Pemerintah Gorontalo Wujudkan Embarkasi Haji Impian dengan Perluasan Bandara Jalaluddin
GORONTALO – Pemerintah Provinsi Gorontalo menandai tonggak sejarah baru dalam pelayanan ibadah haji dengan mewujudkan Embarkasi Haji setempat yang selama ini menjadi impian masyarakat Muslim di wilayah Sulawesi Utara ini. Pada awal 2026, Gubernur Gorontalo, Isran Noor, secara resmi mengumumkan dimulainya proyek perluasan Bandara Internasional Sultan Aji Muhammad Sulaiman Sepinggan—yang lebih dikenal sebagai Bandara Jalaluddin—sebagai bagian integral dari persiapan embarkasi haji. Proyek ini bukan hanya soal infrastruktur, melainkan komitmen nyata untuk memudahkan akses jemaah haji asal Gorontalo, yang selama ini harus berembaruh jauh ke embarkasi tetangga seperti Manado atau Makassar. Dengan anggaran awal mencapai ratusan miliar rupiah dari APBD provinsi dan dukungan Kementerian Perhubungan, perluasan ini diharapkan rampung pada 2027, membuka pintu bagi penerbangan langsung menuju Tanah Suci Mekkah.
Perluasan Bandara Jalaluddin mencakup berbagai aspek teknis yang krusial untuk standar embarkasi haji internasional. Landasan pacu (runway) akan diperpanjang dari 2.500 meter menjadi 3.500 meter, memungkinkan operasi pesawat berbadan lebar seperti Boeing 747 yang biasa digunakan untuk penerbangan haji. Selain itu, terminal penumpang akan ditambah luasnya hingga 15.000 meter persegi, lengkap dengan fasilitas khusus seperti ruang tunggu VIP untuk lansia dan disabilitas, mushala ber-AC, serta klinik kesehatan yang terintegrasi dengan protokol kesehatan pasca-pandemi. "Kami tidak ingin jemaah kita kelelahan sebelum berangkat. Embarkasi ini akan jadi yang terbaik di Indonesia timur," ujar Gubernur Isran Noor dalam konferensi pers di Kantor Gubernur, Senin (15/2/2026). Proyek ini juga melibatkan kontraktor nasional ternama dan konsultan aviasi internasional untuk memastikan kepatuhan terhadap regulasi ICAO (International Civil Aviation Organization).
Manfaat proyek ini tidak hanya terbatas pada musim haji, tetapi juga akan mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara keseluruhan. Gorontalo, dengan populasi Muslim mencapai 80% dari 1,2 juta jiwa, setiap tahun mengirimkan sekitar 1.500 jemaah haji yang kuotanya sering kali terbatas karena keterbatasan akses. Dengan embarkasi lokal, biaya transportasi darat dan udara bisa ditekan hingga 30%, memungkinkan lebih banyak warga miskin dapat berhaji melalui program pemerintah. Selain itu, bandara yang ditingkatkan akan menarik rute penerbangan komersial baru dari Jakarta, Surabaya, dan bahkan destinasi internasional seperti Singapura, berpotensi meningkatkan PAD (Pendapatan Asli Daerah) melalui retribusi penerbangan dan parkir pesawat. Ekonom lokal, Dr. H. Rahman Saleh dari Universitas Negeri Gorontalo, menilai bahwa investasi ini bisa menghasilkan multiplier effect hingga Rp 2 triliun per tahun melalui sektor pariwisata halal dan logistik.
Dukungan pemerintah pusat menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini. Menteri Agama, Nasaruddin Umar, telah menjanjikan alokasi kuota haji tambahan bagi Gorontalo sebesar 500 kursi mulai musim haji 2028, sementara Menteri Perhubungan, Dudy Purwagandhi, memberikan persetujuan sertifikasi bandara pada Desember 2025. Kolaborasi ini mencerminkan strategi nasional "Haji Merata" yang digulirkan Presiden Prabowo Subianto untuk mengurangi disparitas regional dalam pelayanan ibadah. Namun, tantangan tetap ada, seperti isu pembebasan lahan seluas 50 hektar yang melibatkan 200 kepala keluarga, yang telah diselesaikan melalui musyawarah adat dengan kompensasi layak. Pemerintah provinsi juga berkomitmen pada aspek lingkungan dengan penanaman 10.000 pohon endemik untuk mengimbangi deforestasi proyek.
Ke depan, Embarkasi Haji Gorontalo di Bandara Jalaluddin diproyeksikan menjadi model bagi provinsi-provinsi lain di Indonesia timur yang masih bergantung pada pusat-pusat besar. Dengan fasilitas digital seperti check-in online terintegrasi aplikasi Kemenag dan sistem keamanan berbasis AI, embarkasi ini siap menghadapi era haji digital 2030. Bagi masyarakat Gorontalo, ini bukan sekadar bandara yang lebih besar, melainkan simbol keadilan dan kemajuan yang telah lama ditunggu. Saat pekerja alat berat mulai bergerak di runway pada pekan ini, harapan ribuan calon haji pun ikut terbang menuju kenyataan.