Menteri PUPR Bongkar Fakta Lubang Raksasa di Aceh Tengah: Ancaman Alam yang Mengkhawatirkan
TAKENGEN, ACEH TENGAH – Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono mengungkapkan temuan mengejutkan terkait lubang raksasa yang tiba-tiba muncul di lereng bukit Desa Takengen, Kecamatan Beutong, Aceh Tengah. Dalam kunjungan inspeksi langsung pada akhir pekan lalu, Basuki menyatakan bahwa lubang berdiameter sekitar 30 meter dan kedalaman mencapai 20 meter tersebut bukan disebabkan oleh aktivitas manusia semata, melainkan kombinasi faktor geologis dan cuaca ekstrem yang telah lama menggerogoti struktur tanah setempat. "Ini lubang longsor atau sinkhole alami yang dipicu hujan deras berkepanjangan. Kami temukan lapisan tanah lunak di dasar lubang, ditambah akar pohon yang lapuk, membuatnya runtuh secara tiba-tiba," ujar Basuki saat ditemui wartawan di lokasi, seperti dikutip dari Kompas.com. Kejadian ini terjadi pada 15 Oktober 2026, memicu kepanikan warga karena lubang berada hanya 50 meter dari permukiman penduduk dan jalan utama menuju pusat kabupaten.
Temuan mendalam dari tim geoteknik PUPR mengungkap bahwa lubang raksasa ini merupakan bagian dari pola geologis khas wilayah Pegunungan Leuser, di mana batuan karst dan tanah vulkanik rentan terhadap erosi. Basuki menjelaskan, survei drone dan pemindaian georadar menunjukkan rongga bawah tanah yang sudah terbentuk selama bertahun-tahun akibat aliran air tanah bawah permukaan. "Kami identifikasi tiga rongga utama di bawah lubang ini, masing-masing berdiameter 5-10 meter. Ini seperti gua-gua kecil yang runtuh karena saturasi air dari curah hujan mencapai 500 mm dalam seminggu terakhir," tambahnya. Data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendukung pernyataan ini, dengan Aceh Tengah mencatat peningkatan intensitas hujan sebesar 40% dibandingkan musim sebelumnya, yang mempercepat degradasi tanah. Warga setempat, seperti kepala desa Takengen, Muhammad Yunus, mengaku sebelumnya hanya melihat retakan kecil di tanah, yang kini telah melebar menjadi ancaman nyata bagi ratusan jiwa.
Dampak dari lubang ini tidak hanya terbatas pada kerusakan lingkungan, tetapi juga mengganggu aksesibilitas transportasi dan ekonomi masyarakat. Jalan provinsi yang melintasi area tersebut terputus, memaksa warga menggunakan jalur alternatif berlumpur yang rawan longsor. Estimasi kerugian mencapai Rp5 miliar, termasuk pohon jati dan kopi yang roboh ke dalam lubang, yang menjadi sumber mata pencaharian utama petani lokal. Pemerintah daerah Aceh Tengah telah menggelar evakuasi preventif bagi 20 kepala keluarga terdekat, sementara Basuki memerintahkan pemasangan pagar pengaman sementara dan penerangan LED. "Kami prioritaskan stabilitas tanah dengan injeksi semen dan pasang jaring geo-teksil. Tim akan memantau 24 jam untuk mencegah perluasan," tegas Basuki, menekankan komitmen Kementerian PUPR dalam program mitigasi bencana nasional.
Latar belakang kejadian ini menyoroti kerentanan Indonesia terhadap fenomena sinkhole, yang tercatat meningkat 25% dalam dekade terakhir akibat perubahan iklim. Ahli geologi dari Universitas Syiah Kuala, Dr. Cut Intan, menyatakan bahwa Aceh Tengah berada di zona rawan karena sejarah vulkanik Gunung Leuser dan deforestasi yang mengurangi daya serap air tanah. "Ini bukan kasus pertama; pada 2023, lubang serupa muncul di Gayo Lues dengan diameter 15 meter. Perlu kajian ulang peta risiko bencana nasional," katanya. Basuki menambahkan bahwa pemerintah pusat akan mengalokasikan anggaran tambahan Rp50 miliar untuk survei georadar di 10 kabupaten rawan di Sumatra, sebagai bagian dari Rencana Induk Penanganan Bencana 2026-2030.
Langkah jangka panjang yang dijanjikan Menteri PUPR mencakup pembangunan infrastruktur tahan longsor, seperti saluran drainase canggih dan penanaman vegetasi pengikat tanah. Kolaborasi dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) juga direncanakan untuk reboisasi 100 hektar di sekitar lokasi. "Kami tidak boleh reaktif saja; pencegahan adalah kunci. Aceh Tengah akan jadi model pilot untuk teknologi pemantauan IoT berbasis satelit," pungkas Basuki. Hingga berita ini ditulis, situasi terkendali tanpa korban jiwa, meski hujan deras masih mengguyur wilayah tersebut, menambah urgensi respons cepat dari semua pihak.