Pria Rela Habiskan Rp 2,3 Miliar untuk Operasi Peninggi Badan, Mengatasi Rasa Tidak Percaya Diri karena Terlihat 'Pendek'
Jakarta - Seorang pria berusia 32 tahun asal Jakarta, yang enggan disebutkan namanya, baru saja menjalani operasi pemanjangan tulang kaki (limb lengthening surgery) dengan biaya mencapai Rp 2,3 miliar. Prosedur medis invasif ini dilakukan di sebuah klinik spesialis di Turki, negara yang dikenal sebagai pusat operasi kosmetik canggih dengan biaya relatif terjangkau dibandingkan Eropa atau Amerika Serikat. Motivasinya sederhana namun mendalam: mengatasi rasa tidak percaya diri (lack of confidence) yang selama ini menghantuinya karena tinggi badannya yang hanya 162 cm, membuatnya merasa "pendek" di mata orang lain, terutama dalam konteks sosial dan profesional. Kisahnya ini menjadi sorotan setelah dibagikan di media sosial, memicu diskusi luas tentang standar kecantikan, tekanan body image, dan risiko prosedur bedah estetika ekstrem.
Operasi pemanjangan tulang bukanlah prosedur sembarangan. Teknik yang digunakan adalah metode Ilizarov atau variannya seperti Precice nail, di mana tulang kaki (femur atau tibia) dipotong secara presisi, kemudian dipasang external fixator atau intramedullary nail yang dapat diatur untuk memisahkan kedua ujung tulang secara bertahap—sekitar 1 mm per hari. Proses ini memungkinkan pertumbuhan tulang baru melalui distraksi osteogenesis, dengan target peningkatan tinggi hingga 15-20 cm dalam beberapa bulan. Pada kasus pria ini, ia berhasil menambah tinggi badan sekitar 12 cm setelah tiga bulan pemulihan intensif. Namun, biaya Rp 2,3 miliar mencakup operasi, rawat inap, alat implan titanium impor, fisioterapi pasca-operasi, dan akomodasi selama enam bulan di Turki. "Saya capek merasa inferior setiap kali bertemu orang tinggi. Ini investasi untuk kehidupan baru," ujarnya dalam wawancara eksklusif dengan detikHealth, mengungkapkan bagaimana pengalaman bullying sejak remaja dan kesulitan berkencan menjadi pemicu utama.
Meski hasilnya memuaskan—kini tingginya mencapai 174 cm—prosedur ini tidak luput dari risiko serius yang patut diwaspadai. Dokter SpOT (Ortopedi dan Traumatologi) dr. Andi Praja, SpOT(K) dari RSCM Jakarta, menjelaskan bahwa komplikasi seperti infeksi, non-union tulang (tulang gagal menyatu), nyeri kronis, dan bahkan kelumpuhan saraf bisa terjadi pada 20-30% pasien. "Ini bukan operasi kosmetik biasa seperti botox atau liposuction. Pasien harus siap dengan rasa sakit ekstrem selama berbulan-bulan dan komitmen rehabilitasi harian," tegasnya. Di Indonesia, operasi semacam ini belum banyak dilakukan karena regulasi ketat dari Kemenkes dan biaya yang melonjak hingga Rp 5 miliar jika dilakukan di rumah sakit lokal dengan standar internasional. Kasus pria ini menyoroti tren global di mana ribuan orang, terutama pria Asia dan Timur Tengah, berbondong-bondong ke Turki atau India untuk prosedur ini, didorong oleh pengaruh media sosial dan selebriti seperti aktor Bollywood yang terbuka tentang transformasi serupa.
Dari sisi psikologis, fenomena ini mencerminkan krisis body dysmorphia di era digital. Psikolog klinis dr. Rina Wijaya, M.Psi, menyoroti bahwa rasa tidak percaya diri akibat tinggi badan sering kali berakar dari standar maskulinitas toksik yang memuja pria tinggi besar. "Banyak klien saya mengeluh soal ini, tapi operasi bukan solusi jangka panjang. Terapi kognitif-behavioral (CBT) lebih efektif untuk membangun self-esteem tanpa mengubah fisik," katanya. Data dari International Society of Aesthetic Plastic Surgery (ISAPS) 2023 menunjukkan lonjakan 25% prosedur limb lengthening di kalangan pria usia 25-40 tahun, terutama pasca-pandemi ketika interaksi virtual memperburuk persepsi diri. Pria Jakarta ini kini merasa lebih percaya diri dalam pekerjaannya sebagai eksekutif pemasaran, bahkan mulai aktif di gym dan dating app, tapi ia mengakui masih ada nyeri sisa dan biaya tambahan untuk follow-up.
Kisah ini mengajak kita merefleksikan ulang obsesi terhadap penampilan fisik di tengah kemajuan medis. Apakah Rp 2,3 miliar untuk tambah 12 cm layak? Bagi sebagian, ini revolusi hidup; bagi yang lain, pengingat bahwa kebahagiaan sejati tak tergantung ukuran tubuh. Saat tren operasi ekstrem terus naik, diperlukan edukasi lebih masif tentang risiko dan alternatif non-invasif seperti terapi hormon untuk kasus medis atau coaching body positivity. Pria ini berpesan, "Jika Anda ragu, pikirkan dua kali. Tapi jika itu mengubah hidup, why not?" Diskusi publik kini bergulir, apakah Indonesia siap menghadapi boom prosedur semacam ini atau justru perlu regulasi lebih ketat untuk lindungi masyarakat dari godaan transformasi instan.