Kapolri Apresiasi Luar Biasa Perusahaan di Tangerang yang Beri Pesangon Melimpah untuk Ribuan Buruh
TANGERANG - Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo menyampaikan apresiasi mendalam kepada sebuah perusahaan manufaktur di Kawasan Industri Tangerang yang rela memberikan pesangon jauh di atas standar hukum kepada ribuan buruhnya. Insiden ini terjadi di tengah gelombang penutupan pabrik akibat tantangan ekonomi pasca-pandemi, di mana PT Maju Jaya Industri (nama samaran untuk kerahasiaan) memilih untuk menutup operasionalnya dengan cara yang humanis. Pada acara penyerahan pesangon di aula utama pabrik, Kapolri hadir secara langsung untuk memberikan penghargaan khusus berupa piagam penghargaan dari Kepolisian Republik Indonesia (Polri), menekankan komitmen perusahaan dalam menjaga harmoni hubungan industrial. "Ini adalah contoh nyata bagaimana perusahaan bisa berkontribusi positif bagi masyarakat, bukan hanya mencari untung semata. Pesangon sebesar dua kali lipat dari ketentuan Undang-Undang Ketenagakerjaan ini telah meringankan beban ratusan keluarga buruh," ujar Kapolri di hadapan ratusan buruh yang hadir.
Perusahaan tersebut, yang bergerak di bidang produksi komponen elektronik untuk ekspor, mempekerjakan sekitar 3.500 buruh sebelum memutuskan penutupan massal pada akhir tahun lalu. Alasan utama penutupan adalah penurunan permintaan global akibat resesi ekonomi di negara tujuan ekspor seperti Amerika Serikat dan Eropa, ditambah biaya operasional yang melonjak akibat kenaikan harga bahan baku impor. Meski demikian, manajemen PT Maju Jaya Industri tidak tinggal diam. Mereka mengalokasikan dana pesangon total mencapai Rp150 miliar, dengan rata-rata Rp45 juta per buruh—jauh melebihi minimal satu bulan upah untuk masa kerja di bawah satu tahun atau satu bulan upah per tahun masa kerja sesuai UU No. 13 Tahun 2003 tentang Ketenagakerjaan yang telah diubah. Proses negosiasi dengan serikat buruh berjalan damai tanpa demo atau bentrokan, yang justru mendapat pengawalan ketat dari Polres Tangerang Kota untuk memastikan keamanan. "Kami bersyukur perusahaan ini berpihak pada buruh. Banyak pabrik lain yang PHK seenaknya, tapi ini beda," kata Ketua Serikat Buruh PT Maju Jaya, Budi Santoso.
Kehadiran Kapolri dalam acara ini bukan tanpa alasan strategis. Dalam era ketidakpastian ekonomi seperti sekarang, Polri sering kali turun tangan untuk mencegah potensi kerusuhan sosial akibat pemutusan hubungan kerja (PHK) massal. Data Kementerian Ketenagakerjaan mencatat bahwa sepanjang 2025, terdapat lebih dari 200 ribu buruh ter-PHK di sektor manufaktur Jawa Barat saja, dengan Tangerang sebagai pusat hotspot. Apresiasi Kapolri ini diharapkan menjadi preseden bagi perusahaan lain, sekaligus menguatkan peran Polri sebagai fasilitator tripartit antara pengusaha, buruh, dan pemerintah. "Polri siap mendampingi setiap proses industrial relation yang harmonis. Ini bagian dari strategi Mantan Gubernur Jawa Tengah dalam menjaga stabilitas nasional," tambah Kapolri, merujuk pada programnya sejak menjabat. Selain piagam, perusahaan juga menerima fasilitasi pelatihan vokasi gratis dari Polri bekerja sama dengan Kemnaker untuk membantu buruh beralih profesi.
Dampak dari inisiatif ini langsung terasa di kalangan buruh. Banyak yang menerima pesangon tersebut kini memulai usaha kecil-menengah, seperti warung makan atau jasa las, sementara sebagian lain melanjutkan pendidikan vokasi untuk masuk industri baru seperti energi terbarukan. "Dengan pesangon ini, saya bisa bayar utang dan sekolahin anak. Terima kasih perusahaan dan Pak Kapolri," ungkap salah satu buruh senior, Ibu Siti, yang telah bekerja 15 tahun. Pakar hubungan industrial dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Wijaya, menilai langkah ini sebagai model best practice. "Di tengah revisi UU Cipta Kerja yang kontroversial, inisiatif swadaya seperti ini membuktikan bahwa etika bisnis masih hidup di Indonesia. Namun, pemerintah perlu dorong insentif pajak bagi perusahaan serupa agar tidak jadi beban berat," katanya.
Lebih luas lagi, kasus ini mencerminkan dinamika ekonomi nasional di 2026, di mana sektor manufaktur menghadapi transisi menuju Industri 4.0. Pemerintah melalui Kadin dan Apindo mendorong relokasi pabrik ke daerah lain, tapi tantangan logistik dan skill buruh tetap jadi hambatan. Apresiasi Kapolri tidak hanya simbolis, tapi juga sinyal bagi korporasi bahwa menjaga kesejahteraan buruh adalah investasi jangka panjang untuk citra dan stabilitas sosial. Ke depan, Polri berencana mengadakan forum nasional serupa untuk dishubungkan dengan program Desa Digital, guna ciptakan lapangan kerja baru bagi korban PHK. Dengan demikian, kisah PT Maju Jaya bukan sekadar berita baik, tapi blueprint bagi masa depan hubungan kerja di Tanah Air.