Eskalasi Ketegangan Timur Tengah: Trump Perintahkan Penambahan Dua Kapal Induk AS untuk Mengkepung Iran
WASHINGTON, 15 November 2026 – Dalam langkah yang semakin mempertajam ketegangan geopolitik di Timur Tengah, Presiden Donald J. Trump telah memerintahkan penempatan dua kapal induk tambahan kelas Nimitz milik Angkatan Laut Amerika Serikat (AS) ke wilayah perairan sekitar Iran. Keputusan ini, yang diumumkan secara resmi oleh Pentagon pada Sabtu malam waktu setempat, menandai eskalasi signifikan dari postur militer AS di Teluk Persia, di mana armada kapal induk AS kini mencapai empat unit – termasuk USS Abraham Lincoln dan USS Dwight D. Eisenhower yang sudah berada di posisi sebelumnya. Pernyataan Trump melalui akun Truth Social-nya menyebutkan, "Iran harus sadar bahwa kami tidak main-main. Perang tinggal sejengkal jika mereka terus provokasi kami dan sekutu kami." Langkah ini datang hanya dua minggu setelah serangan rudal Iran terhadap pangkalan AS di Irak, yang menewaskan tiga tentara AS dan melukai puluhan lainnya, memicu kemarahan di Washington.
Latar belakang konflik ini dapat ditelusuri kembali ke akhir masa kepresidenan Trump pertama pada 2020, ketika pembunuhan Jenderal Qasem Soleimani oleh drone AS memicu gelombang balasan dari Korps Garda Revolusi Iran (IRGC). Setelah kembalinya Trump ke Gedung Putih pada Januari 2025 melalui pemilu yang kontroversial, administrasinya langsung mengadopsi kebijakan "tekanan maksimum" yang lebih agresif terhadap Teheran. Sanksi ekonomi yang melumpuhkan ekspor minyak Iran telah dikombinasikan dengan latihan militer bersama Israel dan Arab Saudi, termasuk simulasi serangan terhadap fasilitas nuklir Iran. Menurut laporan intelijen AS yang bocor ke media, Iran diduga telah memperkaya uranium hingga 90% – tingkat senjata – di situs bawah tanah Fordow, melanggar kesepakatan nuklir JCPOA yang runtuh sepenuhnya pada 2023. Penambahan kapal induk ini bukan hanya respons defensif, melainkan sinyal ofensif: setiap kapal induk membawa hingga 75 pesawat tempur F/A-18 Super Hornet dan skuadron drone MQ-25 Stingray, mampu melancarkan 120 sorti udara per hari untuk mendominasi udara Teluk Persia.
Secara strategis, penempatan kapal induk baru ini – USS Gerald R. Ford dan USS John F. Kennedy – akan membentuk "cincin baja" di sekitar Iran, dengan posisi di Laut Arab, Selat Hormuz, dan Teluk Oman. Analis militer dari Institute for the Study of War (ISW) menyatakan bahwa armada ini dapat memblokade 20% pasokan minyak dunia melalui Selat Hormuz, yang 80% lalu lintasnya berasal dari Teluk Persia. "Ini adalah demonstrasi kekuatan total," kata Jack Watling, pakar pertahanan dari Royal United Services Institute (RUSI). "Iran akan kesulitan menembus pertahanan Aegis destroyer yang melindungi kapal induk, meskipun mereka punya rudal hipersonik Fateh-110." Trump juga mengumumkan peningkatan bantuan militer ke Israel senilai USD 5 miliar, termasuk sistem Iron Dome versi laut, untuk mengantisipasi serangan balasan dari proksi Iran seperti Hizbullah di Lebanon dan Houthi di Yaman.
Reaksi internasional terhadap manuver AS bervariasi. Rusia dan China, sekutu dekat Iran, mengecam keras melalui PBB, dengan Moskow mengirim fregat ke Laut Kaspia sebagai respons simbolis. Presiden Rusia Vladimir Putin menyatakan, "AS memprovokasi perang dunia ketiga demi minyak." Sementara itu, Uni Eropa mendesak de-eskalasi melalui saluran diplomatik, meskipun Jerman dan Prancis diam-diam mendukung sanksi tambahan. Di kawasan, Arab Saudi dan UEA menyambut baik, dengan Riyadh mengonfirmasi latihan bersama "Thunder Strike" mulai minggu depan. Iran sendiri merespons dengan uji coba rudal balistik Sejjil yang mampu mencapai Israel, dan Pemimpin Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei memperingatkan "samudra darah" jika AS menyerang.
Implikasi dari eskalasi ini berpotensi mengguncang stabilitas global. Harga minyak Brent melonjak 15% menjadi USD 120 per barel dalam 24 jam terakhir, memicu kekhawatiran inflasi di AS dan Eropa. Ekonom dari Goldman Sachs memproyeksikan bahwa blokade Hormuz bisa menaikkan harga hingga USD 200, memicu resesi global. Di sisi politik domestik, langkah Trump mendapat dukungan kuat dari Partai Republik, dengan Senator Lindsey Graham menyebutnya "kepemimpinan sejati," sementara Demokrat seperti Nancy Pelosi menuduhnya "bermain api untuk pemilu midterm." Para ahli memperingatkan bahwa meskipun AS unggul secara teknologi, perang konvensional dengan Iran bisa berlarut-larut seperti Afghanistan, dengan korban sipil tinggi dan risiko nuklir. Saat ketegangan mendekati titik didih, dunia menahan napas: apakah ini gertakan Trump atau awal dari konflik terbesar abad ke-21?