Pemerintah Tutup Sementara 11 Bandara di Papua: Langkah Darurat Hadapi Ancaman Keamanan dari Kelompok Bersenjata
JAKARTA - Dalam langkah darurat untuk menjaga keamanan penerbangan nasional, Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara resmi menutup sementara operasional 11 bandara di wilayah Papua dan Papua Barat mulai Senin (15/7/2026). Keputusan ini diumumkan oleh Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi dalam konferensi pers darurat di Jakarta, menyusul laporan intelijen yang menunjukkan ancaman tinggi dari Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang diduga menargetkan infrastruktur udara vital. Bandara-bandara yang terdampak meliputi Bandara Internasional Sentani di Jayapura sebagai yang terbesar, serta bandara-bandara kecil seperti Bandara Nop Goliat (Yahukimo), Bandara Utarom (Puncak Jaya), Bandara Ayawasi (Sorong), dan delapan lainnya yang tersebar di daerah pegunungan terpencil. Penutupan ini efektif hingga situasi keamanan dinyatakan aman oleh aparat keamanan, dengan estimasi minimal 72 jam awal, meskipun bisa diperpanjang berdasarkan evaluasi lapangan.
Latar belakang penutupan ini tak lepas dari eskalasi konflik keamanan di Papua yang telah berlangsung bertahun-tahun. KKB, yang sering dikaitkan dengan gerakan separatis Organisasi Papua Merdeka (OPM), baru-baru ini meningkatkan serangannya terhadap fasilitas pemerintah, termasuk pembakaran pos polisi dan penyanderaan warga sipil. Pada akhir pekan lalu, intelijen TNI-Polri menerima informasi kredibel tentang rencana KKB untuk menyerang bandara-bandara menggunakan senjata api ringan dan bahan peledak rakitan, dengan tujuan mengganggu logistik militer dan evakuasi korban konflik. "Kami tidak ingin mengulang tragedi seperti penembakan pesawat Susi Air tahun 2021 atau insiden di Bandara Timika sebelumnya. Keselamatan penumpang dan kru adalah prioritas utama," tegas Menteri Budi Karya, yang didampingi Kepala Staf TNI Angkatan Udara Marsekal TNI Mohammad Sidik. Data Kemenhub mencatat bahwa sepanjang 2025, terdapat 17 insiden keamanan di bandara Papua, naik 40% dari tahun sebelumnya, menjadikan wilayah ini zona berisiko tinggi bagi maskapai domestik seperti Garuda Indonesia, Lion Air, dan Wings Air.
Dampak penutupan ini langsung terasa bagi masyarakat Papua yang bergantung pada penerbangan sebagai satu-satunya moda transportasi andal di tengah medan pegunungan yang sulit dijangkau darat. Ribuan penumpang terdampar, termasuk wisatawan, pebisnis tambang nikel dan emas, serta warga yang hendak berobat ke Jayapura atau Makassar. Ekonomi lokal pun terpukul keras; Papua menyumbang 20% produksi nikel nasional, dan penundaan pengiriman logistik bisa merugikan hingga Rp500 miliar per hari, menurut estimasi Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Papua. Seorang pilot Wings Air yang enggan disebut namanya mengeluhkan, "Bandara-bandara kecil ini sudah minim fasilitas, sekarang ditutup total, warga pedalaman seperti di Puncak Jaya bakal kesulitan dapat makanan dan obat-obatan." Pemerintah telah mengerahkan helikopter TNI AU untuk evakuasi darurat dan distribusi bantuan, sementara alternatif transportasi laut dari Sorong ke Manokwari ditingkatkan kapasitasnya.
Respons pemerintah tak berhenti di penutupan semata. Presiden Prabowo Subianto memerintahkan operasi khusus Kodam XVII/Cenderawasih untuk memburu pelaku ancaman, dengan tambahan 500 personel pasukan khusus Kopassus dikerahkan ke wilayah rawan. "Kami akan berikan pendekatan ganda: tegas terhadap teroris, tapi dialog dengan masyarakat adat," ujar Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Budi Gunawan. Sementara itu, maskapai swasta meminta kompensasi dari negara atas rugi penundaan, dan Asosiasi Perusahaan Penerbangan Indonesia (INACP) mendesak percepatan instalasi sistem pertahanan udara seperti radar anti-drone di bandara-bandara tersebut. LSM hak asasi manusia seperti Amnesty International memperingatkan agar operasi militer tidak menimbulkan korban sipil, mengingat sejarah konflik Papua yang telah menewaskan lebih dari 1.000 orang sejak 2010.
Secara lebih luas, penutupan bandara ini menjadi pengingat akan tantangan pembangunan di Papua pasca-otrantik (Otsus Plus) yang digulirkan pemerintahan Jokowi-Prabowo. Meski investasi infrastruktur mencapai Rp100 triliun sejak 2022, konflik keamanan terus menghambat kemajuan. Analis keamanan dari CSIS Indonesia, Philips J. Vermonte, menilai, "Ini momentum untuk reformasi intelijen lokal dan pemberdayaan polisi adat Papua, agar tidak selalu bergantung pada pendekatan militeristik." Hingga berita ini diturunkan, belum ada klaim tanggung jawab dari KKB, tapi situasi dipantau ketat. Pemerintah berjanji bandara akan dibuka secepat mungkin, dengan protokol keamanan baru yang mencakup patroli drone 24 jam dan pemeriksaan penumpang berlapis. Masyarakat diimbau tetap tenang dan mengikuti update resmi dari Kemenhub dan BNPB.