Israel Hancurkan Bunker Rahasia Pemimpin Tertinggi Iran Ali Khamenei dalam Serangan Kilat
TEHERAN/JERUSALEM - Dalam sebuah operasi militer yang mengejutkan dunia, Pasukan Pertahanan Israel (IDF) mengklaim telah berhasil menghancurkan bunker rahasia milik Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, di wilayah pegunungan Alborz dekat Tehran. Serangan ini dilakukan pada dini hari Kamis waktu setempat (Jumat WIB), menggunakan rudal presisi jarak jauh dan drone canggih yang diluncurkan dari wilayah udara Lebanon selatan. Menurut pernyataan resmi dari Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, operasi ini merupakan respons langsung terhadap serangkaian ancaman rudal balistik dari Iran yang menargetkan kota-kota Israel dalam beberapa pekan terakhir. "Kami tidak akan membiarkan rezim Khamenei mengancam keberadaan kami lagi. Bunker itu adalah pusat komando teroris yang menyimpan senjata nuklir potensial," tegas Netanyahu dalam konferensi pers darurat di Kantor Perdana Menteri. Citra satelit yang dirilis IDF menunjukkan lubang besar berdiameter 50 meter di lokasi bunker, dengan puing-puing beton bertulang berserakan dan api masih menyala di reruntuhan.
Operasi yang diberi kode nama "Iron Fist Dawn" ini diduga melibatkan puluhan pesawat F-35I Adir stealth yang menembus pertahanan udara Iran tanpa terdeteksi radar. Sumber intelijen Israel mengungkapkan bahwa bunker tersebut, yang dibangun sejak 2015 dengan biaya miliaran dolar dari anggaran militer Korps Garda Revolusi Islam (IRGC), bukan hanya tempat persembunyian Khamenei saat krisis, tetapi juga fasilitas penyimpanan data rahasia, pusat pengembangan senjata hipersonik, dan markas komando untuk proksi seperti Hizbullah dan Houthi. Penghancuran bunker ini diyakini telah menewaskan sejumlah komandan senior IRGC, termasuk mungkin Khamenei sendiri, meskipun Tehran belum mengonfirmasi statusnya. Media Iran seperti Press TV melaporkan adanya ledakan dahsyat yang mengguncang Tehran, dengan korban jiwa sipil mencapai puluhan orang akibat gelombang kejut. "Ini adalah agresi barbar Israel yang didukung AS, dan kami akan membalas dengan kekuatan penuh," ujar juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran dalam pernyataan awal.
Konflik ini merupakan eskalasi paling dramatis sejak Perang Bayangan Israel-Iran yang berlangsung sejak 2018, ketika Israel mulai menargetkan fasilitas nuklir Iran melalui serangan siber seperti Stuxnet 2.0 dan pembunuhan ilmuwan nuklir. Latar belakangnya kembali ke kesepakatan nuklir JCPOA 2015 yang runtuh pada 2018 di bawah pemerintahan Trump, di mana Iran mempercepat program pengayaan uranium hingga 90% tingkat senjata. Serangan terbaru ini dipicu oleh peluncuran 300 rudal Iran ke Israel pada Oktober lalu, yang menewaskan 12 warga sipil di Tel Aviv. Analis militer seperti dari Institute for National Security Studies (INSS) Israel menyatakan bahwa bunker Khamenei adalah simbol kekuasaan rezim Teheran, dan penghancurannya bisa memicu perang regional. "Iran kehilangan sarang laba-laba mereka; ini mengubah dinamika kekuatan di Timur Tengah," kata pakar Elior Bin-Nun.
Reaksi internasional langsung mengalir deras. Amerika Serikat, melalui Sekretaris Negara Antony Blinken, menyatakan dukungan penuh terhadap hak bela diri Israel sambil mendesak de-eskalasi. "Kami memantau situasi dan siap melindungi sekutu kami," katanya. Rusia dan China mengecam serangan ini sebagai "pelanggaran kedaulatan" dan mengancam sanksi baru terhadap Israel di PBB. Di Eropa, Uni Eropa memanggil sidang darurat, sementara harga minyak Brent melonjak 15% ke US$120 per barel akibat ketakutan penutupan Selat Hormuz. Organisasi seperti Human Rights Watch memperingatkan risiko korban sipil lebih lanjut, sementara kelompok pro-Palestina di seluruh dunia menggelar demonstrasi anti-Israel.
Implikasi jangka panjang dari penghancuran bunker ini bisa mengguncang stabilitas global. Bagi Iran, kehilangan aset strategis ini mungkin memaksa Khamenei—jika masih hidup—untuk mengandalkan jaringan bawah tanah IRGC yang tersebar di Suriah dan Irak, berpotensi meningkatkan serangan asimetris melalui drone kamikaze. Bagi Israel, keberhasilan operasi ini memperkuat posisi Netanyahu di tengah pemilu mendatang, tapi juga berisiko memicu Perang Dunia III versi Timur Tengah. Para diplomat kini berlomba mencari jalan keluar, dengan Qatar dan Oman ditunjuk sebagai mediator potensial. Saat dunia menahan napas, pertanyaan besar tetap: apakah ini akhir dari ancaman Iran, atau awal dari badai yang lebih besar? Pemantauan terus berlangsung dari kedua ibu kota.