US Dollar Perkasa, Rupiah Terus Terpuruk

US Dollar Perkasa, Rupiah Terus Terpuruk

668

Medan – gnews.online |

Kinerja nilai tukar Rupiah pada perdagangan Selasa (3/10/2017), terus terpuruk dan melanjutkan trend pelemahannya terhadap mata uang US Dollar, sedangkan IHSG cetak rekor tertingginya.

Analis ekonomi Lautan Dana Sekuritas di Medan, Gunawan Benjamin menyebutkan, nilai tukar Rupiah masih belum mampu keluar dari tekan US Dollar yang makin perkasa diperdagangkan.

“Pergerakan Rupiah dalam minggu ini murni masih dipengaruhi faktor eksternal. Makanya Rupiah masih tergantung terhadap US Dollar. Hal ini tentu tidak baik buat Rupiah karena US Dollar makin perkasa diperdagangkan,” ujar Gunawan, Selasa (3/10).

Menurutnya, pelemahan lanjutan Rupiah ini tercermin dari kurs referensi Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) yang terdepresiasi cukup tajam.

“Setelah di awal pekan lalu Rupiah sempat dipatok melemah tipis yang berada pada level 13.499,  pada perdagangan Selasa (3/10), Rupiah kembai terdepresiasi sebesar 83 poin pada level 13.582.

Di sisi lain, pergerakan US Dollar masih dipengaruhi rencana Trump yang akan mereformasi pajak. Trump mulai mendapatkan dukungan terkait dengan rencananya tersebut. Jika rencana Trump ini akan terealisasi, maka akan berefek pada perekonomian AS yang diperkirakan positif.

“Imbasnya rencana The Fed yang akan tetap menaikkan tingkat suku bunga di tahun ini akan benar-benar terealisasi. Hal inilah yang membuat US Dollar semakin menguat diperdagangkan terhadap mata uang dunia termasuk Rupiah,” ujarnya.

Sementara itu, IHSG mampu mencetak rekor tertingginya meski Rupiah tengah melemah. IHSG mengawali perdagangan dibuka menguat pada level 5915,43. IHSG sempat mencetak rekor tertingginya pada level 5953,48. IHSG akhirnya ditutup menguat sebesar 25,42 poin atau 0,43 persen menjadi 5939,45 dengan total transaksi mencapai Rp. 6,25 Triliun.

Peregerakan IHSG yang mampu bertahan di zona hijau dan sempat mencetak rekor tertingginya ini ditopang indeks sektor pertambangan yang ditutup menguat sebesar 1,497 persen sekaligus memimpin penguatan indeks sektoral.

“Menguatnya indeks sektor pertambangan karena naiknya harga beberapa komoditas seperti timah yang naik sebesar 0,158 persen dan nikel yang naik 0,636 persen yang terpantau sampai Selasa sore,” jelasnya. (art)