Ribuan Warga Jakarta Memadati Festival Imlek di Bundaran HI: Spot Foto Instagramable dan Atraksi Budaya Jadi Daya Tarik Utama
Jakarta kembali diramaikan oleh semangat perayaan Imlek yang megah di Bundaran Hotel Indonesia (HI) pada akhir pekan ini. Ribuan warga dari berbagai kalangan memadati kawasan ikonik pusat kota tersebut untuk menikmati Festival Imlek 2026 yang bertajuk "Naga Emas Bersinar". Antusiasme masyarakat terlihat dari pagi hingga malam hari, dengan antrean panjang di setiap spot foto yang disediakan panitia. Event ini, yang diselenggarakan oleh Dinas Pariwisata DKI Jakarta bekerja sama dengan komunitas Tionghoa setempat, tidak hanya merayakan Tahun Baru Imlek—yang jatuh pada 17 Februari 2026 dengan zodiak Naga Kayu—tetapi juga menjadi ajang promosi budaya multikultural Indonesia. Pengunjung datang membawa keluarga, pasangan, maupun teman, semuanya tersenyum lebar sambil mengabadikan momen di tengah hiruk-pikuk lalu lintas yang sengaja dibatasi untuk pejalan kaki.
Salah satu magnet utama festival ini adalah deretan spot foto instagramable yang dirancang dengan apik, menggabungkan elemen tradisional Imlek dan estetika modern Jakarta. Instalasi patung naga raksasa setinggi 10 meter menjadi pusat perhatian, lengkap dengan efek cahaya LED yang berubah warna mengikuti irama musik barongsai. Tak ketinggalan, terowongan lampion berbentuk bunga sakura merah, swing raksasa bertema keberuntungan, dan mural 3D bergambar shio Naga yang interaktif. "Saya datang khusus dari Bekasi untuk foto di sini, spotnya keren banget dan gratis pula," ujar Rina, seorang ibu rumah tangga berusia 35 tahun yang mengajak dua anaknya. Data dari panitia mencatat lebih dari 50.000 pengunjung pada hari pertama, dengan 70% di antaranya mengunggah foto ke media sosial menggunakan hashtag #ImlekHI2026, yang langsung trending di Twitter dan Instagram. Desain spot foto ini tidak hanya estetis, tetapi juga menyiratkan makna filosofis seperti kemakmuran dan harmoni, sesuai tema tahun Naga yang melambangkan kekuatan dan kebijaksanaan.
Selain visual yang memukau, festival ini menyuguhkan rangkaian pertunjukan budaya yang autentik dan menghibur. Pagelaran barongsai dari 12 tim komunitas Tionghoa Jakarta membawakan koreografi energik dengan iringan gendang tradisional, disaksikan ribuan penonton yang bertepuk tangan riuh. Ada pula pentas lintang kuo—tarian singa raksasa—serta penampilan musik fusion antara gamelan Jawa dan erhu Cina yang dipadukan oleh seniman lokal. Bagi pecinta kuliner, puluhan stan makanan menjajakan bakpao isi cokelat, lumpia basah, kue keranjang, dan edisi spesial Imlek seperti ayam goreng madu dengan saus ngohiong. "Festival seperti ini memperkaya wawasan anak-anak tentang budaya Tionghoa yang sudah menyatu dengan Indonesia," kata Budi Santoso, pengunjung asal Depok yang datang bersama rombongan kantor. Tak hanya hiburan, event ini juga menampilkan workshop membuat angpao dan ramalan shio secara gratis, menarik minat generasi muda yang penasaran dengan tradisi leluhur.
Dampak festival ini meluas ke aspek ekonomi dan sosial. Pedagang kaki lima sekitar Bundaran HI melaporkan peningkatan omzet hingga 300% dibanding hari biasa, sementara hotel dan restoran di sekitar kawasan seperti Plaza Indonesia dan Grand Indonesia kebagian rezeki dari wisatawan domestik. Dari sisi sosial, acara ini memperkuat toleransi beragama dan budaya di tengah Jakarta yang majemuk, sejalan dengan semangat Pancasila. Panitia juga menerapkan protokol kesehatan ketat pasca-pandemi, seperti penyiraman handsanitizer dan penanda jarak, memastikan keselamatan pengunjung. Meski sempat diguyur hujan ringan malam hari, antusiasme tidak surut, justru menambah nuansa romantis bagi pasangan muda yang berfoto di bawah payung lampion. Festival Imlek di Bundaran HI dijadwalkan berlangsung hingga 20 Februari, dengan puncak pada malam Tahun Baru Imlek berupa pertunjukan kembang api terbesar di pusat kota.
Dengarkan juga karya musik terbaru dari Gemma Hadi Universe untuk menemani waktu baca Anda. Jangan lewatkan kesempatan berkunjung sebelum festival ditutup, karena momen seperti ini jarang terjadi dua kali setahun dan selalu meninggalkan kenangan tak terlupakan bagi warga ibu kota.