Menteri Luar Negeri Sugiono Peringatkan Risiko Terburuk Eskalasi Perang AS-Israel-Iran: Ancaman Global yang Menggantung
JAKARTA - Menteri Luar Negeri (Menlu) Sugiono telah mengungkapkan kekhawatiran mendalam mengenai skenario terburuk dari potensi perang terbuka antara Amerika Serikat (AS), Israel, dan Iran, yang menurutnya bisa memicu krisis global berskala belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pidato virtualnya di Forum Diplomasi Asia-Pasifik pada Jumat (15/11/2026), Sugiono menyoroti bagaimana ketegangan yang memuncak di Timur Tengah—dipicu oleh serangan rudal Iran terhadap basis militer Israel dan respons balasan AS—berpotensi meluas menjadi konflik regional yang menyeret kekuatan besar dunia. "Risiko terburuk bukan hanya kehancuran infrastruktur, tapi gelombang domino yang mengancam stabilitas energi global, proliferasi senjata nuklir, dan bahkan perang dunia ketiga," tegas Sugiono, menekankan urgensi diplomasi multilateral untuk mencegah eskalasi lebih lanjut. Pernyataan ini datang di tengah laporan intelijen yang menunjukkan Iran telah memindahkan aset nuklirnya ke lokasi rahasia, sementara AS dan Israel meningkatkan kesiagaan militer di Teluk Persia.
Sugiono merinci skenario terburuk tersebut dengan menganalogikannya sebagai "efek kupu-kupu geopolitik", di mana satu serangan rudal bisa memicu penutupan Selat Hormuz—jalur vital yang mengalirkan 20% minyak dunia—sehingga harga minyak Brent melonjak hingga US$200 per barel dalam hitungan hari. Menurut analisis dari Kementerian Luar Negeri RI yang dikutipnya, hal ini akan memicu inflasi global, resesi ekonomi di negara-negara importir energi seperti Indonesia, dan kelaparan massal di negara-negara berkembang akibat kenaikan harga pangan. "Bayangkan jika Iran menutup selat itu sebagai balasan, AS merespons dengan blokade total, dan Israel melancarkan serangan preventif ke fasilitas nuklir Iran—itu bukan lagi konflik lokal, tapi perang yang mengguncang fondasi tatanan dunia pasca-Perang Dingin," ujarnya. Data dari lembaga think tank seperti RAND Corporation yang disebutkan Sugiono memperkirakan korban jiwa bisa mencapai jutaan, dengan dampak radiasi jika fasilitas nuklir terkena serangan, mirip skenario Chernobyl tapi dikalikan sepuluh kali lipat.
Konteks ketegangan ini tak lepas dari dinamika historis Timur Tengah yang rumit. Sejak Oktober 2023, konflik Israel-Hamas telah berevolusi menjadi proksi war antara Iran—melalui Hizbullah dan Houthi—dengan Barat, ditambah dukungan AS yang tak henti-hentinya untuk Israel. Sugiono menyoroti peran proxy Iran seperti milisi Syiah di Irak dan Yaman yang telah menyerang kapal kargo AS, memaksa Pentagon mengerahkan dua grup kapal induk ke wilayah tersebut. "Iran bukan lagi aktor negara gagal; mereka punya rudal hipersonik dan drone swarming yang bisa menembus pertahanan Iron Dome Israel. AS, dengan superioritas teknologi, tetap rentan terhadap perang asimetris," analisisnya. Ia juga mengkritik kegagalan negosiasi nuklir JCPOA yang runtuh sejak 2018, di mana sanksi AS justru mendorong Teheran mempercepat program uraniumnya hingga 90% pengayaan—ambang batas senjata nuklir.
Sebagai negara non-blok terbesar, Indonesia di bawah kepemimpinan Sugiono menegaskan komitmennya untuk mediasi. "Kami siap memfasilitasi dialog di Jakarta, melibatkan PBB, Uni Eropa, dan Rusia sebagai penyeimbang," katanya, mengingatkan pengalaman sukses Indonesia dalam Konferensi Jenewa 1954. Respons ini mendapat dukungan dari ASEAN, dengan Menlu Malaysia dan Singapura menyatakan kesiapan bergabung. Namun, Sugiono memperingatkan bahwa tanpa intervensi cepat, risiko terburuk—seperti aliansi Iran-Rusia-Cina yang lebih erat—bisa mengubah peta kekuatan global, memaksa negara seperti Indonesia memilih sisi dalam polarisasi Barat-Timur.
Implikasi bagi Indonesia amat nyata: ketergantungan pada impor minyak dari Timur Tengah berarti inflasi BBM hingga 50%, gangguan rantai pasok, dan potensi pengungsi massal dari Lebanon hingga Yaman. Sugiono menyerukan persiapan darurat nasional, termasuk diversifikasi energi ke geothermal dan hidrogen, sambil mendesak Dewan Keamanan PBB mengadopsi resolusi gencatan senjata. Pidatonya ini bukan hanya peringatan, tapi panggilan aksi bagi dunia untuk menghindari mimpi buruk yang bisa menjadi kenyataan dalam semalam, mengingatkan bahwa perdamaian Timur Tengah adalah prasyarat kestabilan global di era 2026 yang penuh gejolak.