Timbul Siregar: Budi Daya Buah Naga Sangat Menjanjikan

Timbul Siregar: Budi Daya Buah Naga Sangat Menjanjikan

854

gnews.online |

Buah naga memiliki banyak khasiat bagi kesehatan. Belakangan ini, buah naga semakin banyak diminati dan dibudidayakan. Namun dalam perjalannya pengelolaannya tidak semudah yang dibayangkan. Karena dibutuhkan tehnik tertentu agar budi daya buah naga ini menghasilkan buah.

Timbul Siregar misalnya, yang mulai membudidayakan Buah Naga Merah di Jalan Lobulayan, Gang Buah Naga No.1, Kelurahan Palopat Maria, Kecamatan Hutaimbaru, Kota Padang Sidimpuan. Setahun terakhir, kawasan budidaya ini menjadi tujuan wisata yang banyak dikunjungi masyarakat.

Dituturkan Timbul Siregar, pemilik Agrowisata Buah Naga Merah Palopat Maria, awalnya hanya berupaya mengaplikasikan ilmu yang didapatnya dari Pelatihan di Jambi tahun 2013 lalu.

Saat itu terang Timbul, dia menjadi satu-satunya orang yang dikirim untuk mengikuti pelatihan budi daya buah naga dari gabungan kelompok tani (Gapoktan) ke Jambi. Karena rekan-rekannya yang lain tidak ada yang bersedia berangkat.

Dari pelatihan yang diikutinya selama 10 hari, banyak ilmu plajaran yang didapatnya. Bagaimana mengelola, merawat hingga memanen buah naga ini. Setelah kembali ke Kota Padangsidimpuan, Timbul pun mengaku berangkat lagi ke Jambi untuk membeli bibit buah naga.

Awalnya hanya coba-coba dengan 20 batang yang dikelolanya. Ternyata bibit tersebut menujukkan pertumbuhan yang bagus. Timbul pun perlahan menambah bibit lagi.

“Sekarang ini, total ada sebanyak 350 batang. Ini kita tanam bertahap.
Karena investasi yang dibutuhkannya tidak sedikit,” ujarnya.

Saat itu, untuk satu batang Timbul harus menginvestasikan senilai Rp150.000.  Besaran ini termasuk untuk penyangga dengan menggunakan tandiang. Namun mengunakan batang tersebut, usia penyangganya hanya sekira tiga tahun saja.

Hingga kemudian, dia pun membuat penyangga permanen. “Investasinya cukup besar, sekarang satu batang itu Rp200.000 itu sudah termasuk penyangga permanennya,” ujarnya.

Sebelum melirik peluang usaha ini, Timbul mengaku sudah menggeluti beragam usaha seperti tehnisi dengan membuka service, petani sayuran, kolam ikan. Namun semuanya tidak bertahan.

Hingga akhirnya, budi daya buah naga. Budi daya yang dirintisnya ini tiga tahun berjalan terus berkembang. Dia pun melihat prospek menjanjikan dari budi daya buah naga ini.

Apalagi saat ini, belum banyak budi daya buah naga. Karena permintaan pasar cukup tinggi. Sementara dia sendiri mengaku tidak mampu memenuhi permintaan pasar, karena keterbatasan lahan.

Harganya juga sangat ekonomis. Buah naga ini dipatok dengan harga Rp50.000 per kg. “Satu kilo itu, bisa hanya 2 buah. Untuk ukuran satu buah ukuran super bisa mencapai 8 ons hingga 9 ons,” ujarnya.

Timbul kini memiliki tiga petak lahan budi daya buah naga merah dengan ukuran 30×40 meter. Dari lahan ini, dia bisa memanen rata-rata 300 kg per dua pekan.

Jumlah itu sebutnya, masih jauh dari cukup untuk memenuhi permintaan konsumen. “Karena lahan kita masih terbatas, jadi biasanya pengunjung yang ingin beli itu pesan dulu. Kadang kalau ada buah yang mau panen tapi belum bisa dipetik itu diberi nama pembelinya. Setelah matang, baru kita hubungi yang punya,” ujarnya.

Dalam mengembangkan budi daya buah naga ini, Timbul mengaku saat ini sedang mencari mitra yang ingin membudidayakan buah naga merah ini. Atau pun bila ada masyarakat yang tertarik dengan usaha serupa dia bersedia mengedukasi dan berbagi pengalaman.

Timbul juga mengaku sering melakukan sharing dan berusaha memotivasi mahasiswa agar tidak melulu berharap menjadi pegawai setelah menyelesaikan pendidikan. Karena banyak peluang usaha yang ada disekitar yang bisa menghasilkan rupiah. (dia)