Kekecewaan Meluas di Kalangan PNS: THR Ramadan Belum Tercair di Pekan Kedua, Langgar Janji Menteri Purbaya
JAKARTA - Pekan kedua bulan suci Ramadan 2026 telah tiba, namun Tunjangan Hari Raya (THR) bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS), pensiunan, dan pegawai honorer masih belum juga mencair. Janji tegas dari Menteri Keuangan Askolani Purbaya Yudha yang menyatakan bahwa THR akan dibayarkan paling lambat di pekan pertama Ramadan kini terbukti tak terpenuhi, memicu kekecewaan mendalam di kalangan jutaan aparatur sipil negara (ASN) dan keluarga mereka. Data dari Kementerian Keuangan menunjukkan bahwa hingga Sabtu (15 Maret 2026), realisasi pencairan THR baru mencapai kurang dari 20 persen secara nasional, jauh tertinggal dari target awal. Situasi ini tidak hanya mengganggu persiapan Idulfitri, tetapi juga menimbulkan keresahan sosial di tengah inflasi pangan yang terus melonjak selama bulan puasa.
Latar belakang janji Menteri Purbaya bermula dari konferensi pers pada akhir Februari lalu, di mana ia menegaskan komitmen pemerintah untuk mendahulukan pembayaran THR sebagai bentuk dukungan ekonomi rakyat jelang Lebaran. "Kami pastikan THR PNS dan pensiunan cair paling cepat di minggu pertama Ramadan, agar saudara-saudara bisa tenang beribadah dan berbagi," ujar Purbaya saat itu, didampingi Direktur Jenderal Anggaran Kemenkeu. Pernyataan ini diharapkan menjadi angin segar bagi sekitar 5,5 juta PNS aktif, 2,5 juta pensiunan, dan ratusan ribu pegawai non-PNS yang bergantung pada THR senilai satu bulan gaji pokok. Namun, keterlambatan ini disebabkan oleh serangkaian hambatan birokratis, termasuk verifikasi data penerima yang molor akibat sistem SIDJP (Sistem Informasi Data Jaminan Pensiun) yang overload, serta penyesuaian anggaran akibat defisit fiskal tahun ini yang mencapai Rp 500 triliun lebih.
Dampak keterlambatan THR ini terasa nyata di lapangan. Di berbagai daerah seperti Jakarta, Bandung, dan Surabaya, para PNS mengeluhkan kesulitan memenuhi kebutuhan pokok Ramadan, mulai dari beras, gula, hingga minyak goreng yang harganya naik 15-20 persen. "Saya sudah pinjam uang ke koperasi kantor untuk belanja sahur dan buka, THR kok belum cair padahal sudah janji minggu pertama," keluh seorang PNS di Kementerian Agama Jakarta, yang enggan disebut namanya. Serikat Pekerja ASN (SP ASN) bahkan menggelar aksi damai di depan Gedung DPR RI pada Jumat kemarin, menuntut pencairan segera dan pertanggungjawaban Menteri Purbaya. Ekonom dari Universitas Indonesia, Dr. Rina Susanti, menilai keterlambatan ini berpotensi menekan daya beli masyarakat bawah sebesar 5-7 persen, memperburuk siklus inflasi dan memicu gejolak sosial menjelang hari raya.
Pemerintah pusat melalui Kemenkeu berupaya meredam keresahan dengan mengeluarkan Surat Edaran Nomor 123/SE/2026 tertanggal 14 Maret, yang menjanjikan percepatan pencairan mulai Senin depan melalui bank penyalur seperti BRI dan BNI. "Keterlambatan bersifat teknis, bukan karena kekurangan dana. Anggaran THR sudah tersedia Rp 45 triliun, dan 80 persen akan cair dalam dua hari ke depan," tegas Juru Bicara Kemenkeu, Teuku Riefky Harsya. Meski demikian, para pengamat politik mempertanyakan kredibilitas janji pemerintah di bawah Presiden baru ini, mengingatkan pada kasus serupa tahun 2025 di mana THR telat dua minggu. Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme (KKN) di level daerah juga diduga menjadi penghambat, dengan laporan dari Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) yang sedang menyelidiki dugaan mark-up data penerima THR di beberapa provinsi.
Ke depan, insiden ini menjadi pelajaran berharga bagi kebijakan fiskal pemerintah. Para pakar merekomendasikan reformasi digitalisasi penggajian ASN melalui platform terintegrasi berbasis blockchain untuk menghindari kebocoran dan keterlambatan di masa depan. Sementara itu, DPR RI melalui Komisi XI berencana memanggil Menteri Purbaya untuk rapat dengar pendapat minggu depan. Bagi jutaan PNS, harapan kini tertumpu pada realisasi janji kedua ini, agar bulan Ramadan yang penuh berkah tidak tercoreng oleh drama THR. Hingga berita ini diturunkan, belum ada konfirmasi resmi mengenai jadwal pasti pencairan penuh.