Sunday, June 7, 2020
Tags Posts tagged with "UN"

UN

88

Jakarta – gnews.online |

Ketua Pengurus Besar Persatuan Guru Republik Indonesia (PB PGRI) Didi Suprijadi meminta Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Kariem tidak hanya fokus pada penghapusan Ujian Nasional. Nadiem diminta melihat dari sisi gurunya.

“Guru ini spesiesnya begitu banyak. Jadi segi kualitas berbeda. Jadi kalau gurunya tak dibenahi, agak tertatih-tatih membenahi. Kemendikbud itu nggak punya guru. Hanya provinsi dan kabupaten/kota, Kemenag Madrasah,” kata Didi di Jakarta, sebagaimana dilansir liputan6.com, Sabtu (14/12/2019).

Dia menegaskan, selama ini UN sudah berubah-ubah nama. Tapi lupa peran akan guru. “Kalau guru enggak dibenahi mohon maaf, DKI 15 juta, Tangerang enggak segitu. Guru honorer 300 ribu. Gimana bicara assessment kalau guru masih lapar,” jelas Didi.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menegaskan bahwa Ujian Nasional atau UN 2020 merupakan yang terakhir. Pada 2021, UN akan digantikan dengan Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter.

“Penyelenggaraan UN tahun 2021, akan diubah menjadi Asesmen Kompetensi Minimum dan Survei Karakter, yang terdiri dari kemampuan bernalar menggunakan bahasa (literasi), kemampuan bernalar menggunakan matematika (numerasi), dan penguatan pendidikan karakter,” jelas Nadiem di Hotel Bidakara, Jakarta, Rabu (11/12/2019).

Menurut Nadiem, Ujian Nasional dianggap kurang ideal untuk mengukur prestasi belajar. Materi UN juga terlalu padat, sehingga cenderung berfokus pada hafalan, bukan kompetensi.

“Kedua, ini sudah menjadi beban stres antara guru dan orangtua. Karena sebenarnya ini berubah menjadi indikator keberhasilan siswa sebagai individu,” ucap dia.

Padahal, kata Nadiem, semangat UN adalah untuk mengasesmen sistem pendidikan. Baik itu sekolahnya, geografinya, maupun sistem pendidikan secara nasional.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim menjelaskan apa itu pengganti Ujian Nasional (UN) yakni asesmen kompetensi.

Asesmen kompetensi dan survei karakter bakal dimulai pada 2021. Nadiem menyebut nantinya asesmen kompetensi akan berdasarkan numerasi (matematika), literasi (bahasa), dan survei karakter.

“Satu literasi, kemampuan memahami konsep bacaan. Kedua numerasi, bukan kemampuan menghitung, tapi kemampuan mengaplikasikan konsep menghitung dalam suatu konteks abstrak dan nyata,” kata Nadiem.

Nadiem menjelaskan alasan memilih asesmen literasi dan numerasi. “Kenapa kita pilih literasi? Bisa memahami semua pelajaran kalau memahami logikanya literasi dan numerasi. Ini kompetensi inti untuk bisa belajar apapun, untuk fisika, IPS, matematika, bahasa sastra, sejarah, semua hal informatika, ini basisnya,” jelas dia.

Terakhir mengenai survei karakter, Nadiem menyebut pada asesmen ini akan disurvei pada anak, seberapa jauh paham atau asas pancasila dipahami dan diterapkan siswa.

“Terakhir survei karakter, di sini lah kita menanyakan pertanyaan untuk menemukan seberapa jauh asas pancasila. Caranya bukan tanyakan sila yang mana? Atau apa sila kedua?. Tapi poinnya apa itu gotong royong, apa itu toleransi. Akan dibuat survei apakah ini anak dibully di kelas, apa anak ini mendapat tekanan, apa dia diberi ajaran tidak toleran, apa diberi kesempatan beropini,” terangnya.

Mantan CEO Gojek ini memastikan, asesmen kompetensi ini sudah ada dasar dan survei dari berbagai macam asesmen di seluruh dunia.

“Kita bekerja sama berbagai macam organisasi, seperti yang membuat PISA, yang semuanya mengasses secara murni kompetensi bernalar,” kata Nadiem Makarim. (lip6)

95

Jakarta – gnews.online |

Dekan Fakultas Psikologi Universitas Mercu Buana (UMB), Muhammad Iqbal mengatakan, yang membuat siswa stres bukanlah Ujian Nasional, tapi persepsi guru maupun orangtua yang salah tentang kecerdasan.

“Paradigma guru dan orangtua menyedihkan. Banyak anak-anak yang sedih, mau bunuh diri karena mereka tertekan. Bukan karena mau menghadapi ujian. Karena menghadapi persepsi tentang kecerdasan yang salah dari guru dan orangtua,” ungkapnya, dalam diskusi, di Jakarta, Sabtu (14/12/2019).

Paradigma tersebut, kata dia, terungkap dari sikap yang menilai kecerdasan anak hanya dari nilai dan keberhasilan dalam UN. Padahal ujian nasional, hanya menilai sejauh mana anak itu menangkap kurikulum.

Ujian, jelas dia, tidak mampu menilai kecerdasan secara umum. “Kalau kita bicara psikologi, kecerdasan itu ada sembilan. Logic matematik itu hanya salah satu. Tapi kalau di Indonesia ini, kalau orang nggak bisa matematik, dianggap bodoh sehingga anak-anak ini malas-malasan,” kata dia.

“Zaman saya, anak pintar ngomong, dianggap masalah. Ini ngomong melulu. Padahal pintar ngomong itu salah satu kecerdasan. Tapi di sekolah dan paradigma orangtua, tetap anak itu harus ikut olimpiade Fisika, Kimia, dan Matematika. Lebih pada sainsnya dikedepankan. Padahal ada survei Indonesia Career Center Network (ICCN), 87 persen mahasiswa kita salah pilih jurusan. Karena yang penting lulus,” imbuhnya.

Kembangkan Banyak Aspek dari Kecerdasan

Karena itu, ke depan, sistem pendidikan nasional harus mengembang banyak aspek dari kecerdasan anak. Sehingga tidak hanya berpatok pada nilai-nilai yang sifatnya penilaian kuantitatif.

“Kak Seto bilang, saya tanya, Matematikanya 4. Tapi bisa jadi doktor. Karena punya masa depan, motivasi tinggi, daya juang, berani, percaya diri, gigih, pantang menyerah. Dan itu tidak ada nilainya di rapor. Kami punya mimpi. Itu nggak ada nilai di rapor,” ujar dia.

“Sementara anak yang nilainya 9 semua, tapi tidak mau bergaul, tidak punya teman, tidak punya keberanian, tidak percaya diri, akhirnya mereka jadi petugas administrasi. Tidak bisa menjadi pemimpin. Ini jadi masalah besar,” tandasnya. (lip6)

144

Jakarta – gnews.online |

Kepala Biro dan Layanan Masyarakat Kemendikbud, Ade Erlangga Masdiana mengatakan, dengan penghapusan ujian nasional, maka anggaran jauh lebih efisien.

“RPP (Rencana Pelaksanaan Pembelajaran) kan nanti jauh lebih sederhana. Itu juga biayanya yang tadinya 20 lembar, guru ada 3 juta orang kali 20 lembar itu berapa? Jadi nanti bisa lebih efisien,” kata Ade di Jakarta, seperti dilansir liputan6.com, Sabtu (14/12/2019).

Selain itu, anggaran ujian nasional yang jumlahnya sampai ratusan miliar bisa dialokasikan untuk hal lain.

“Misalnya untuk pengembangan infrastruktur, bisa memperbaiki sekolah-sekolah, lalu kemudian untuk mengembangkan guru penggerak. Itu kan jadi nanti bisa meningkatkan kesejahteraan guru, bisa kita alihkan ke hal-hal yang lain,” ungkap Ade.

Kembangkan Potensi Guru

Anggaran tersebut, kata dia, juga dapat untuk mengembangkan kompetensi guru.

“Guru yang kompeten. Oleh karena itu hal-hal yang kemudian kita lakukan efisiensi, bisa kita alokasikan kepada hal yang sangat urgent ke depan,” pungkasnya. (lip6)

317

MEDAN – gnews.online |

Tahun ini, Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) tingkat Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) diikuti 889 sekolah, dari 929 SMK yang ada di Sumatera Utara (Sumut). Itu berarti 95,69 persen SMK di daerah ini sudah menggunakan ujian berbasis komputer.

Sedangkan jumlah siswa SMK yang mengikuti ujian nasional tahun 2017, berdasarkan data dari Dinas Pendidikan Sumut, mencapai 89.418 orang. Sekitar 97,9 persen atau 87.554 orang siswa diantaranya sudah mengikuti UNBK. Hanya 1.874 siswa atau sekitar 2,1 persen siswa saja yang masih mengikuti ujian nasional dengan menggunakan pensil dan kertas.

Hal itu disampaikan Gubernur Sumatera Utara (Gubsu) Tengku Erry Nuradi ketika meninjau pelaksanaan UNBK SMK di SMK Negeri 7 Medan di Jalan STM Nomor 12 Medan, Senin (2/4/2018).

“Ini suatu kemajuan dengan SMA dan SMK itu di bawah naungan provinsi sesuai undang-undang nomor 23 tentang pemerintah daerah, siswa yang mengikuti ujian nasional dengan kertas dan pensil menjadi lebih kecil. Lebih banyak menggunakan ujian nasional berbasis komputer (UNBK),” ujarnya.

Karenanya, di era teknologi saat ini, Gubsu Tengku Erry mengharapkan agar Dinas Pendidikan Sumut dapat mempertahankan dan meningkatkan jumlah siswa SMK yang mengikuti UNBK. Sehingga seluruh sekolah SMK yang ada di daerah ini dapat mengikuti UNBK. “Diharapkan teknologi IT ini juga dapat digunakan untuk penerimaan peserta didik dan kenaikan pangkat guru-guru secara online,” ucap Erry.

Sementara, Kepala Sekolah SMK Negeri 7 Amiruddin menyampaikan, jumlah siswa yang mengikuti UNBK di sekolahnya sebanyak 670 orang dan ada 15 orang menumpang gedung di SMK Negeri 7 yaitu dari SMK Advent Medan.

Dikatakannya, ujian nasional berlangsung selama empat hari, mulai tanggal 2-5 April 2018. Hari pertama dimulai dengan ujian Bahasa Indonesia. “Siswa dari Advent mengikuti UNBK pada sesi terakhir,” kata Amiruddin.

Usai dari SMKN 7, Gubsu menyempatkan diri meninjau UNBK di SMKN 2 di Jalan STM Medan. Terlihat para siswa secara tertib melaksanakan UNBK tersebut.

Gubsu pada kesempatan itu didampingi Kepala Kanwil Kemenag Sumut HT Darmansyah, Kabid SMA Rosmawaty Nadeak, dan Ketua Panitia UN Provsu August Sinaga. (art)

477

gnews.online | Di hari pertama pelaksanaan Ujian Nasional (UN) Gubernur Sumut Ir HT Erry Nuradi MSi menyempatkan memantau pelaksanaan UN berbasis Komputer (UNBK) di Kota Medan, Tapanuli Tengah (Tapteng) dan Sibolga Senin (03/04).

Pemantauan ini diawali di SMK 2 Medan, Jalan STM Medan. Disekolah ini Gubsu mengaku bahwa dirinya pelaksanaan UNBK 2017 lebih baik dari sebelumnya. Selain menekan kebocoran soal ujian, hasilnya juga lebih cepat diketahui.

“Saya mengucapkan selamat mengikuti ujian nasional bagi siswa-siswi SMK,” ujar Erry.

Dikatakan Erry bahwa tingkat kebocoran soal di UNBK 2017 sangat kecil bahkan hampir tidak mungkin. Karenanya ia meminta agar siswa jangan percaya isu adanya bocoran soal dari pihak manapun.

“Tentunya kita lebih mengenalkan sistem IT. Karena dengan begini, hasilnya akan lebih cepat disampaikan dan diketahui. Jadi semua harus bisa menguasai IT, kalau tidak akan ketinggalan,” sebutnya.

Gubernur berpesan kepada para siswa yang mengikuti UNBK agar mengikuti ujian dengan baik dan jujur. Sebab para peserta ujian ini merupakan generasi bangsa untuk masa depan.

“Selamat untuk anak-anakku, mudah-mudahan bisa berperan mengabdi kepada bangsa dan negara,”ujarnya.

Usai meninjau di SMK 2 Medan, Gubsu dan rombongan langsung bertolak ke Tapteng melalui Bandara Udara KNIA-FL Tobing Tapteng. Setibanya di Tapteng Gubsu langsung meninjau ke SMKN Badiri Tapteng. Di sekolah ini Gubsu menyempatkan sesi istirahat siswa untuk poto bersama dengan para siswa dan guru. Gubsu mengakhiri kunjungan memantau pelaksanaan UNBK di SMKN 1 Sibolga.

Sementara itu Kepala Dinas Pendidikan Provsu Arsyad Lubis mengatakan total siswa SMA sederajat yang mengikuti UN sebanyak 195.749 siswa dari 1895 SMA dan SMK yang ada di Sumut.

Dari total sekolah tersebut sebanyak 904 sekolah (SMA-SMK) melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) dan 991sekolah (SMA-SMK) melaksanakan Ujian Nasional Kertas Pinsil (UNKP).

“Dari 904 sekolah yang UNBK jumlah siswanya 117.735 siswa. Sedangkan 991 sekolah yang UNKP jumlah siswanya 78.014 siswa,”ujar Arsyad. (koh)

550

gnews.online | Masa aktif belajar bagi siswa kelas tiga yang akan ikut Ujian Nasional(UN) hanya 5 minggu lagi. Sebab, awal April mendatang, mereka sudah mengikuti Ujian Nasiona(UN). Hal ini disampaikan Kepala SMKN 5 Medan, Maraguna Nasution, Rabu(11/1).

Dengan rentang waktu yang minim itu, katanya, masa efektif belajar siswa sekaligus sosialisasi tentang UN. Tahun ini ada matapelajaran yang diujikan Berstandar Nasional,antaranya pelajaran Agama. Maka,sangat perlu disosialisasikan kepada siswa.

Disebutkannya, sekaitan dengan dekatnya UN, orang tua siswa juga perlu diberikan sosialisasi, agar mereka mendukung anak-anaknya dalam belajar menjelang UN.

Walau UN bukan syarat kelulusan, namun sangat diharapkan nilai mereka bagus dan akhlaknya baik.

Saat disinggung apakah tahun ini sudah melaksanakan Ujian Nasional Berbasis Komputer(UNBK), Maraguna mengaku belum akan menyelenggarakannya. “Belum sanggup, karena biayanya sangat mahal, pengadaan komputer dan server belum tertanggulangi untuk siswa,” ungkapnya.

Terpisah, Kepala SMAN 2, Drs Sutrisno mengungkapkan, sudah menggelar sosialisasi UN untuk siswa. Hal itu kata dia,karena tahun ini sekolahnya sudah mulai melaksanakan UNBK.

Meski komputer yang dimiliki terbatas,kata Sutrisno,namun dia bersama guru di sekolah ini berupaya untuk melaksanakan UNBK. “Memang komputer belum cukup dan ruangan terbatas untuk melaksanakan UNBK, namun harus kami mulai,”katanya kemarin.

Sambil sosialisasi dan simulasi kepada siswa tentang pelaksanaan UNBK,sambung Sutrisno, pihaknya bersama komite sekolah akan berdiskusi tentang kelengkapan komputer untuk mendukung UNBK. “Mungkin kami akan pinjam dari sekolah lain,”katanya yang mengaku belum mendapatkan informasi penyebaran komputer oleh Mendikbud jelang UN mendatang. (dev)

672

MEDAN – GNews : Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tanjung Gusta, Medan, melaksanakan Ujian Nasional (UN) tingkat SD atau paket A pada tahun 2016. Paket A yang dikuti 8 orang peserta dari anakbinaan.

“Yang mengikuti UN SD atau paket A diikuti 14 orang, terdiri 8 orang dari anakbinaan kita dan 6 orang dari luar,” Sahduriman kepala seksi pembinaan dan pendidik (Kasi Binadik) LPKA Kelas I Tanjung Gusta, Medan, kepada wartawan, Kamis (19/5) siang.

Untuk pelaksanaan, Sahduriman menjelaskan seperti pada umum UN Formal. Begitu juga, UN awasi dari pengawas Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan dan pihak LPKA Tanjung Gusta Medan.

“Kita memberikan fasilitas untuk tempat ujian dan menyiadakan pengawas ujian. Juga ada pengawasan ujian dari Disdik Provensi Sumatera Utara dan Kota Medan,” tuturnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa untuk materi atau naskah UN sama seperti pada umumnya bagi pelajar tingka SD yang mengikuti ujian nasional tersebut.

“Cuma perbedaannya jam pelaksanaan ujiannya. Untuk pelaksanaan pada Pukul 13.00 WIB dengan jadwal ujian dan hari pelaksanaan yang sama,” ucapnya.

Sahduriman untuk mempersiapkan pelaksanaan UN, agar anakbinaan bisa mengerjakan soal UN. Pihak LPKA Tanjung Gusta, Medan juga menyiapkan tim pendidik sendiri.

“Kita juga mempersiapkan seperti simulasi UN, yakni Try Out kerjasama pihak terkait,” tuturnya.

Dia menambahkan setiap anakbinaan di LPKA Tanjung Gusta Medan diberikan pembekalan seperti ilmu pengetahuan dan ijazah dengan mengikuti ujian paket A, B dan C.

“Jadinya, anakbinaan yang keluar dari LPKA sudah siap bekerja. Bila mau kuliah ijazah paket C bisa menyambung pendidikannya,” tandasnya.

Sebelumnya, pada pekan lalu. LPKA Kelas I Tanjung Gusta, Medan juga menggelar UN) tingkat SMP, Senin (9/5) lalu. Yang diikuti 21 orang anakbinaan terdiri 1 orang peserta formal dan 20 orang peserta non-formal. MAN

408

MEDAN-Gnews:Anggota DPR RI, Sofyan Tan mengatakan, data neraca pendidikan tahun 2015 menunjukkan, hasil Ujian Nasional (UN) di kota Medan banyak terjadi kecurangan. Angka integritas UN siswa di kota Medan hanya 40,43%.

“Jika dibandingkan dengan kota besar lainnya di Indonesia, angka integritas yang dicapai siswa-siswa di kota Medan cukup memalukan,” katanya.

Seharusnya, lanjut dia, kota Medan sebagai kota ketiga terbesar di Indonesia, harus dibarengi dengan integritas UN yang bagus. Terlebih dalam pelaksanaan UN, sudah seharusnya berbasis komputer, tidak hanya satu SMA negeri saja. Pemerintahan di Medan harus memberikan perhatian serius untuk ini.

“Nilai integritas UN Kota Medan hanya 40,43%, artinya para pelajara kota Medan integritasnya rendah. Ujian banyak yang nyontek,” katanya.

Dijelaskan Sofyan Tan, pemerintah kota Medan harus menyediakan sumber daya manusia yang baik dalam dinas pendidikan. Orang-orang yang duduk di kursi jabatan birokrasi, harus paham dengan betul pendidikan.

Dikatakannya, dengan rendahnya integritas siswa dalam pelaksanaan UN, nilai uji kompetensi guru juga rendah. Berada di ranking ketiga di Sumatera Utara (Sumut), atau di bawah Kota Binjai dan Tebing Tinggi.

Nilai Uji Kompetensi Guru di Medan, berada di posisi ketiga dengan angka 56,31%. Nilai ini masih dibawah nasional yang 56,69%.(dev)

605

MEDAN – GNews : Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tanjung Gusta, Medan, melaksanakan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP, Senin (9/5). Yang diikuti 21 orang anakbinaan terdiri 1 orang peserta formal dan 20 orang peserta non-formal.

Seluruh peserta tampak kelihat kesulitan untuk menjawab soal UN dengan mata pelajaran Bahasa Indonesia dan Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan (PPKN). Dimana, pelaksaan UN akan berlangsung 9 hingga 11 Mei 2016.

“Kalau dilihat sulit, tapi bisa mengerjai dan menjawab. Siap ujian keseluruhan akan kita lakukan evaluasi,” ungkap Sahduriman kepala seksi pembinaan dan pendidik (Kasi Binadik) LPKA Kelas I Tanjung Gusta, Medan, kemarin.

Untuk pelaksanaan, Sahduriman menjelaskan seperti pada umum UN Formal. Begitu juga, UN awasi dari pengawas Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Medan dan pihak LPKA Tanjung Gusta Medan.
“”Kita memberikan fasilitas untuk tempat ujian dan menyiadakan pengawas ujian. Juga ada pengawasan ujian dari Disdik Provensi Sumatera Utara dan Kota Medan,” tuturnya.

Dia juga mengungkapkan bahwa untuk materi atau naskah UN sama seperti pada umumnya bagi pelajar tingka SMP yang mengikuti ujian nasional tersebut.

“Cuma perbedaannya jam pelaksanaan ujiannya. Untuk pelaksanaan pada Pukul 13.00 WIB dengan jadwal ujian dan hari pelaksanaan yang sama,” tandasnya.

Sahduriman untuk mempersiapkan pelaksanaan UN, agar anakbinaan bisa mengerjakan soal UN. Pihak LPKA Tanjung Gusta, Medan juga menyiapkan tim pendidik sendiri.

“Kita juga mempersiapkan seperti simulasi UN, yakni Try Out kerjasama pihak terkait,” tuturnya.
Usai pelaksanaan UN, LPKA juga mempersiapakan untuk pelaksanaan ujian paket A atau UN SD.”Jadinya, pelaksanaannya pada tanggal 16 Mei 2016, mendatang. Akan diikuti delapan orang anakbinaan,” jelasnya.

Dia menambahkan setiap anakbinaan di LPKA Tanjung Gusta Medan diberikan pembekalan seperti ilmu pengetahuan dan ijazah dengan mengikuti ujian paket A, B dan C.

“Jadinya, anakbinaan yang keluar dari LPKA sudah siap bekerja. Bila mau kuliah ijazah paket C bisa menyambung pendidikannya,” tandasnya.

379

MEDAN – GNews : Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Kelas I Tanjung Gusta, Medan, akan melaksanakan Ujian Nasional (UN) tingkat SMP dimulai sejak tanggal 9 hingga 12 Mei 2016 dan akan diikuti 21 orang anakbinaan.

Kepala LPKA Tanjung Gusta Medan, Windu Arto mengatakan pelaksanaan UN SMP dari 21 peserta dibagi menjadi dua bagian. Pertama UN SMP formal dan kedua UN SMP Non-Formal.

“UN Formal diikuti 1 orang peserta dan UN Non-Formal diikuti 20 orang di LPKA ini,” ungkap Windu Arto, Minggu (8/5).

Dia menyebutkan untuk menghadapi UN SMP seluruh peserta UN ini, pihaknya sudah menyiapkan tim untuk mendidik sebelum pelaksanaan UN berlangsung. Agar anakbinaan bisa dan mampu menjawab pertanyaan dari lembar soal UN tersebut.

“Ya, tapi terbatas. Namun, kita maksimalkan untuk anakbinaan yang menghadapi UN mulai Senin besok,” jelasnya.

Windu Arto menjelaskan pelaksanaan UN di Lapas Anak ini, akan bekerjasama dengan Dinas Pendidikan (Disdik) Provensi Sumatera Utara dan Disdik Kota Medan.

“Kita memberikan fasilitas untuk tempat ujian dan menyiadakan pengawas ujian. Juga ada pengawasan ujian dari Disdik Provensi Sumatera Utara dan Kota Medan,” tuturnya.

Windu Arto juga mengungkapkan bahwa untuk materi atau naskah UN sama seperti pada umumnya bagi pelajar tingka SMP yang mengikuti ujian nasional tersebut.

“Cuma perbedaannya jam pelaksanaan ujiannya. Untuk pelaksanaan pada Pukul 13.00 WIB dengan jadwal ujian dan hari pelaksanaan yang sama,” tandasnya.