Wakil Ketua MPR Desak Publik Tenang Hadapi Isu BBM: Indonesia Hanya Bergantung 20% pada Timur Tengah
Wakil Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) Rianto Abast meminta masyarakat tetap tenang menghadapi isu kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang sempat menjadi sorotan publik belakangan ini. Dalam keterangannya di Jakarta, Senin (15/6/2026), Rianto menegaskan bahwa ketergantungan Indonesia terhadap pasokan minyak dari Timur Tengah hanya sebesar 20 persen dari total kebutuhan nasional. Pernyataan ini disampaikan di tengah kekhawatiran masyarakat akan potensi gangguan pasokan akibat ketegangan geopolitik di kawasan tersebut, termasuk konflik yang melibatkan negara-negara penghasil minyak utama seperti Arab Saudi dan Iran. Rianto menekankan bahwa pemerintah telah melakukan diversifikasi sumber energi secara masif untuk mengurangi risiko tersebut.
Latar belakang isu ini bermula dari fluktuasi harga minyak dunia yang dipicu oleh eskalasi ketegangan di Timur Tengah, di mana harga Brent crude sempat menyentuh 90 dolar AS per barel pada awal Juni 2026. Di Indonesia, hal ini memicu spekulasi kenaikan harga BBM subsidi seperti Pertalite dan Solar, yang menjadi tulang punggung mobilitas jutaan warga. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menunjukkan bahwa konsumsi BBM nasional mencapai 1,7 juta barel per hari, dengan impor mencakup 60 persen dari totalnya. Namun, Rianto menjelaskan bahwa dari seluruh impor tersebut, hanya 20 persen yang bersumber dari Timur Tengah, sementara sisanya berasal dari Rusia, Amerika Serikat, dan negara-negara Asia Tenggara seperti Singapura dan Malaysia. Strategi ini merupakan bagian dari program hilirisasi dan pengembangan Blok Masela di Maluku yang kini mulai berproduksi, mengurangi ketergantungan eksternal secara bertahap.
Rianto Abast, yang juga tokoh senior Partai Golkar, menambahkan bahwa pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto telah menyiapkan stok strategis BBM hingga enam bulan ke depan, jauh di atas standar internasional. "Kita tidak boleh panik. Pemerintah punya data lengkap dan skenario mitigasi. Diversifikasi ini hasil dari diplomasi energi yang gigih selama satu dekade terakhir," ujarnya. Pernyataan ini sejalan dengan laporan Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) yang mencatat peningkatan produksi domestik mencapai 800 ribu barel per hari berkat optimalisasi sumur tua dan eksplorasi baru di Papua dan Sumatera. Meski demikian, ekonom senior dari Universitas Indonesia, Dr. Rhenald Kasali, mengingatkan bahwa meskipun ketergantungan rendah, volatilitas harga global tetap berdampak pada subsidi BBM yang menelan anggaran negara hingga Rp500 triliun per tahun.
Respons publik terhadap pernyataan Waka MPR ini beragam. Di media sosial, tagar #TenangSoalBBM trending dengan ribuan unggahan yang mendukung sikap tenang, meskipun sebagian warga di daerah terpencil seperti Papua dan NTT mengeluhkan ketersediaan BBM lokal yang masih terbatas. Pengamat politik Andi Wijayanto menilai pernyataan Rianto sebagai upaya stabilisasi opini publik di tengah musim politik menjelang Pemilu 2029. "Ini bukan hanya soal energi, tapi juga kepercayaan rakyat terhadap kebijakan pemerintah," katanya. Pemerintah juga berencana meluncurkan program kendaraan listrik nasional (EVN) fase kedua pada 2027, yang diharapkan mengurangi konsumsi BBM hingga 30 persen dalam lima tahun mendatang, dengan insentif baterai dari Korea Selatan dan Cina.
Secara keseluruhan, pernyataan Wakil Ketua MPR ini menjadi pengingat penting akan ketahanan energi nasional di era geopolitik yang tak menentu. Dengan hanya 20 persen ketergantungan pada Timur Tengah, Indonesia berada di posisi yang relatif aman dibandingkan negara-negara Eropa yang bergantung hingga 40 persen. Namun, tantangan ke depan tetap ada, termasuk transisi energi hijau dan pengelolaan subsidi yang berkelanjutan. Masyarakat diimbau untuk mendukung kebijakan pemerintah sambil terus mengawasi transparansi data impor, demi menjaga stabilitas ekonomi domestik yang kini tumbuh 5,2 persen year-on-year.