Prabowo Siapkan Strategi Hemat BBM dan WFH Massal Hadapi Eskalasi Perang Timur Tengah yang Picu Lonjakan Harga Minyak Global
JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto dikabarkan sedang mempertimbangkan serangkaian kebijakan darurat untuk menghemat konsumsi bahan bakar minyak (BBM) dan mendorong work from home (WFH) secara massal di tengah eskalasi konflik di Timur Tengah yang berpotensi mengganggu pasokan minyak global. Menurut sumber terdekat dari lingkaran pemerintahan yang dikutip CNBC Indonesia, langkah ini diambil sebagai respons antisipatif terhadap potensi kenaikan harga minyak dunia akibat perang yang melibatkan Israel, Iran, dan kelompok Hizbullah. Indonesia, sebagai salah satu importir BBM terbesar di Asia Tenggara, rentan terhadap gejolak harga tersebut, yang bisa memicu inflasi domestik dan tekanan fiskal bagi APBN 2025. Prabowo, yang baru saja dilantik sebagai presiden pada Oktober 2024, menekankan pendekatan pragmatis untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah ketidakpastian geopolitik global.
Eskalasi perang di Timur Tengah, khususnya serangan balasan Iran terhadap Israel pada akhir 2024, telah mendorong harga minyak Brent mencapai level US$80 per barel, naik lebih dari 10% dalam seminggu terakhir. Analis pasar energi dari lembaga seperti Goldman Sachs memprediksi bahwa jika konflik meluas ke Selat Hormuz—jalur vital 20% pasokan minyak dunia—harga bisa melonjak hingga US$100 per barel. Bagi Indonesia, impor BBM mencapai sekitar 500 ribu barel per hari, dengan subsidi BBM dan BBG (bahan bakar gas) yang menelan anggaran hingga Rp500 triliun per tahun. Pemerintah Prabowo khawatir hal ini akan menggerus cadangan devisa dan memicu kenaikan harga transportasi, logistik, serta barang pokok. "Kami sedang menyusun skenario terburuk untuk memitigasi dampaknya," ujar Menteri ESDM Bahlil Lahadalia dalam pertemuan terbatas, meski belum ada konfirmasi resmi dari istana.
Salah satu opsi kebijakan yang sedang digodok adalah penghematan BBM melalui pembatasan penggunaan kendaraan pribadi di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, dan Bandung. Ini mencakup penerapan ganjil-genap ketat, insentif angkutan umum listrik, dan kampanye hemat energi nasional mirip yang dilakukan pada era Jokowi saat pandemi COVID-19. Lebih radikal lagi, pemerintah mempertimbangkan WFH wajib untuk 50% pegawai negeri sipil (PNS) dan sektor swasta selama 3-6 bulan, dengan estimasi penghematan konsumsi BBM hingga 15-20%. Pengalaman WFH selama pandemi membuktikan efektivitasnya: konsumsi BBM turun 12% pada 2020, menurut data BPS. Namun, tantangan muncul dari sektor manufaktur dan ritel yang bergantung pada mobilitas fisik, serta isu infrastruktur internet di daerah pedesaan yang masih terbatas.
Dari sisi fiskal, kebijakan ini juga bertujuan menjaga daya beli masyarakat di tengah potensi inflasi impor. Ekonom senior dari Universitas Indonesia, Dr. Chatib Basri, menilai langkah Prabowo tepat waktu karena bisa mengurangi beban subsidi BBM sebesar Rp100-200 triliun. "Ini bukan hanya soal hemat, tapi juga transisi energi ke BBM nabati dan listrik," katanya. Pemerintah juga berencana diversifikasi sumber impor dari Arab Saudi dan Uni Emirat Arab ke Rusia dan Amerika Serikat untuk mengurangi ketergantungan Timur Tengah. Meski demikian, oposisi dari kalangan industri mengkhawatirkan penurunan produktivitas akibat WFH, sementara publik menunggu pengumuman resmi yang diharapkan dalam rapat kabinet pekan depan.
Secara keseluruhan, kebijakan ini mencerminkan visi Prabowo untuk ekonomi tangguh di era geopolitik bergejolak. Dengan pengalaman militernya, presiden ke-8 RI ini dikenal sigap dalam situasi krisis, seperti saat menangani isu pangan global 2022 sebagai Menteri Pertahanan. Jika terealisasi, program hemat BBM-WFH ini tidak hanya menstabilkan harga domestik tapi juga mempercepat agenda green economy Indonesia menuju target net zero emission 2060. Para stakeholder diimbau tetap waspada, karena perang Timur Tengah masih dinamis dan bisa berubah sewaktu-waktu, memengaruhi roda ekonomi nasional secara mendalam.