua Ikatan Pekerja Sosial Profesional Indonesia (IPSPI) Sumut, Hairani Siregar, pada seminar “Urgensi Undang-Undang Pekerja Sosial untuk Meningkatkan Eksistensi Profesi Pekerja Sosial” yang diselenggarakan Program Studi Ilmu Kesejahteraan Sosial, Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU).

Menurut dia, ke depan Sumut membutuhkan ribuan peksos profesional untuk membantu pemerintah dalam menangani dan menanggulangi PMKS. Peksos profesional ini diharapkan muncul dari lulusan Prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial yang sudah memiliki kompetensi di bidang pekerjaan sosial.

Peksos profesional tersebut harus muncul dari lembaga pendidikan tinggi yang menyelenggarakan pendidikan Ilmu Kesejahteraan Sosial. Saat ini di Indonesia diperkirakan terdapat lebih dari 36.000 pekerja sosial profesional lulusan dari 35 perguruan tinggi yang memiliki prodi Ilmu Kesejahteraan Sosial.

Hanya saja, peksos masih butuh payung hukum berupa undang-undang. Oleh karena itu, pemerintah dan DPR diminta segera mengesahkan Rancangan Undang-Undang (RUU) Pekerja Sosial menjadi UU Peksos sebagai payung hukum untuk profesi peksos.

“Praktik pekerjaan sosial perludiformalkandalam suatu undang-undang sehingga kewenangan profesional, budaya profesional, kode etik, dan sanksi dapat menjadi terkontrol. Dengan demikian, masyarakat maupun para pekerja sosial memahami hak dan kewajibannya,” kata Hairani. (dev)

359

gnews.online | Rektor UMSU Dr Agussani diwakili Wakil Rektor I Dr Arifin Gultom mengatakan, kita bersyukur hari ini kedatangan Ketua Komisi Yudisial (KY) Prof DR Aidul Fitriciada Azhari SH MHum untuk memberikan kuliah umum dengan tema “Urgensi Keterlibatan KY dalam RUU Jabatan Hakim.

KY merupakan salah satu  institusi negara yang realtif baru, karena ada setelah amandemen UUD 1945. Pada waktu sebelum diamandemen kekuatan kehakiman itu ada dilaksanakan oleh Mahkamah Agung. Tapi setelah diamandemen ada 2 institusi lain walaupun posisinya berbeda, yakni MK dan KY. “Mudah-mudahan ini memberikan pencerahan bagi kita,” kata Arifin Gultom saat membuka kuliah umum di Auditorium UMSU Jalan Mukhtar Basri, Kamis (2/3).

Pada kesempatan itu, Ketua KY Prof DR Aidul Fitriciada menjelaskan kedudukan konstitusional KY RI yang diatur dalam satu BAB tersendiri oleh MA dan MK. Dalam pasal 24 disebutkan bahwa pelaku kekuasaan kehakiman ada 2 yakni Mahkamah Agung beserta peradilan yang dibawahnya dan Mahkamah Konstitusi.

“KY bukan pemegang kekuasaan kehakiman. Karena itu dalam UUD hanya disebutkan KY memiliki kewenangan atau otoriti saja. Jadi kedudukan KY itu sebagai suporting (lembaga yang mendukung kekuasaan kehakiman) tetapi tidak berarti posisinya lebih rendah dari pada pemegang kekuasaan kehakiman,” kata Aidul.

Dikatakannya, kekuatan kehakiman pelakunya adalah Mahkamah Agung dan peradilan yang ada dibawahnya bersama MK. KY hanya memiliki kewenangan dan kewenangannya terbatas.

“Kewenangan Yudisial itu adalah memeriksa, mengadili dan memutus perkara. Jadi hakimnya cuma itu kerjanya. Sementara KYY menangani hal yang diluar dilakukan hakim. Apa itu, inilah yang akan dirumuskan dalam RUU dalam jabatan hakim sebagai kewenangan mengurus hakim atau bahasa akademis managemen hakim. Jadi bukan menangani perkara, “kata Aidul.

Dalam UU hakim disebut sebagai pejabat negara maka dia harus dipilih. Hakim itu harus seperti pilot hanya mengendalikan pesawat. Urusan penumpang dan barang serta macam-macam ditangani orang lain, harusnya begitu. Jangan seperti sekarang ini, hakim selain memeriksa perkara mengurus administrasi, uang, kepegawaian akhirnya putusan-putusannya kita lihat main berkurang kualitasnya semakin banyak masalah karena berurusan dengan uang, kata Ketua KY.

Menjawab pertanyaan, Aidul mengatakan, memang perkembangan peradilan di berbagai negara berbeda-beda. Kalau di Australia mahasiswa Fakultas Hukum itu minimal 25 tahun jadi tidak ada yang imut-imut seperti di negara kita, karena sarjana hukum itu harus sudah matang. Dan yang jadi mahasiswa FH itu sudah sarjana yang lain seperti sarjana ekonomi, teknik, pendidikan dan lainnya. Sehingga pada usia 30 tahun baru boleh jadi hakim. Karena hakim bukan profesi biasa maka harus sudah matang dan butuh kearifan.

RUU ini menyangkut menajemen hakim dan diharap KY bisa terlibat misal dalam merekrut Menhakim, promosi mutasi hakim, penilaian kinerja hakim, pengawasan hakim bahkan kalau dimungkinkan tentang pensiunan atau pemberhentian hakim. Dan sekarang sudah sebagian diikutkan pada KY seperti kemarin pemberhentian melalui MKH. Sejak KY berdiri dan bersama MA sudah memberhentikan 47 hakim. Artinya KY sebenarnya terlibat dalam pemberhentian hakim. (dev)      

683

gnews.online | Fakultas Teknik Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (FT UMSU) berkesempatan mengikuti Program Pelatihan Jarak Jauh Bidang Konstruksi (PJJBK) yang disosialisasikan oleh Dirjen Bina Konstruksi Kementerian Pekerjaan Umum Perumhan Rakyat.
Kegiatan sosialisasi ini diadakan di Gedung Teknik FT UMSU belum lama ini menghadirkan pembicara Ardian Reza dan Nuriamah, keduanya dari Balai Penerapan Teknologi Konstruksi.

Dekan FT UMSU Rahmatullah ST MSc, mengatakan, Balai Penerapan Teknologi Konstruksi (Balai PTK) merupakan salah satu balai yang mendukung Dirjen Bina Konstruksi dalam pelaksanaan tugas melakukan pembinaan konstuksi nasional.

Balai ini, katanya, merupakan transformasi dari Balai Peningkatan Keahlian Konstruksi pada pertengahan tahun 2016. Balai ini memiliki program pelatihan Distance Learning bidang konstruksi yang dikenal dengan Pelatihan Jarak Jauh Bidang Konstruksi (PJJBK).

Rahmatullah menambahkan, tujuan pelatihan ini memberikan akses pengetahuan yang sebesar-besarnya pada masyarakat jasa konstruksi di seluruh Indonesia dalam rangka capacity building.

Melalui pelatihan ini ada tiga keuntungan yang diperoleh masyarakat jasa konstruksi dalam pemanfaatan PJJBK antara lain, mendapatkan modul ajar sesuai dengan standar kompetensi yang berlaku dan peraturan-peraturan terkait spesifikasi teknis.

Selain itu mendapatkan pengakuan dari Lembaga Pengembangan Jasa Konstruksi Nasional (LPJKN), dimana sertifikat pelatihan PJJBK dapat menjadi prasyarat pemenuhan pelatihan minimum 50 JPL bagi yang baru lulus S1/D4 perguruan tinggi (fresh graduate) untuk mengikuti uji kompetensi ahli muda sesuai ketentuan yang berlaku.

Di samping itu pula ucap dekan, mendapatkan pengakuan tentang nilai satuan kredit pengembangan keprofesian (SKPK) dari LPJKN sebesar maksimal 25 poin/kegiatan dalam rangka pengumpulan kredit poin untuk pengembangan keprofesian berkelanjutan (continuing professional development).

Lebih lanjut dijelaskannya, dalam sosialisasi pendampingan penggunaan aplikasi ini sebanyak 50 orang mahasiswa FT UMSU menjadi peserta yang berlatar belakang pendidikan pada rumpun jurusan teknik sipil, lingkungan dan perencanaan wilayah akan mengikuti pelatihan berbasis online.

Peserta ini berasal dari perguruan tinggi khususnya mahasiswa minimal semester VII atau telah lulus S1/D4 dan pesertanya juga berasal dari asosiasi profesi yang telah memiliki sertifikat SKA muda. (dev)

518

gnews.online | Seorang dosen  harus meneliti. Sebab  peneliti akan kaya. Satu publikasi saja bisa menghasilkan uang jutaan rupiah. Apalagi publikasi internasional  terindeks Scopus maka mendapat Rp 50 juta. Bahkan apabila disitasi maka penghasilan bisa bertambah.

“Ke depan dosen tidak boleh hanya mengajar saja. Bahkan, ketika mengajar saja tidak ada guna. Jika tidak meneliti lebih baik keluar jadi dosen. Memang meneliti itu model pembayaran tidak menggunakan sistem pembayaran tunai atau cash and carry system. Tetapi dengan meneliti akan menghasilkan uang yang banyak dan tentunya mampu mewujudkan Tri Dharma Perguruan Tinggi,” kata Reviewer Nasional Prof Dr Saryono saat Sosialisasi Pedoman Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Dikti Edisi X Revisi 2017 di Kampus Pascasarjana UMSU, Jalan Denai Medan, kemarin.

Saryono mengatakan, tanpa meneliti dosen tidak akan bisa mengurus kenaikan pangkat. Karena ibaratnya, Tri Dharma Perguruan Tinggi seperti tungku. Jika salah satunya tidak berjalan, maka akan ‘anjlok’.

Dia memotivasi menjadi peneliti penghasilan bisa mengimbangi dekan atau ketua jurusan. Untuk itu, seluruh dosen UMSU diajak ramai-ramai meneliti. Kalau sudah terbiasa bisa menjadi hobi. Untun­gnya, bisa mematok target. Kapan menjadi guru besar.

Selain memberi motivasi dan berbagi pengalaman meneliti. Saryono menjelas­kan hal-hal baru dalam edisi X revisi 2017. Antara lain, anggaran penelitian berubah. Anggaran penelitian naik.

Perubahan anggaran ini menggunakan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) 106. Dalam peraturan ini untuk menghindari terjadi temuan inspektorat dan BPK.

“Di PMK 106 dikatakan penelitian berbasis output. Memang mekanisme masih belum detail. Tetapi, hanya masalah ang­ga­ran saja yang ada penyesuaian. Intinya di 2017, edisi ada luaran wajib dan tambahan. Luaran tambahan tidak dihitung (boleh dihilangkan), tetapi luaran wajibnya harus ada laporan komprehensif,” katanya.

Laporan komprehensif diterjemahkan dalam edisi X revisi, laporan yang biasa dibuat ditambah luaran wajib setiap skema. Begitu, mendapat luaran wajib akan ada poin dibayarkan tahun berikutnya.

Dia menyarankan kepada LPPM UMSU karena klaster penelitian sudah utama agar membuat coaching clinic karena ada 60 lebih dosen yang berpotensi untuk kompetitif nasional . “Ini penting dilakukan. Paling tidak mempertahankan posisi atau menaikkan. Jika tidak bisa berpengaruh terhadap kinerja penelitian,” katanya.

Rektor UMSU, Dr Agussani, MAP mengatakan, UMSU tetap mendorong dosen-dosen untuk meneliti. Bahkan, anggaran yang disiapkan cukup besar. Awalnya, Rp1 miliar tetapi dinaikkan seiring dengan gairah dosen-dosen UMSU meneliti. UMSU merupakan salah satu PTS di Sumut yang mendapat hibah penelitian paling banyak. 2017 ada 74 dosen mendapat hibah penelitian dengan serapan anggaran diperkirakan Rp3,5 miliar. “Perolehan hibah ini naik dari tahun 2016 yang hanya memperoleh 29 proposal penelitian dan pengabdian kepada masyarakat,” katanya. (dev)

507

gnews.online | Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) siap menuju Perguruan Tinggi yang Go Internasional.  Strategi itu dirintis dengan  dibukanya Kantor Urusan Internasional (KUI) yang akan memasilitasi berbagai kegiatan kerjasama antara UMSU dengan Perguruan Tinggi dan Lembaga-lembaga Pendidikan Internasional.

Penegasan itu disampaikan Rektor UMSU Dr. Agussani MAP saat membuka Sosisialisasi dan Workshop Internasionalisasi Kampus UMSU di Gedung Pascasarjana, di Jalan Denai, Medan.

Saat ini ada sebanyak 50 Perguruan Tinggi Muhammadiyah (PTM) yang tergabung dalam Forum Kantor Urusan Internasional yang berkedudukan di Yoqjakarta. Ke-50 PTM itu saling melakukan koordinasi untuk menemukenali peluang dan tantangan yang dihadapi.

Rektor UMSU Dr. Agussani MAP menegaskan bahwa persoalan internasionalisasi sudah merupakan keniscayaan yang harus dilakukan perguruan tinggi. Melalui kerjasama internasional diharapkan dapat mendorong peningkatkan kualitas UMSU ke depan.

Agussani berharap kerjasama UMSU dengan berbagai Perguruan Tinggi di luar negeri selama ini dapat ditingkatkan menjadi lebih program yang lebih konkrit.

Posisi UMSU yang berada di Kota Medan  dan sangat dengat dengan negara ASEAN lainnya, akan menjadi tantangan untuk menggalan kerjasama internasional, seperti melalui pertukaran mahasiswa, dosen dan kerjasama ilmiah lain.

Workshop dan Sosialisasi Internasionalisasi Kampus UMSU menghadirkan Ketua Forum Kantor Urusan Internasionalisasi PTM se-Indonesia, Ida Puspita, yang juga dosen di Universitas Ahmad Dahlan Yoqjakarta.

Ida Puspita mengapresiasi rencana UMSU yang bertekad menjadikan  Kampus yang Go. Internasional. Sesuatu yang mustahil saat ini Perguruan Tinggi tidak melakukan kerjasama-kerjasama internasional, katanya.

Workshop dan Sosialisasi Internasionalisasi Kampus UMSU yang berlangsung sehari itu diikuti para Kepala Program Studi dari berbagai Fakultas di UMSU. (dev)

384

gnews.online | Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU) kucurkan dana sebesar Rp 2 miliar untuk penelitian dan pengabdian masyarakat dosen untuk tahun anggaran 2016/2017. Peluncuran dana tersebut merupakan hasil kesepakatan antara manajemen UMSU dengan pimpinan tinggi Muhammadiyah di Yogyakarta.

Ungkapan tersebut disampaikan Rektor UMSU Dr Agussani MAP dalam sambutannya pada acara Penandatanganan Kontrak Program Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat Internal UMSU Tahun 2016 di Auditorium Pascasarjana UMSU Jalan Denai Medan.

Disebutkannya dari 240 proposal penelitian dan pengabdian masyarakat yang diajukan para dosen, setelah dilakukan reveuer sebanyak 93 yang dinyatakan lolos yaitu 70 untuk judul penelitian dan 23 judul untuk pengabdian masyarakat.

“Para dosen yang dinyatakan yang lolos proposal penelitian pengabdian masyarakat akan mendapat bantuan dana penelitian sebesar Rp 10 juta s/d 50 juta. Jadi dari total anggaran Rp 2 miliar anggaran yang telah disiapkan UMSU hanya Rp 1,3 miliar yang terpakai,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan, selain telah menyiapkan anggaran penelitian secara internal untuk para dosen sebesar Rp 2 miliar, UMSU juga menerima dana penelitian sebesar Rp 3,5 miliar dari kemenristekdikti untuk 68 proposal penelitian dan 6 proposal pengabdian kepada masyarakat.

Dia berharap dengan besarnya dana penelitian yang dianggarkan untuk para dosen dapat memacu para dosen UMSU untuk rajin melakukan penelitian. “Dengan besarnya anggaran yang kita siapkan untuk penelitian para dosen, otomatis kesejahteraan para dosen akan meningkat, dengan demikian akan banyak ide brilian untuk melakukan penelitian,” ucapnya.

Kordinator Kopertis Wilayah I Prof Dian Armanto dalam kesempatan tersebut mengatakan dengan besarnya anggaran yang disiapkan UMSU bagi para dosen untuk proposal penelitian dan pengabdian masyarakat diharapkan dapat memicu dan memotivasi para dosen UMSU untuk melaksanakan penelitian dan penagbdian masyarakat.

“Kita berharap para dosen akan terpacu untuk melakukan penelitian dan pengabdian masyarakat dengan besarnya anggaran yang disiapkan oleh pihak UMSU demi untuk menambah kesejahteraan para dosennya,” ujarnya.

Dia juga menyebutkan salah satu yang mendorong orang untuk melakukan penelitian salah satunya adalah besarnya dana penelitian untuk peningkatan kesejahteraan. Selain itu belajar merupakan perubahan tingkah laku secara relatif permanen dan secara potensial terjadi sebagai hasil dari praktek atau penguatan (reinforced pratic) yang dilandasi tujuan untuk mencapai tujuan tertentu. (dev)