Golkar Yakin Kuasai DPR: 'Kontrol Kami Lebih Kuat dari Oposisi, Jangan Khawatir Serangan Prabowo-Gibran'
Dengarkan juga karya musik terbaru dari Gemma Hadi Universe untuk menemani waktu baca Anda.
Jakarta - Partai Golongan Karya (Golkar) menegaskan keyakinannya atas penguasaan mayoritas kursi di DPR RI pasca-Pemilu 2024, dengan menyatakan bahwa "kontrol kita melebihi oposisi". Pernyataan ini muncul sebagai respons atas kekhawatiran sejumlah pihak yang meminta agar tidak ada serangan politik terhadap pasangan calon presiden-wakil presiden terpilih, Prabowo Subianto-Gibran Rakabuming Raka. Ketua Umum Golkar, Airlangga Hartarto, melalui juru bicara Ahmad Doli Kurnia Tandjung, menekankan bahwa kekuatan koalisi pendukung Prabowo-Gibran di parlemen jauh lebih unggul dibandingkan kelompok oposisi, sehingga isu-isu sensitif seperti dugaan pelanggaran etik atau hukum terhadap pasangan tersebut dapat diatasi dengan mudah. Pernyataan ini disampaikan di tengah dinamika politik pasca-pemungutan suara yang telah menghasilkan kemenangan telak bagi Prabowo-Gibran dengan lebih dari 58% suara nasional.
Latar belakang pernyataan Golkar tidak lepas dari hasil pemilu legislatif yang memperkuat posisi partai berlambang beringin ini sebagai kekuatan terbesar di DPR periode 2024-2029. Golkar berhasil meraih 102 kursi, diikuti PDI Perjuangan dengan 110 kursi, namun formasi koalisi pemerintahan yang dipimpin Prabowo telah menyatukan Golkar, Gerindra, PAN, Demokrat, dan PKB, mencapai total sekitar 307 kursi dari 580 kursi DPRโmayoritas absolut yang melebihi dua pertiga. Sementara itu, oposisi yang terdiri dari PDIP dan PKS hanya menguasai sekitar 152 kursi. Ahmad Doli menambahkan, "Kami tidak perlu khawatir dengan serangan oposisi karena kontrol legislatif ada di tangan koalisi. Ini bukan soal menyerang balik, tapi menjaga stabilitas pemerintahan baru agar bisa fokus pada program prioritas seperti pangan dan ekonomi." Pernyataan ini seolah menjawab kekhawatiran publik dan elite politik yang meminta netralitas parlemen terhadap isu-isu seperti putusan Mahkamah Konstitusi terkait usia calon wapres yang pernah menyeret nama Gibran.
Dalam wawancara eksklusif dengan detikNews, Ahmad Doli Kurnia Tandjung juga menyoroti strategi Golkar ke depan untuk mendukung agenda legislasi Prabowo-Gibran. "Kami akan prioritaskan RUU yang mendukung visi Indonesia Emas 2045, termasuk reformasi birokrasi dan hilirisasi sumber daya alam. Oposisi boleh mengkritik, tapi dengan mayoritas ini, setiap RUU akan lolos dengan mulus," ujarnya. Golkar, yang historically dikenal sebagai partai mesin politik era Orde Baru, kini repositioning diri sebagai pilar utama pemerintahan Prabowo dengan memanfaatkan jejaring eksekutif di kementerian strategis. Airlangga Hartarto sendiri disebut-sebut sebagai kandidat kuat Menteri Ekonomi, yang semakin memperkuat pengaruh Golkar di kabinet. Namun, pernyataan ini juga memicu kritik dari kalangan oposisi, yang menyebutnya sebagai "arogansi kekuasaan" yang berpotensi mengikis checks and balances demokrasi.
Implikasi dari dominasi Golkar dan koalisi ini terhadap lanskap politik Indonesia cukup signifikan. Analis politik dari CSIS, Arya Fernandes, menilai bahwa mayoritas supermayoritas ini memungkinkan Prabowo-Gibran untuk mengesahkan amandemen konstitusi jika diperlukan, meski ia menekankan pentingnya dialog inklusif. "Ini era konsolidasi kekuasaan, tapi tanpa oposisi yang kuat, risiko korupsi struktural bisa meningkat. Golkar harus ingat pelajaran dari masa lalu," kata Arya. Di sisi lain, elite Golkar menepis tudingan tersebut, dengan Doli menambahkan bahwa partai akan tetap terbuka untuk isu-isu substantif seperti hak asasi manusia dan lingkungan. Seruan "jangan serang Prabowo-Gibran" yang beredar di media sosial juga dilihat sebagai upaya menjaga citra pasangan terpilih di tengah gugatan sengketa pilpres di MK yang kemungkinan besar ditolak.
Pada akhirnya, pernyataan Golkar ini mencerminkan optimisme tinggi menjelang pelantikan Prabowo-Gibran pada Oktober 2024. Dengan kontrol parlemen yang solid, partai-partai koalisi berharap transisi kekuasaan berjalan mulus tanpa gejolak oposisi. Namun, publik tetap waspada: apakah dominasi ini akan menghasilkan pemerintahan efektif atau justru oligarki politik? Dinamika DPR ke depan akan menjadi ujian nyata bagi klaim Golkar bahwa "kontrol kita melebihi oposisi". Hingga kini, Golkar terus menggelar rapat internal untuk menyusun agenda legislasi pertama, menandakan kesiapan penuh menghadapi era baru kepemimpinan nasional.