Penempatan TNI di Infrastruktur Tempur Hamas Gaza: Ancaman Multidimensi yang Mengintai Pasukan Garuda
JERUSALEM/GAZA - Keputusan pemerintah Indonesia untuk menempatkan personel Tentara Nasional Indonesia (TNI) di wilayah Gaza yang dikuasai Hamas telah memicu perdebatan sengit di kalangan pakar pertahanan dan politik nasional. Penempatan ini, yang diklaim sebagai bagian dari misi kemanusiaan internasional di bawah naungan PBB untuk bantuan medis dan evakuasi warga sipil, justru menempatkan pasukan Garuda di pusat infrastruktur tempur Hamas. Terowongan bawah tanah yang luas, gudang senjata, dan pusat komando militer kelompok militan tersebut menjadi lokasi operasional utama, di mana TNI bertugas menjaga koridor aman untuk pengiriman bantuan. Namun, langkah ini langsung menuai kritik karena potensi risiko tinggi terhadap keselamatan prajurit kita, di tengah eskalasi konflik antara Israel dan Hamas yang telah menewaskan ribuan nyawa sejak Oktober 2023. Menteri Pertahanan Prabowo Subianto membela keputusan ini sebagai wujud komitmen Indonesia terhadap perdamaian dunia, tetapi para analis memperingatkan bahwa infrastruktur Hamas bukanlah zona netral, melainkan sarang ancaman yang siap meledak kapan saja.
Latar belakang penempatan TNI ini bermula dari resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2720 yang meminta kontribusi internasional untuk gencatan senjata sementara dan distribusi bantuan di Gaza. Indonesia, sebagai negara dengan pengaruh kuas di dunia Islam dan sejarah panjang dalam misi perdamaian seperti UNIFIL di Lebanon, mengirimkan 150 personel TNI AU dan TNI AL yang dilengkapi helikopter medis dan tim medis tempur. Lokasi penempatan di utara Gaza, tepat di sekitar kompleks Rumah Sakit Al-Shifa yang pernah menjadi markas Hamas, menjadikan mereka berdekatan dengan jaringan terowongan sepanjang 500 kilometer yang digunakan untuk serangan roket dan penyergapan. Menurut laporan intelijen IDF (Israel Defense Forces), infrastruktur ini dilengkapi dengan jebakan peledak, senjata anti-tank, dan sistem pertahanan udara primitif yang bisa menargetkan aset asing. Seorang sumber militer Indonesia yang enggan disebut namanya mengungkapkan bahwa TNI telah menerima briefing khusus tentang ancaman ini, termasuk kemungkinan serangan dari faksi Hamas yang radikal seperti Brigade Al-Qassam, yang memandang kehadiran asing sebagai kolaborasi dengan Israel.
Risiko utama yang dihadapi TNI sangatlah multidimensi, mulai dari ancaman langsung hingga implikasi geopolitik jangka panjang. Secara militer, paparan terhadap tembakan artileri Israel yang tak jarang meleset ke zona sipil menjadi momok utama; data PBB mencatat lebih dari 40.000 korban jiwa di Gaza, dengan 70% adalah warga sipil. Selain itu, kemungkinan penyanderaan oleh Hamas—seperti kasus sandera Israel—mengancam personel TNI, terutama karena status netral Indonesia yang dianggap rapuh oleh militan. Pakar intelijen dari Universitas Indonesia, Dr. Andi Widjajanto, menyatakan bahwa "infrastruktur tempur Hamas adalah labirin kematian; satu kesalahan intelijen bisa berujung bencana bagi pasukan kita." Risiko biologis dan kimia juga muncul, dengan laporan tentang penggunaan gas fosfor putih oleh kedua belah pihak, sementara kondisi sanitasi Gaza yang buruk meningkatkan potensi wabah penyakit. Dari sisi domestik, penempatan ini berpotensi memicu protes massa di Indonesia jika terjadi korban jiwa, mengingat sensitivitas isu Palestina di masyarakat.
Pemerintah Indonesia telah mengambil langkah mitigasi dengan membentuk Satuan Tugas Khusus (Satgas Khusus) Gaza yang dipimpin Kolonel Infanteri Budi Santoso, lengkap dengan drone pengintai dan sistem pertahanan rudal portabel. Kerja sama dengan Qatar dan Turki sebagai mediator juga diharapkan dapat menjaga jarak aman dari zona tempur. Namun, oposisi politik seperti PDI-P menyerukan penarikan segera, menyebutnya sebagai "petualangan berbahaya" di bawah kepemimpinan baru Prabowo. Analis internasional dari Council on Foreign Relations, Dr. Sarah Hussein, membandingkan situasi ini dengan misi UNPROFOR di Bosnia 1990-an, di mana pasukan PBB menjadi target karena netralitasnya yang dianggap lemah. Hingga kini, belum ada insiden langsung terhadap TNI, tetapi ketegangan meningkat setelah serangan roket Hamas ke arah selatan Israel yang melewati koridor bantuan.
Implikasi jangka panjang dari penempatan ini bisa mengubah persepsi Indonesia di panggung global. Di satu sisi, ini memperkuat citra Indonesia sebagai aktor perdamaian, sejalan dengan politik luar negeri bebas aktif. Di sisi lain, kegagalan misi berpotensi merusak hubungan dengan negara-negara Arab dan Israel, serta membebani anggaran pertahanan nasional yang sudah defisit. Pakar militer Letjen (Purn) Dodik Wijanarko menekankan perlunya strategi keluar yang jelas: "TNI harus siap rotasi cepat jika situasi memburuk." Saat dunia menanti putaran negosiasi Doha berikutnya, nasib 150 prajurit Garuda di Gaza bergantung pada keseimbangan rapuh antara kemanusiaan dan survival di tengah badai perang. Pemerintah diminta transparan soal update risiko untuk menjaga kepercayaan publik, karena satu nyawa TNI lebih berharga daripada headline internasional mana pun.